Pilu Postingan Evia Maria Mahasiswi Manado Sebelum Tewas, ke Pantai & Beri Kado Natal untuk Mama
January 03, 2026 05:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Unggahan terakhir Evia Maria Mangolo, mahasiswi Universitas Negeri Manado (UNIMA) yang tewas secara mengenaskan, kini menjadi perhatian luas publik.

Perhatian tersebut muncul lantaran sebelum meninggal dunia, Evia Maria sempat mengungkap dugaan perilaku bejat seorang dosen.

Kematian mahasiswi berusia 21 tahun itu mendadak viral dan ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial.

Banyak pihak menyoroti kasus ini karena Evia Maria diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh dosen berinisial DM.

Setelah berani membongkar dugaan perlakuan tidak pantas sang dosen, Evia Maria justru ditemukan meninggal dunia.

Ia ditemukan tak bernyawa di kamar kosnya yang berada di kawasan Kaaten, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, pada Selasa (30/12/2025).

Kabar duka tersebut langsung memicu tanda tanya besar mengenai penyebab pasti kematian Evia Maria.

Sebagian pihak menyebut Evia Maria meninggal dunia akibat depresi yang membuatnya mengakhiri hidup sendiri.

Namun, dugaan tersebut kembali disorot setelah diketahui bahwa Evia Maria sempat aktif di media sosial sebelum wafat.

Beberapa hari sebelum meninggal, Evia Maria bahkan sempat mengunggah sejumlah postingan dan menulis surat.

Baca juga: Sosok Mahasiswi Meninggal di Indekos Tomohon Sulut, Tak Ada Tanda Kekerasan, Keluarga Tolak Otopsi

KASUS MAHASISWI UNIMA - Evia Maria Mangolo, mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNIMA, sempat tulis pesan terakhir sebelum bunuh diri, diduga depresi dilecehkan dosen.
KASUS MAHASISWI UNIMA - Evia Maria Mangolo, mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNIMA, sempat tulis pesan terakhir sebelum bunuh diri, diduga depresi dilecehkan dosen. ((Ist))

Unggahan terakhir tersebut sempat dilihat oleh pihak keluarga, termasuk sang tante bernama Ketsia.

Kepada awak media, Ketsia mengungkapkan cerita tentang aktivitas Evia Maria di media sosial sebelum ditemukan tewas.

Ia menjelaskan bahwa sebelum tanggal 25 Desember 2025, Evia Maria sempat mengunggah momen saat mandi di pantai bersama adiknya.

Tak lama berselang, unggahan lain memperlihatkan kebahagiaan Evia Maria setelah berhasil menyelesaikan program KKN.

Selain itu, Evia Maria juga membagikan unggahan tentang kado Natal yang ia siapkan untuk sang ibu.

"Ia unggah sesuatu seperti kertas, mungkin tanda berhasil menyelesaikan KKN dan menulis kado natal untuk mama (Maria)," ujar Ketsia.

Menurut keluarga, Evia Maria sebenarnya berencana pulang ke rumah untuk merayakan Natal bersama orang tercinta.

Namun rencana tersebut akhirnya batal karena kendala tiket perjalanan.

Evia Maria pun memutuskan untuk tetap tinggal di kamar kosnya hingga mendekati pergantian tahun.

Beberapa hari setelah Natal berlalu, keluarga dikejutkan oleh kabar bahwa Evia Maria ditemukan meninggal dunia.

"(Maria) tidak jadi (pulang ke rumah) karena tidak dapat tiket," imbuh Ketsia.

Baca juga: Maria Mahasiswi UNIMA Tulis Pesan Pilu di Tembok Sebelum Tewas Gantung Diri, Singgung Ortu & Trauma

MAHASISWI KORBAN PELECEHAN: Postingan terakhir Evia Maria Mangolo, mahasiswi asal Manado sebelum tewas memilukan belakangan disorot. Korban sempat bongkar kebejatan dosen.
MAHASISWI KORBAN PELECEHAN: Postingan terakhir Evia Maria Mangolo, mahasiswi asal Manado sebelum tewas memilukan belakangan disorot. Korban sempat bongkar kebejatan dosen. (TikTok)

Surat terakhir

Pada tanggal 16 Desember 2025, Maria membuat surat aduan untuk pihak kampus guna melaporkan tindakan bejat sang dosen berinisial DM.

Dalam surat tersebut, Maria menceritakan kronologi dugaan pelecehan seksual yang ia alami yang dilakukan oleh DM pada tanggal 12 Desember 2025.

"Saya mengajukan laporan terkait dengan tindak pelecehan yang dilakukan oleh DM," tulis Maria.

Dihimpun TribunnewsBogor.com, di dalam surat tersebut, Maria menceritakan awal mula dugaan pelecehan itu ia terima dari sang dosen.

Mulanya Maria diminta sang dosen untuk masuk ke mobilnya yang ada di parkiran.

Maria yang merupakan mahasiswi semester akhir pun akhirnya menuruti perintah DM atau yang karib ia sapa dengan sebutan mner.

Dari sanalah Maria mulai mengalami kejadian mengejutkan.

"Beliau memaksa saya untuk duduk di depan, saya menolak perintah tersebut, di situ saya mulai ragu dengan mner saya takut diapa-apain sama beliau. Beliau memaksa saya pindah di depan dengan melangkah saja, posisi saya pakai rok," ungkap Maria.

Selama di dalam mobil bersama DM, Maria merasa gusar dan tak nyaman.

Terlebih saat sang dosen menggerayangi tubuhnya tanpa izin.

"Setelah saya sudah di depan, mobilnya jalan lagi sampai depan prodi psikologi, di situ beliau sudah menurunkan sedikit kursinya seperti berbaringm, saya disuruh urut. Saya bilang nda tau ba urut (tidak bisa urut). Dikasih contoh oleh mner begini sapu-sapu saja (posisi tangannya sudah mengusap-usap belakang saya). Semakin tidak nyamannya saya tangan beliau tanpa izin dia meletakannya di paha saya sambil bicara kalau urut itu enaknya sambil tidur," ujar Maria.

Tak cuma itu, Maria bahkan diduga mendapatkan pelecehan verbal.

Yakni sang dosen sempat mengajaknya berbincang hal-hal dewasa soal jika mereka menginap satu kamar.

Mendengar ucapan sang dosen, Maria sontak menangis.

"Saya bilang mner ini sudah kelewatan tapi dengan pikirannya yang biadap beliau hanya berkata 'nda apa apa torang manusia semua pasti ada kesalahan, jadi kalau sudah terjadi ya terjadi no'. Di situ saya semakin jijik dan sudah tidak tahan dikurung dalam mobil," kata Maria.

Namun saat Maria menangis, dosen DM justru kian nekat.

Maria mengaku mendadak pipinya dicium oleh sang dosen.

"Beliau bertanya bisa mo dicium, saya bilang tidak mner ini sudah lewat batas. Saya sudah takut sambil menangis tapi saat saya menangis beliau tidak melihat. Tiba-tiba beliau sudah menarik pipi untuk diciumnya (mencium saya). Posisi tangan kiri saya pakai untuk menutup mulut saya dan tangan kanan saya mendorong mner. Terus dia bilang 'bibir nda'. Saya bilang tidak mau," imbuh Maria.

Usai kejadian tersebut, Maria tampak syok hingga akhirnya ia menulis surat aduan untuk pihak kampus.

Keluarga tak terima

Atas kematian Maria yang mendadak dan tak terduga, keluarga tak lantas menerimanya.

Ketsia menceritakan temuan mengejutkan soal kematian sang ponakan.

Keluarga syok menemukan adanya tanda tak biasa di jenazah Maria.

Hal itulah yang mendorong keluarga akhirnya meminta agar jenazah Maria diotopsi.

"Ada tanda biru seperti tanda seperti luka," pungkas Ketsia dilansir dari Tribun Manado, Jumat (2/1/2026).

Tanda luka itu terdapat di pinggang kiri dan di paha atas jenazah korban.

Permintaan keluarga korban agar jenazah Maria diotopsi itu berkaitan dengan laporan kepolisian yang dibuat oleh keluarga.

Pihak keluarga akhirnya membawa kasus kematian Maria itu ke ranah kepolisian.

(TribunNewsmaker.com/ TribunnewsBogor)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.