Rumah Warga dan Jalan Desa di Blora Terdampak Tanah Ambles, Warga Tak Bisa Tidur Nyenyak
January 05, 2026 10:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, BLORA - BPBD Kabupaten Blora menindaklanjuti fenomena tanah ambles di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Senin (5/1/2026).

Imbas dari tanah ambles itu, beberapa rumah terdampak, dan jalan desa mengalami retak.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blora, Mulyowati, mengatakan penanganan tanah ambles tersebut akan dilakukan bersama dengan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana (BBWS Pemali Juana), dan DPUPR Blora, serta pemerintah desa setempat.

"Ini tadi kamu meninjau bersama  BBWS Pemali Juana, dan rencananya akan dilakukan pemotongan bambu-bambu di sekitar sini, untuk memudahkan pengukuran pembangunan yang dilaksanakan dari BBWS," jelasnya.

Baca juga: Terkendala Lahan, Warga Swadaya Pengadaan Tanah Untuk Koperasi Desa Merah Putih di Tirtomoyo Kebumen

Baca juga: DKP Provinsi Jateng Tak Bisa Berbuat Banyak saat Nelayan Alami Paceklik : Itu Kewenangan Daerah

Menurutnya, ke dalam akan dilakukan pembangunan talud penahan longsoran. 

"Nanti akan dibangun talud-talud penahan longsoran, dan ini kami minta Pak Kades bagaimana upayanya untuk nantinya drainase-nya ini bisa dikondisikan, untuk mencegah terjadinya longsoran susulan," jelasnya.

Adapun untuk penanganan sementara, di sekitar tanah yang ambles, dilakukan pemberian terpal. Tujuannya agar jika terjadi hujan, air tidak merembes ke tanah retakan.

"Penanganan sementara kami beri terpal, agar air hujan tidak meresap ke rekahan tanah yang berpotensi terjadi penurunan tanah kembali."

"Selain itu, kami juga meminta agar kendaraan roda empat untuk sementara dilarang melintas di sepanjang jalan ini, agar tidak tambah parah," paparnya.

Warga waswas

Setiap malam Djaiz tidak bisa tidur nyenyak. Pria berusia 75 tahun itu selalu was-was jika hujan turun, yang bisa mengakibatkan longsor.

Rumah Mbah Djaiz beralamat di RT 8 RW 3, Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora.


Pasalnya, rumah bagian belakang miliknya, baru-baru ini terkena dampak tanah longsor. 


Tanah bagian belakang dan samping rumahnya ambles mengalami penurunan sejak tahun 2024.


Djaiz menceritakan dulunya di belakang dan samping rumahnya ada rumah milik tetangga.


Namun, terjadi longsor atau penurunan tanah, para tetangganya memilih untuk pindah.


"Dulu di belakang ada satu rumah, kemudian samping kanan juga ada tiga rumah. Semuanya pindah karena longsor," jelasnya saat ditemui di rumahnya, Jumat (2/1/2026).


Djaiz sekarang hanya tinggal bersama istrinya. Ketujuh anaknya sudah memiliki rumah masing-masing.


Lansia yang berprofesi sebagai petani itu lebih memilih tetap tinggal di rumahnya, dengan bayang-bayang tanah longsor yang sewaktu-waktu bisa terjadi.


"Mau tinggal dimana lagi, rumahnya cuma ini," ujarnya.


Rumah Djaiz berjarak sekitar 30 meter ke belakang dari Sungai Lusi. Sehingga potensi terjadi susulan saat hujan tiba cukup tinggi.


"Setiap malam was-was mas, enggak bisa tidur. Yang paling parah seminggu ini, tanah itu selalu ada penurunan setiap harinya," jelasnya.


Selain, rumah Djaiz ada beberapa rumah, hingga warung lainnya yang juga terdampak longsor atau tanah ambles tersebut.


Warung yang terdampak itu milik Taminah. Warung Taminah berjarak sekitar 50 meter dari rumah milik Djaiz.


Warung milik Taminah itu pada 2024, sudah terkena longsor. Bagian belakang warungnya rusak.


Taminah bercerita, longsor tiba-tiba terjadi saat malam hari sekira pukul 21.00 WIB. Saat itu, ada orang-orang yang sedang nongkrong di warungnya. Tiba-tiba warung bagian belakang longsor. Ia dibantu warga, untuk mengamankan barang-barang.


Kendati demikian, dia tidak berniat pindah meskipun bahaya longsor susulan bisa mengancam sewaktu-waktu.


"Enggak pindah. Tapi ya setiap malam pikiran was-was. Tidur enggak nyenyak kondisinya terjadi penurunan tanah terus ini," terangnya.


Taminah berharap kepada pemerintah, untuk segera melakukan penanganan, agar warga bisa aman dan tidur dengan nyenyak.


"Harapannya segera ditangani biar aman. Mungkin bisa dibronjong, biar meminimalisir tanah ambles," paparnya.


Selain beberapa rumah warga yang terdampak. Jalan desa juga ikut terdampak. Terlihat jalan desa retak, dan terjadi penurunan tanah sekitar 60 cm.


"Ini subuh itu belum separah ini. Tadi sekitar jam 06.00 WIB, itu separah ini," paparnya sambil menunjukkan jalan yang ambles.


Saat ini, mobil atau truk bermuatan dilarang untuk melintas dijalan tersebut. Sebab dikhawatirkan bisa memperparah kondisi jalan.


Sementara itu, Camat Tunjungan, Lusiana, mengatakan telah menindaklanjuti kondisi longsor tersebut.


" Tadi pagi kami sudah tindaklanjuti semampu kami bersama Polsek, Koramil, relawan PMI dan perangkat desa. Kami bantu semampunya. Tadi rumah Mbah Djaiz bagian belakang sudah kami bantu perbaiki," jelasnya.


Selain itu, pihaknya juga menyampaikan sudah berkoordinasi dengan DPUPR Blora agar dibantu penanganan longsoran tersebut.


"Kamu sudah bersurat ke DPUPR Blora, ke BPBD, dan lainnya agar dibantu penanganannya," jelasnya.


Sementara itu, Bupati Blora, Arief Rohman, menyampaikan akan menindaklanjuti terkait adanya longsoran tersebut.


"Segera kami tindaklanjuti," ujarnya.


Lebih lanjut, Bupati Arief menyampaikan penyebab longsor atau tanah ambles di Dukuh Ngetrep.


"Berdasarkan informasi dari BPBD, itu penyebabnya karena aliran tingkungan anakan sungai lusi yg menggerus tebing kanan dan kiri."


"Tidak ada drainase pada bahu jalan sehingga aliran air masuk ke bawah tanah yang menyebabkan tanah gerak sehingga mempercepat longsoran pada jalan utama dukuhan, perumahan masyarakat yang ada di sekitar," paparnya.(Iqs)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.