Akses jalan berada di depan kantor BRI lama, Jorong Pasa Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.
Kemudian meluapnya aliran sungai membuat terganggunya akses jalan utama Padang-Painan di Nagari Duku, Pesisir Selatan.
Baca juga: Banjir Bandang November 2025 di Nanggalo Buat Erizal Trauma: Seperti Tsunami, Datang Tiba-tiba
Selanjutnya, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, melepas sebanyak 400 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (Unand) yang akan ditugaskan sebagai tim verifikasi rumah terdampak bencana hidrometeorologi di 13 kabupaten dan kota di Sumbar.
1. Jalur Lubuk Basung-Maninjau Putus Total, Material Banjir Bandang Setebal 1 Meter Tutup Jalan
Akses lalu lintas dari Lubuk Basung menuju Maninjau, tepatnya berada di depan kantor BRI lama, Jorong Pasa Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat tidak bisa dilewati kendaraan hingga Jumat (2/1/2025).
Diketahui, akses jalan tersebut tertutup oleh material banjir bandang yang terjadi pada Kamis (1/1/2025) sekira pukul 01:45 WIB.
Kabid Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Agam, Abdul Ghafur mengatakan bahwa kondisi arus lalu lintas dari Lubuk Basung-Maninjau tidak bisa dilalui kendaraan pasca tertutup material banjir bandang.
Baca juga: Jalan Nyaris Putus di Balai Gadang Padang Akibat Tergerus Air Sungai Usai Hujan lebat
"Akses jalan Lubuk Basung-Bukittinggi di depan BRI lama, Jorong Pasa Nagari Maninjau, tidak bisa dilewati kendaraan karena tertutup material banjir bandang," ungkapnya.
Ia menjelaskan, banjir bandang di daerah tersebut terjadi pada Kamis (1/1/2025) dini hari usai malam pergantian tahun baru 2026.
"Kejadian banjir bandang sekitar pukul 01:45 WIB, Kamis dini hari kemarin," pungkas Abdul Ghafur.
Sementara itu kata Abdul, material banjir bandang yang menutupi badan jalan berkisar dengan panjang sekitar 70 meter.
"Kira-kira panjang material yang menutupi badan jalan sepanjang 70 meter dan ketebalan lebih dari 1 meter," sebutnya.
Di sisi lain, saat sekarang di lokasi kejadian, kondisi cuaca terpantau hujan ringan dan arus sungai cukup deras.
"Di lokasi masih hujan ringan dan arus air sungai cukup deras saat ini," tambahnya.
Baca juga: Longsor di Sitinjau Lauik Ganggu Arus Lalu Lintas Padang–Solok hingga Menyebabkan Kemacetan
Kendati demikian, untuk saat sekarang, alat berat dari PSDA Provinsi Sumbar sudah mulai melakukan pembersihan material banjir bandang.
"Satu unit ekscavator dari PSDA Provinsi sudah di lokasi untuk melakukan pengerjaan," sambungnya.
Pasar Maninjau Berkali-kali Dihantam Banjir Bandang
Banjir bandang beserta tanah longsor menerjang kawasan Pasar Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat sebanyak lima kali pada Kamis (1/1/2026).
Meski terjadi lima kali hingga siang hari, BPBD Agam memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Bencana alam ini menghantam pemukiman warga sesaat setelah malam pergantian tahun baru, tepatnya sekira pukul 01.45 WIB.
Baca juga: Banjir Terjang Pasar Lalang Padang, 17 KK Mengungsi ke Masjid dan Musala Terdekat
Kabid Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Agam, Abdul Ghafur mengonfirmasi bahwa banjir bandang dan longsor tersebut terjadi berulang kali sejak dini hari hingga Kamis siang.
Petugas mencatat ada dua kali kejadian besar pada dini hari dan tiga kali susulan yang terjadi saat pagi hari.
Abdul Ghafur yang saat itu berada di lokasi mengatakan, sebelumnya banjir bandang dan longsor di daerah tersebut sudah terjadi beberapa kali.
"Sudah terjadi beberapa kali, kita tidak hitung jumlahnya. Khusus Kamis dini hari sampai siang ini, tercatat sebanyak lima kali," ucapnya saat dikonfirmasi.
Ia menerangkan, total banjir bandang beserta longsor sejak Kamis dini hari hingga siang.
Kata Abdul, sebanyak dua kejadian banjir bandang beserta longsor terjadi pada Kamis dini hari.
"Sedangkan dari pagi hingga siang, terjadi tiga kali longsoran," pungkasnya.
"Longsor terjadi kembali saat petugas melakukan pembersihan material di lokasi," sambungnya.
Kendati demikian, untuk saat sekarang, longsor sudah berhenti. Namun, potensi longsor susulan masih ada.
"Untuk potensinya masih ada, karena masih ada material tertahan di beberapa titik arah ke hulu," sambung Abdul.
Bunyi Gemuruh
Melalui keterangan Kabid Kedaruratan dan Logistik (Kabid KL) BPBD Agam, Abdul Ghafur membenarkan terkait banjir bandang yang menerjang Pasar Maninjau itu.
"Benar, kejadiannya pada Kamis dini hari, saya kebetulan di lokasi sekira pukul 01:45 WIB," ungkapnya saat dikonfirmasi via telepon whatsapp.
Ia menjelaskan, sebelum banjir bandang menerjang, terdengar bunyi gemuruh yang cukup keras, sehingga ia bersama masyarakat lainnya berlarian ke tempat aman.
Baca juga: Banjir Rendam Dadok Tunggul Hitam, BPBD Padang Evakuasi Delapan Warga
"Warga nagari Maninjau termasuk saya yang juga berada di lokasi langsung berhamburan keluar bangunan," jelasnya.
Kata Abdul, bunyi gemuruh pertama yang terdengar sekira pukul 01:45 WIB dan terdapat susulan-susulan lainnya.
"Pas gemuruh pertama, kami berlarian ke bawah, tapi batu besar yang terbawa banjir bandang masih tertahan," pungkasnya.
Sampai saat sekarang ujar Abdul, pihaknya sedang berada di lokasi untuk melakukan peninjauan kembali.
Baca juga: Akses Lumpuh Akibat Jalan Kapalo Koto–Lambung Bukik Putus 15 Meter, BPBD Pastikan Tak Ada Korban
Sementara, akibat banjir bandang tersebut, membuat beberapa rumah ikut terdampak.
"Untuk datanya kita belum bisa berikan, masih dalam tahap pendataan," katanya.
"Sedangkan untuk korban jiwa tidak ada, warga juga sudah dievakuasi ke tempat aman," tambahnya.
2. Banjir Rendam Nagari Duku, Jalan Padang–Painan Tak Bisa Dilalui Sejak Sore
Akses jalan utama Padang–Painan di Nagari Duku, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, hingga Jumat (2/1/2025) malam masih belum dapat dilalui akibat banjir yang merendam badan jalan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pesisir Selatan, Mulyandri Dt. Rajo Intan, mengatakan banjir mulai menutup akses jalan tersebut sejak sore hari setelah debit air sungai di sekitar lokasi meluap.
“Jalan tidak bisa dilewati setelah salat Ashar, sekitar pukul 15.30 WIB,” kata Mulyandri Dt. Rajo Intan kepada TribunPadang.com.
Baca juga: Dipicu Curah Hujan Tinggi, Jalan Padang-Painan di Nagari Duku Terendam, BPBD: Daerah Rawan Banjir
Ia menjelaskan, banjir dipicu oleh curah hujan deras dengan durasi cukup panjang yang mengguyur wilayah Pesisir Selatan.
Kondisi itu menyebabkan debit air meningkat hingga menutup badan jalan nasional Padang–Painan.
“Curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama membuat debit air naik dan akhirnya menutup akses jalan,” ujarnya.
Hingga saat ini, kata Mulyandri, arus air di lokasi masih cukup dalam dan deras sehingga kendaraan belum berani melintas.
“Sampai sekarang belum bisa dilewati. Kedalaman air masih cukup tinggi dan arusnya deras, sehingga pengendara tidak berani melintas,” jelasnya.
Baca juga: Banjir Rendam Pasar Lalang Kuranji, Kantor SAR Padang Kerahkan Petugas Evakuasi Warga
Akibat kondisi tersebut, sebagian pengendara memilih memutar balik untuk mencari jalur alternatif, sementara lainnya bertahan di sekitar lokasi sambil menunggu air surut.
“Ada yang sudah putar balik, ada juga yang masih menunggu di lokasi,” ungkapnya.
BPBD Kabupaten Pesisir Selatan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak memaksakan diri melintasi jalur tersebut, mengingat intensitas hujan masih tinggi dan kawasan tersebut rawan banjir.
“Kami mengimbau warga agar tetap berhati-hati. Daerah ini memang rawan banjir, apalagi curah hujan masih tinggi,” tutup Mulyandri.
3. Gubernur Mahyeldi Lepas 400 Mahasiswa KKN Unand untuk Verifikasi Rumah Terdampak Bencana di Sumbar
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah melepas sebanyak 400 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (Unand) yang akan ditugaskan sebagai tim verifikasi rumah terdampak bencana hidrometeorologi di 13 kabupaten dan kota di Sumbar.
Mahasiswa tersebut akan melakukan pendataan dan verifikasi kondisi rumah warga terdampak bencana sebagai bagian dari tahapan penyusunan dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Provinsi Sumbar.
Dalam pelaksanaannya, Gubernur Mahyeldi menjelaskan para mahasiswa akan didampingi oleh tim teknis dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD setempat, serta mendapat pengawalan dari Bintara Pembina Desa (Babinsa) di masing-masing wilayah terdampak.
Baca juga: Rumah dan Sawah di Pasar Lalang Padang Diterjang Banjir, Warga Dievakuasi Petugas
“Proses verifikasi ini kita targetkan selesai pada 9 Januari 2026,” ujar Mahyeldi, Jumat (2/1/2026).
Ia menegaskan, hasil verifikasi di lapangan akan menjadi dasar utama dalam penyusunan dokumen R3P.
Oleh karena itu, Mahyeldi berharap pendataan dilakukan secara cermat dan menghasilkan data yang akurat, objektif, serta dapat dipertanggungjawabkan.
“Untuk menjaga kelancaran sekaligus meminimalisir potensi intervensi, tim verifikasi akan didampingi Babinsa. Selain itu, para mahasiswa juga telah dibekali petunjuk teknis sebelum turun ke lapangan,” katanya.
Mahyeldi juga mengapresiasi dukungan BNPB serta Universitas Andalas dalam percepatan penanganan bencana di Sumbar.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat segera dilaksanakan.
“Dengan sinergi yang kuat, kita berharap rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan lebih cepat sehingga semangat ‘Sumbar Bangkit’ pascabencana benar-benar terwujud,” ujarnya.
Baca juga: Tak Bisa Tidur Semalaman, Mulyadi Warga Kapalo Koto Cemas Jalan Depan Rumah Terancam Putus
Sementara itu, Sekretaris Utama (Sestama) BNPB Rustian menyampaikan bahwa berdasarkan data BNPB, tidak ada satu pun wilayah di Indonesia yang sepenuhnya bebas dari risiko bencana, termasuk Sumatera Barat.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pemahaman kebencanaan secara menyeluruh oleh seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pra-bencana, masa tanggap darurat, hingga pascabencana.
Rustian juga menyebutkan, dari tiga provinsi yang terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir November lalu, Sumatera Barat termasuk daerah yang relatif cepat keluar dari status tanggap darurat.
“Dari 13 daerah di Sumbar yang sempat menetapkan status tanggap darurat, saat ini 12 daerah telah memasuki masa transisi menuju rehabilitasi dan rekonstruksi. Kabupaten Agam masih menjadi satu-satunya daerah yang berstatus tanggap darurat,” ungkapnya.
Ia menegaskan, penanganan kebencanaan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan harus melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
Baca juga: FOTO Banjir Terjang Pasar Lalang Padang, Warga Dievakuasi Petugas
“Kolaborasi dan sinergi lintas sektor menjadi keharusan dalam penanganan kebencanaan,” tegas Rustian.
Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi berpesan kepada para mahasiswa agar melaksanakan pendataan sesuai dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan BNPB.
“Ketepatan dan kecepatan pendataan sangat dinantikan masyarakat, karena ada ribuan warga terdampak yang berharap segera mendapatkan kepastian,” pungkasnya.(*)