Penampakan Pembunuh Anak Politisi PKS Terungkap, Polisi Amankan Tersangka
January 03, 2026 03:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Terkuak sudah siapa pelaku pembunuhan anak politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Perumahan Bukit Baja Sejahtera (BBS), Kota Cilegon, Banten.

Tim gabungan Polres Cilegon dan Polda Banten mengamankan pelaku pada Jumat (2/1/2025) sore.

Namun untuk identitas tersangka belum diungkap polisi secara gamblang.

Tampak pelaku diamankan seorang pria dengan kaus hitam dalam keadaan diborgol.

Baca juga: Terserang Stoke, Nenek Saadiah Warga Terdampak Banjir Masih Bertahan di Pengungsian Disdik Banjar

Baca juga: Angka Pelanggaran Lalu lintas di Tabalong Turun, Keberadaan Perangkat ETLE Dinilai Berkontribusi

Hingga kini identitas pelaku pria belum diungkap kepolisian.

Korban berinisial M (9) merupakan putra bungsu anggota dewan pakar DPD PKS Cilegon, Maman Suherman.

Korban ditemukan bersimbah darah di rumah pada Selasa (16/12/2025) lalu.

Meski sempat dibawa ke rumah sakit, nyawa korban tak tertolong.

Selain sebagai politisi, Maman Suherman juga seorang pengusaha.

Baca juga: Tak Lagi Ada Ranting Pepohonan, Viral Perjuangan Ibu dan Anak Orang Utan di Kutai Seberangi Sungai

Rumahnya yang menjadi lokasi penikaman terlihat mewah jika dibandingkan dengan rumah tetangga.

Kasi Humas Polres Cilegon, AKP Sigit Dermawan, menjelaskan penangkapan dilakukan setelah 17 hari kasus pembunuhan.

Pelaku tak melakukan perlawanan saat ditangkap di wilayah Ciwedus, Cilegon dan langsung dibawa ke Mapolres Cilegon. 

“Sudah ditangkap Jumat sore sebelum maghrib,” paparnya, dikutip dari TribunBanten.com.

Dalam foto yang beredar tampak pelaku mengenakan kaos hitam dan tangannya diborgol.

Kronologi dan motif pembunuhan akan diungkap setelah proses penyelidikan.

“Mohon waktu,” katanya.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, pelaku merupakan salah satu karyawan dari perusahaan ternama di Cilegon.

Baca juga: Wisata Kalsel- Berwisata ke Paralayang Tahura Kalsel, Pengunjung dari Sumedang Beri Pujian Ini

Sebelumnya, Ketua DPP PKS Bidang Advokasi, Nurul Amalia, menerangkan jabatan Maman Suherman di partai tak berkaitan dengan pengambilan kebijakan politik.

“Memang betul, dewan pakar tidak terkait dengan keputusan kebijakan partai,” bebernya.

Ia menganggap motif pembunuhan anak Maman Suherman tidak berkaitan dengan politik.

“Kami masih menunggu hasil penyelidikan dari Polri untuk mengetahui apakah ada hubungan atau tidak,” terangnya.

Baca juga: Gempa Terjadi di Balangan Kalsel, Magnitudo 2.6, Kedalaman 4 Km

Kata Kriminolog

Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, Prof. Adrianus Meliala, menyatakan pelaku berniat melakukan pencurian namun aksinya diketahui korban yang berada di rumah.

"Saya menduga ini adalah pencurian diam-diam di mana kemudian pelaku tidak mau memperlihatkan jati dirinya, tapi kemudian anak korban muncul."

"Maka dalam rangka untuk menutupi jati dirinya, dia menyerang korban secara berlebihan," ungkapnya, dikutip dari YouTube Kompas TV, Kamis (18/12/2025).

Ia menduga pelaku merupakan orang dekat seperti asisten rumah tangga, satpam, atau tamu yang tidak termonitor.

Baca juga: Damkar HSU Tangkap Ular Piton 3,5 Meter, Kedapatan Warga Sungai Bahadangan Mangsa Kucing

"Saya agak menepis soal dendam. Kalau orang dendam sama kita, tentu kita pun sudah merasakan bahwa ada orang yang tidak suka dengan kita dan kita akan berjaga-jaga," lanjutnya.

Menurutnya, pelaku bertindak secara spontan dan tidak profesional.

"Ini memang tipe pembunuhan yang kita sebut sebagai disorganized murder atau pembunuhan yang tidak terorganisir," paparnya.

Adrianus Meliala kurang setuju dengan narasi adanya motif politik lantaran ayah korban menduduki jabatan yang tidak vital.

"Jangan lupa bapaknya bukan Ketua DPD yang mungkin lebih vital. Sebagai penasihat itu tentu tidak berada pada posisi yang membuat orang sakit hati, karena fungsinya hanya pemberian saran saja," tukasnya.

Meski tak ada rekaman CCTV, pelaku dapat dilacak melalui DNA yang tertinggal seperti rambut atau bekas kuku.

"Siapa sih yang paling punya motif? Apakah misalnya ada ART yang mungkin punya utang? Itu bisa dianggap sebagai jembatan keledai dalam rangka mencari tahu siapa pelakunya," katanya.

Sumber : Tribunnews.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.