Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, HOKKAIDO – Menjelang ulang tahunnya yang ke-29 pada 3 Februari 2026, Dhyno Ramdan Pamungkas, pemuda kelahiran Medan, 3 Februari 1997, menorehkan kisah pengabdian yang mengundang apresiasi.
Kehadirannya di sebuah panti jompo di Nakatonbetsu, Hokkaido, ikut menyelamatkan fasilitas lansia tersebut dari ancaman penutupan akibat kekurangan tenaga kerja.
“Saya tahu panti jompo itu hampir tutup sebelum saya masuk. Tapi yang saya pikirkan hanya bagaimana bisa membantu para lansia di sana,” ujar Dhyno kepada Tribunnews.com, Minggu (5/1/2026).
Dhyno datang ke Jepang pada Oktober 2019 bersama sang kakak, Jodhy Agung Rizkyawan, yang bekerja di sektor pertanian di Hokkaido.
Berbeda dengan kakaknya, Dhyno memilih jalur keperawatan—meski ia merupakan lulusan Politeknik Negeri Medan jurusan Akuntansi Perbankan.
Baca juga: Maguro Tembus Rp50 Miliar, Rekor Lelang Tahun Baru Pecah di Jepang
Ia memulai perjalanan dengan belajar bahasa Jepang di Higashikawa, Hokkaido, selama dua tahun hingga 2021.
Setelah itu, atas rekomendasi gurunya, Dhyno melanjutkan studi ke Asahikawa Fukushi Senmon Gakko (AFSG), sekolah keperawatan di Asahikawa yang mendapat subsidi pemerintah Jepang.
“Selama sekolah, kami sering praktik ke panti jompo. Pendidikan gratis, disediakan tempat tinggal dan uang saku. Untuk tambahan, saya hanya baito dua jam,” jelasnya.
Melalui AFSG, Dhyno dikenalkan ke sejumlah panti jompo.
Ia sempat mempertimbangkan Yubetsu, namun akhirnya memilih Nakatonbetsu—daerah kecil di Hokkaido—demi memberi kesempatan pada rekan lain.
Di panti jompo Chojyuen Nakatonbetsu, Dhyno awalnya bekerja nyaris sendirian untuk menutup kekurangan tenaga.
Total perawat hanya 18 orang yang dibagi tiga shift, sehingga setiap shift rata-rata lima orang untuk melayani sekitar 48 lansia berusia 80–90 tahun.
“Saya di bagian tokujo, menangani lansia dengan kondisi paling berat—demensia, lupa ingatan, bahkan yang masih menggunakan infus. Pekerjaannya berat, tapi saya senang karena suasana kerjanya baik,” tuturnya.
Dhyno mengakui tantangan besar di lapangan. Selain kekurangan tenaga, pembinaan dari senior di Jepang dikenal 厳しい (ketat/keras).
Pasien dengan demensia berat pun kerap salah paham.
“Pernah diteriaki pencuri oleh lansia yang saya rawat. Padahal saya tidak tahu alamat rumahnya. Tapi itu risiko pekerjaan,” katanya sambil tersenyum.
Kini, Dhyno mengantongi sertifikat JLPT N2 dan menargetkan N1 serta lulus ujian nasional keperawatan Jepang. Ia bahkan menyampaikan kepada pimpinan panti jompo niatnya untuk bekerja jangka panjang.
“Saya bilang akan terus di sini, mungkin sampai usia 50-an. Tenaga masih sangat dibutuhkan, suasananya nyaman, dan pedesaannya indah,” ujarnya.
Nakatonbetsu berjarak sekitar 4,5 jam perjalanan mobil dari Sapporo, dengan suhu musim dingin saat ini mencapai minus 8 derajat Celsius.
Berkat kehadiran Dhyno—dan belakangan diperkuat satu WNI lain, Rexy Armada—panti jompo tersebut kini kembali beroperasi dengan baik, sepenuhnya didukung subsidi pemerintah daerah setempat.
Kisah Dhyno menjadi potret kontribusi nyata perawat Indonesia di Jepang, sekaligus jawaban atas krisis tenaga kerja lansia di Negeri Sakura.
Diskusi loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com