Laporan Sinca Ari Pangistu
SURYAMALANG.COM, BONDOWOSO - Ada beberapa bangunan peninggalan kolonial Belanda di Kecamatan Ijen, Bondowoso.
Salah satunya yakni Braak (Bahasa Belanda). Bangunan ini dulunya merupakan tempat untuk penampungan buruh kebun musiman.
Namun kini, warga sekitar menyebutnya Pesanggrahan.
Lokasinya terletak sekitar 50 meter dari Kantor Kecamatan Ijen.
Yakni berseberangan dengan KUA Ijen dan Dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).
Bangunan berdinding gedek itu masih berdiri kokoh.
Meski struktur bangunan tidak berubah, namun sejumlah bagian terlihat rusak.
Seperti plafon atap bangunan yang beberapa di antaranya terlihat menggantung.
Ada ruang tamu, kemudian pintu yang menghubungkan ke ruang lainnya.
Baca juga: Di Ijen Bondowoso Ada Penginapan Peninggalan Belanda yang Berusia Ratusan Tahun
Subkoordinator Sejarah dan Cagar Budaya Bidang Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, Hery Kusdaryanto menerangkan, bahwa pada masa kolonial Belanda kerap kali mendatangkan para buruh dari Madura.
Mereka dipekerjakan saat musim panen.
Selama masa kerja di Ijen inilah para pekerja tinggal dan beristirahat di pesanggrahan itu.
“Itu berdasarkan hasil wawancara yang pernah saya lakukan dengan masyarakat sekitar,” katanya saat dikonfirmasi SURYAMALANG.COM, Sabtu (3/1/2026).
Menurutnya, bangunan itu umumnya dilengkapi fasilitas dasar seperti dapur dan kamar mandi, serta ruang los tanpa sekat kamar.
“Biasanya yang memiliki kamar tersendiri hanya kepala pekerja,” imbuhnya.
Meski demikian, Hery mengakui tidak memiliki catatan sejarah tertulis yang pasti terkait bangunan tersebut.
Namun berdasarkan bentuk dan model arsitekturnya, lanjut dia, bangunan itu diperkirakan berasal dari akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19.
Perkiraan tersebut juga diperkuat dengan rujukan pada bangunan serupa seperti homestay Catimor.
Dari sisi material, bangunan tersebut menggunakan bambu dengan alas plester semen.
Menurut Hery, bahan-bahan semacam ini umumnya digunakan untuk rumah dinas sinder atau pekerja tetap pada masa itu.
Sementara itu, bangunan yang difungsikan sebagai kantor kepala administratur atau kantor utama biasanya dibangun dari tembok permanen.
“Dari perbedaan material dan fungsinya, bisa dilihat adanya stratifikasi peran dalam sistem kerja kolonial saat itu,” pungkasnya.