Sampah-sampah Berserakan Usai Kawasan Pelabuhan Tua Tahuna Sangihe Sulut Diterjang Gelombang Tinggi
January 07, 2026 10:22 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID, Sangihe - Cuaca buruk yang melanda wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (Sulut) dalam beberapa hari terakhir membuat tumpukan sampah plastik memenuhi kawasan Pelabuhan Tua Tahuna.

Sampah-sampah tersebut diduga berasal dari laut yang terbawa arus dan gelombang tinggi, lalu terdampar di sekitar pelabuhan.

Pantauan di lokasi, Rabu (7/1/2026) berbagai jenis sampah plastik seperti botol bekas, kantong plastik, styrofoam, hingga potongan kayu terlihat mengapung dan menumpuk di sepanjang bibir pelabuhan. 

Kondisi ini tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menimbulkan bau tidak sedap serta dikhawatirkan berdampak pada aktivitas masyarakat dan nelayan setempat.

Warga bernama Angelisa menyebutkan, fenomena ini kerap terjadi saat cuaca ekstrem melanda perairan sekitar Tahuna. 

"Apalagi kalau cuaca buruk pasti banyak sampah yang berhamburan di jalan Bolevard, kiranya masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarang"ujarnya 

Angin kencang dan gelombang tinggi menyebabkan sampah yang sebelumnya berada di tengah laut terdorong kedarat.

BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem di Kepulauan Sangihe

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan kewaspadaan cuaca ekstrem di wilayah Sulawesi Utara, termasuk Kabupaten Kepulauan Sangihe. 

Imbauan tersebut disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Naha, Rafael Alesandro Marbun, S.Tr, saat diwawancarai Tribunmanado.co.id, Rabu (7/1/2025).

Rafael menjelaskan, BMKG melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Sam Ratulangi Manado telah merilis peringatan dini cuaca ekstrem yang berlaku pada tanggal 5 hingga 7 Januari 2026. 

Peringatan ini dikeluarkan berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer yang menunjukkan adanya sejumlah fenomena cuaca signifikan di wilayah Sulawesi Utara.

Menurutnya, salah satu faktor utama adalah terdeteksinya pusat tekanan rendah di bagian utara Australia. 

Kondisi tersebut memicu terjadinya pertemuan massa udara atau konvergensi, serta belokan angin yang berdampak pada peningkatan curah hujan di Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Selain itu, BMKG juga memantau fenomena La Nina yang berada dalam kondisi lemah, suhu muka laut yang lebih hangat dari biasanya, kelembapan udara yang tinggi di setiap lapisan atmosfer, serta indeks labilitas atmosfer yang tergolong tinggi. 

Kombinasi dari berbagai faktor tersebut membentuk kondisi atmosfer yang mendukung terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

“Potensi cuaca ekstrem ini dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang di wilayah Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe,” jelas Rafael.

BMKG Naha mengimbau masyarakat serta Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Koordinasi dengan instansi terkait juga dinilai penting sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi.

Rafael menambahkan, wilayah Kepulauan Sangihe memiliki topografi yang curam, bergunung, dan banyak tebing, sehingga rawan terhadap bencana seperti genangan air, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang. 

Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk selalu memantau informasi cuaca terkini dari BMKG dan segera mengambil langkah pencegahan apabila kondisi cuaca memburuk. (Edu)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.