TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Harga karet di awal tahun 2026 diprediksi bakal stabil dan menguat bertahap dan menjadi angin segar bagi petani karet di Sumsel.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO) Sumatera Selatan, H Supartijo, mengatakan, prediksi ini disusun berdasarkan pola pergerakan harga akhir 2025 dan dinamika pasar global, bukan ajakan spekulasi.
Lalu didasari oleh penguatan harga di akhir Desember 2025 menjadi modal psikologis yang positif, namun pasar tetap akan bergerak hati-hati seiring penyesuaian pasca penutupan tahun.
Sejumlah faktor disebut menjadi faktor pendorong harga karet stabil bahkan cenderung menguat yakni permintaan industri yang mulai kembali berjalan normal pasca libur akhir tahun, juga penyesuaian pasokan dari negara produsen utama.
Faktor lainnya yakni pergerakan nilai tukar yang relatif terkendali hingga harga penutupan akhir 2025 yang berada pada level cukup kuat.
"Faktor-faktor ini belum cukup untuk mendorong lonjakan tajam, namun cukup menopang harga agar tidak jatuh signifikan," katanya pada Tribunsumsel.com, Senin (5/1/2026).
Meski sejumlah faktor itu membuat membuat petani tidak khawatir harga anjlok, tetap harus diwaspadai beberapa faktor lainnya yang bisa mempengaruhi sentimen positif pasar seperti halnya fluktuasi nilai tukar global karena harga karet bukan ditentukan di dalam negeri dan oleh dampak global, sehingga faktor global bisa bisa mendorong harga karet naik atau bahkan berbalik turun.
Selain itu kebijakan ekonomi negara besar juga perlu diwaspadai karena dampak perdagangan pasar dunia juga menjadi salah stu penyebab harga pasar seeing berubah-ubah.
Perubahan permintaan industri otomotif dan manufaktur juga perlu diwaspadai karena berlaku hukum pasar, jika permintaan naik harga ikut terkerek naik tapi jika permintaan turun maka harga akan anjlok.
"Oleh karena itu, naik-turun harga masih akan terjadi, terutama pada awal kuartal pertama, namun arah pasar tahun ini diprediksi lebih baik dibandingkan tahun lalu," tambahnya
(*)