TRIBUNMANADO.CO.ID, Sangihe - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan kewaspadaan cuaca ekstrem di wilayah Sulawesi Utara, termasuk Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Sangihe adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.
Sebelum Pemekaran Kabupaten ini bernama Daerah Tingkat II Kabupaten Kepulauan Sangihe Dan Talaud ( SATAL ), dan merupakan induk pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Talaud dan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro pada tahun 2002 dan 2007.
Ibu kota kabupaten ini adalah Tahuna.
Imbauan kewaspadaan cuaca di Sangihe tersebut disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Naha, Rafael Alesandro Marbun, S.Tr, saat diwawancarai Tribunmanado.co.id, Rabu (7/1/2025).
Rafael menjelaskan, BMKG melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Sam Ratulangi Manado telah merilis peringatan dini cuaca ekstrem yang berlaku pada tanggal 5 hingga 7 Januari 2026.
Peringatan ini dikeluarkan berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer yang menunjukkan adanya sejumlah fenomena cuaca signifikan di wilayah Sulawesi Utara.
Menurutnya, salah satu faktor utama adalah terdeteksinya pusat tekanan rendah di bagian utara Australia.
Kondisi tersebut memicu terjadinya pertemuan massa udara atau konvergensi, serta belokan angin yang berdampak pada peningkatan curah hujan di Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Selain itu, BMKG juga memantau fenomena La Nina yang berada dalam kondisi lemah, suhu muka laut yang lebih hangat dari biasanya, kelembapan udara yang tinggi di setiap lapisan atmosfer, serta indeks labilitas atmosfer yang tergolong tinggi.
Kombinasi dari berbagai faktor tersebut membentuk kondisi atmosfer yang mendukung terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
“Potensi cuaca ekstrem ini dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang di wilayah Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe,” jelas Rafael.
BMKG Naha mengimbau masyarakat serta Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.
Koordinasi dengan instansi terkait juga dinilai penting sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Rafael menambahkan, wilayah Kepulauan Sangihe memiliki topografi yang curam, bergunung, dan banyak tebing, sehingga rawan terhadap bencana seperti genangan air, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk selalu memantau informasi cuaca terkini dari BMKG dan segera mengambil langkah pencegahan apabila kondisi cuaca memburuk.
Cuaca buruk yang melanda wilayah Sangihe dalam beberapa hari terakhir membuat tumpukan sampah plastik memenuhi kawasan Pelabuhan Tua Tahuna.
Sampah-sampah tersebut diduga berasal dari laut yang terbawa arus dan gelombang tinggi, lalu terdampar di sekitar pelabuhan.
Pantauan di lokasi, Rabu (7/1/2026) berbagai jenis sampah plastik seperti botol bekas, kantong plastik, styrofoam, hingga potongan kayu terlihat mengapung dan menumpuk di sepanjang bibir pelabuhan.
Kondisi ini tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menimbulkan bau tidak sedap serta dikhawatirkan berdampak pada aktivitas masyarakat dan nelayan setempat.
Warga bernama Angelisa menyebutkan, fenomena ini kerap terjadi saat cuaca ekstrem melanda perairan sekitar Tahuna.
"Apalagi kalau cuaca buruk pasti banyak sampah yang berhamburan di jalan Bolevard, kiranya masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarang"ujarnya
Angin kencang dan gelombang tinggi menyebabkan sampah yang sebelumnya berada di tengah laut terdorong kedarat.
Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak di antara Pulau Sulawesi dan Pulau Mindanao, Filipina serta berada di bibir Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik.
Wilayah kabupaten ini meliputi 3 klaster, yaitu Klaster Tatoareng, Klaster Sangihe dan Klaster Perbatasan, yang memiliki batas perairan internasional dengan Provinsi Davao Occidental di Pulau Mindanao, Filipina.
Jarak antara Manado ke Sangihe bervariasi tergantung moda transportasi, dengan kapal laut menjadi pilihan utama, memakan waktu sekitar 5-6 jam ke Pulau Sangihe (Tahuna), meskipun beberapa sumber menyebutkan bisa lebih lama (sekitar 10 jam), tergantung kondisi cuaca dan jenis kapal. (Edu)