TRIBUNTRENDS.COM - Terungkap dugaan modus yang dilakukan seorang dosen Universitas Negeri Manado (UNIMA) terhadap mahasiswinya, Evia Maria Mangolo, sebelum korban ditemukan meninggal dunia.
Sebelumnya dikirimi chat oleh dosen, Evia diduga mengalami tekanan psikologis akibat pelecehan yang dialaminya.
Evia Maria ditemukan tak bernyawa di kamar kosnya di kawasan Kaaten, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, pada Selasa (30/12/2025). Kematian mahasiswi tersebut menimbulkan kecurigaan pihak keluarga karena dinilai tidak wajar.
Baca juga: Sempat Minta Damai, Karier 33 Tahun Hancur, Dosen yang Ludahi Kasir Dipecat UIM dan Disanksi LLDIKTI
Kecurigaan keluarga muncul setelah menemukan sejumlah kejanggalan pada tubuh korban, di antaranya terdapat lebam di bagian kaki.
Hal itu disampaikan oleh Ketsia, perwakilan keluarga, yang menyebut adanya tanda-tanda seperti luka pada tubuh Evia.
Selain itu, keluarga juga mempertanyakan kondisi kamar kos korban, termasuk posisi kain yang dinilai tidak lazim.
Pengacara keluarga, Cyprus Tatali, menyebut kejanggalan tersebut memperkuat alasan keluarga untuk meminta dilakukan autopsi guna mengungkap penyebab kematian Evia secara pasti.
Fakta baru terungkap setelah diketahui bahwa sebelum meninggal dunia, Evia sempat menulis sebuah surat tertanggal 16 Desember 2025.
Dalam surat tersebut, Evia mengungkap dugaan pelecehan yang dialaminya dari seorang dosen bernama Danny.
Baca juga: Oknum Dosen UNIMA yang Diduga Lecehkan Evia Maria Mangolo Diperiksa Polisi, Bisa Dihukum Berat!
Menurut isi surat itu, peristiwa bermula pada Jumat (12/12/2025) ketika dosen tersebut menghubungi Evia melalui pesan singkat dan meminta korban untuk memijatnya.
Permintaan itu ditolak Evia karena merasa tidak memiliki kewajiban untuk melayani hal tersebut.
Evia sempat menceritakan isi percakapan itu kepada dua temannya yang menyarankan agar ia tidak menemui dosen tersebut.
Namun, komunikasi kemudian diarahkan pada pembahasan rekapitulasi nilai, sehingga Evia mengira pertemuan tersebut berkaitan dengan urusan akademik.
Pada malam harinya, Evia mendatangi dosen tersebut di area parkir kampus setelah sebelumnya membagikan lokasi langsung kepada teman-temannya sebagai langkah antisipasi.
Setibanya di lokasi, Evia diminta masuk ke dalam mobil dosen tersebut.
Alih-alih membahas nilai, dosen itu kembali meminta Evia untuk memijatnya dan memaksa korban berpindah tempat duduk.
Meski telah menolak dan menyatakan tidak bisa, Evia mengaku dosen tersebut tetap bersikeras dan mulai melakukan tindakan yang membuat korban merasa dilecehkan.
Baca juga: Oknum Dosen UNIMA Tega Lecehkan Evia Maria, Padahal Punya Anak Gadis Sudah Besar, Sering Dipamerkan
Dalam suratnya, Evia menuliskan bahwa dosen tersebut bertindak tanpa persetujuan dan melontarkan ucapan yang tidak pantas.
Evia mengaku merasa sangat tidak nyaman, ketakutan, dan berusaha keluar dari situasi tersebut dengan alasan hendak pulang karena sudah ditunggu temannya.
Namun sebelum diperbolehkan pergi, Evia mengungkap bahwa dosen itu sempat melakukan tindakan fisik tanpa persetujuan dan meminta hal-hal yang ditolak korban.
Evia mengaku hanya bisa menangis dan berusaha melawan sebelum akhirnya diizinkan meninggalkan lokasi.
Surat tersebut kini menjadi salah satu petunjuk penting bagi keluarga dan pihak terkait dalam mengungkap dugaan pelecehan yang dialami Evia Maria sebelum kematiannya.