Menyusuri 8 Budaya Khas Kampung Wisata Kotagede yang Masih Lestari
January 06, 2026 08:01 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Kotagede dikenal sebagai kawasan cagar budaya di Yogyakarta yang menyimpan jejak penting sejarah Mataram Islam sejak abad ke-16.

Mulai dari bekas pusat kerajaan inilah tumbuh beragam tradisi, seni, hingga adat istiadat yang masih hidup sampai sekarang.

Tak hanya kaya peninggalan fisik, Kotagede juga mewariskan budaya yang membentuk identitas warganya.

Mulai dari kerajinan perak, arsitektur rumah tradisional, hingga upacara adat, semuanya menjadi daya tarik Kampung Wisata Kotagede. 

Berikut 8 budaya khas yang membuat Kawasan Kotagede Istimewa: 

 

1. Budaya Kerajinan Perak Kotagede 

kerajinan perak kotagedee
Hasil kerajinan perak Kotagede berupa perhiasan, aksesoris, dan miniatur.

Kerajinan perak merupakan satu di antara kerajinan utama di wilayah Kotagede yang sering dijuluki “Jewellery of Jogja”.

Berkembangnya usaha kerajinan perak ini diperkirakan telah ada sejak Kotagede menjadi ibukota Mataram Islam pada abad ke-16 sampai 17.

Mulanya hasil kerajinan perak berupa perhiasan dan peralatan rumah tangga ini untuk memenuhi kebutuhan kraton.

Para pengrajin pun berasal dari abdi dalem kraton. Ketika pusat kerajaan dipindah dari Kotagede, para pengrajin tersebut memilih menetap di wilayah Kotagede. 

Kerajinan perak di wilayah Kotagede ini sudah kerap kali ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Sektor kerajinan perak ini menjadi budaya yang turun-temurun dari generasi ke generasi.

Jika dulu hasilnya terbatas pada kebutuhan kraton, saat ini sudah beragam.

Seperti macam-macam perhiasan, miniature sepeda, minikatur Andong, dan aksesoris lainnya.

Bahkan, tak jarang pernjualan kerajinan perak ini menembus pasar mananegara. 

 

2. Arsitektur Rumah Tradisional 

Rumah Joglo (Jawa Tengah) Pinterest.com
Rumah Joglo (Jawa Tengah) Pinterest.com (Pinterest.com)

Budaya lainnya terlihat dari rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa khas, seperti rumah Joglo dan rumah Kalang.

Rumah tradisional joglo ini memiliki ciri atap punden berundak, lalu memuncak di bagian tengah yang disebut brunjung.

Bagian lainnya yaitu terdapat balok penumpu yang disangga oleh konsul bernama bahu dhanyang.

Hal menarik lebih lanjut terletak pada halaman rumah-rumah lama dibatasi dengan pagar tembok tinggi dengan satu regol utama.

Sehingga jalan-jalan di perkampungan diapit oleh pagar-pagar tersebut. 

Saat ini beberapa rumah Kalang berstatus sebagai Bangunan Warisan Budaya dan Bangunan Cagar Budaya.

Rumah Kalang di Kotagede dibangun dan pernah dimiliki oleh Wong Kalang.

Rumah Kalang memiliki gaya arsitektur yang memadukan unsur tradisional Jawa dan pengaruh Indisch, terlihat dari tata ruang, bentuk atap, pintu, jendela, ventilasi, hingga ornamen bangunan. 

Ciri khas lainnya keberadaan ruang bawah tanah atau bunker yang disamarkan, misalnya di bawah kolam hias, sebagai tempat menyimpan barang berharga dan berlindung dari bahaya.

Secara umum, rumah Kalang juga ditandai dengan tiang bergaya Corinthia-Romawi, bukaan pintu dan jendela yang besar dan banyak, serta tetap mempertahankan unsur tradisional seperti konsep tiga senthong, gandhok gadri, dapur, kamar mandi, dan sumur.

 

3. Kuliner Tradisional Khas Kotagede

kembang waru khas kotagede
Kembang Waru, kuliner khas Kotagede.

Kotagede Yogyakarta juga terkenal akan sajian kuliner tradisional dengan cita rasa yang unik.

Kuliner khas Kotagede seperti kipo, legomoro, dan kembang waru bukan sekadar makanan ringan, tetapi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Kipo, misalnya, sudah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram sebagai jajanan rakyat yang dibuat dari tepung ketan dengan isian kelapa dan gula jawa. 

Legomoro yaitu makanan mirip lemper yang dibungkus daun pisang dan diikat tali rafia.

Kudapan sejak abad ke-17 ini melambangkan keramah masyarakat ketika ada tamu berkunjung.

Selain itu, kembang waru pun sudah hadir sejak zaman kerajaan Mataram Islam.

Kuliner ini sering disuguhkan dalam acara adat dan upacara penting yang hanya bisa dinikmati oleh keluarga bangsawan.

Namun, saat ini siapa pun bisa menikmati beragam makanan khas dari Kotagede ini. 

Makanan lain seperti ukel banjar, dan yangko juga tak kalah perannya sejak zaman dulu.

Hingga kini, jajanan-jajanan ini tetap lestari karena diwariskan secara turun-temurun.

Semua kuliner khas tersebut bisa ditemukan di Pasar Tradisional Kotagede. 

4. Reruntuhan Keraton Kotagede

watuu gilaangg
Watu Gilang yang digunakan sebagai tempat singgasana Panembahan Senopati.

Kotagede sebagai mantan ibu kota kerajaan Mataram Islam ini masih memiliki peninggalan dari keraton berupa reruntuhan beberapa bangunan.

Saat ini yang tersisa dari keraton hanya tiga batu yang disebut Watu Gilang, Watu Gateng, dan Watu Gentong.

Selain itu, sisa-sisa Benteng Cepuri yang mengelilingi keraton dan Kotagede menambah nilai sejarah. 

Baca juga: 22 Objek di Bantul Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

5. Masjid Agung Kotagede 

Masjid Agung Kotagedhee
Tampak depan Masjid Agung Kotagedhe

Masjid Agung Kotagede merupakan masjid tertua sejak tahun 1587 di Kota Yogyakarta.

Masjid ini dibangun pada era Panembahan Senopati yang melibatkan masyarakat Hindu Bundha juga dalam pembangunannya.

Pada saat proses pembangunan masjid, umat Islam membangun bagian utama masjid.

Sedangkan umat Hindu mendirikan pagar masjid yang jika dilihat sekarang berwujud Pura.

Oleh karena itu, corak akulturasi Islam-Hindu-Jawa sangat kental di Masjid Agung Kotagede ini. 

Hal ini ternyata satu di antara strategi menyebarkan nilai-nilai agama Islam, di mana Islam saat itu masih minoritas. 

Upaya ini diajarkan oleh Sunan Kalijaga dan didukung oleh Panembahan Senopati, untuk tidak mengubah bangun masjid dan gapura berbentuk pura.

Rencana tersebut berhasil mengundang masyarakat menjadi tertarik dengan agama Islam.

Meski bentuk fisik awal masjid tersebut sederhana, kemudian pada masa Sultan Agung (1611 Masehi) dibangun serambi masjid membuat kesan megah lebih terasa. 

6. Kompleks Makam Raja-Raja Mataram

Kompleks makam raja mataram
 Gapura Pintu Masuk Kompleks Makam Pasarean Mataram.

Kompleks Makam Raja Kotagede atau biasa disebut Pasarean Hastana Kitha Ageng adalah kompleks makam bagi raja-raja Mataram Islam yang dibangun oleh Panembangan Senopati. 

Kompleks makam ini terletak di sebalah barat dari Masjid Agung Kotagede.

Rumah terakhir raja-raja Mataram Islam ini selesai pada tahun 1606 dengan tiga cungkup bangunan utama, berfungsi sebagai pelindung makam-makam tertua. 

Ketiga cungkup tersebut bernama Bangsal Prabayaksa, Bangsal Witana, dan Bangsal Tajug. 

Raja-raja yang dikebumikan di kompleks ini mulai dari raja pertama Panembahan Senopati, Mas Jolang, Ki Ageng Pemanahan, Sultan Hadiwijaya, dan lain-lainnya.

Kompleks makam ini dikelilingi tembok besar dengan pintu gapura berciri khas arsitektur Hindu yang dinamakan Gapura Paduraksa.

7. Pentas Seni Tradisional

pentas seni karawitannnn
Pentas Seni Karawitan.

Kampung Wisata Kotagede masih menjaga denyut budaya lewat pentas seni tradisional seperti karawitan dan macapat. 

Karawitan menghadirkan harmoni gamelan yang tak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sarana pelestarian nilai-nilai Jawa.

Sementara macapat, sebagai bentuk sastra lisan, menjadi media penyampaian petuah, sejarah, dan filosofi hidup masyarakat.

Melalui pertunjukan ini, budaya tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas Kotagede.

8. Adat Istiadat 

upacara tingkebannn
Prosesi upacara tingkeban atau mitoni untuk menyambut kehamilan tujuh bulan seorang ibu.

Selain seni dan sejarah, Kotagede juga kaya akan tradisi adat istiadat yang masih hidup hingga kini.

Beberapa di antaranya seperti tingkeban dan wiwit pari yang masih terus dijaga oleh masyarakat.

Tingkeban atau tujuh bulanan kehamilan menjadi simbol doa keselamatan bagi ibu dan bayi, sekaligus wujud rasa syukur kepada Tuhan.

Sementara itu, upacara adat wiwit pari dilakukan menjelang panen sebagai ungkapan terima kasih atas rezeki yang diberikan alam.

Kedua tradisi ini mencerminkan kuatnya nilai spiritual, kebersamaan, dan penghormatan terhadap siklus kehidupan dalam budaya masyarakat Kotagede.

(MG Zahrah Suci Al Aliyah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.