Laporan Wartawan Tribun Gayo Bustami | Bener Meriah
TribunGayo.com, REDELONG - Akses jalan menuju Samarkilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, kini berubah menjadi jalur maut pascabencana melanda.
Baca juga: Kepergok Mencuri Kopi, Alasan Pelaku Nekat Habisi Nyawa Pasutri di Bener Meriah
Mesti ditengah kondisi ekstrem ini, para guru dan Tenaga Kependidikan (Tendik) di Samarkilang terpaksa mempertaruhkan nyawa demi memastikan roda pendidikan tetap berputar.
Setiap pagi pukul 06.00 WIB, para pahlawan tanpa tanda jasa ini memulai konvoi sejauh 70 kilometer (Km) hingfa 80 km dari Pondok Baru.
Jalur yang biasanya bisa ditempuh dengan waktu normal, kini memakan waktu hingga empat jam akibat kerusakan parah di enam titik longsor.
Kondisi jalan saat ini masuk kategori not safety (tidak aman), lumpur setinggi betis dan ancaman jurang di sisi jalan memaksa mereka bekerja ekstra keras.
Dengan tas berisi buku pelajaran dan perbekalan yang dibungkus plastik agar tidak basah, mereka perlahan meniti sisa-sisa material longsor.
Berbekal sepatu bot karet dan celana kain yang digulung hingga lutut, para guru ini harus menyeberangi titik bekas aliran banjir bandang dan longsor yang kini berubah menjadi rawa lumpur sedalam betis dewasa.
Meski kelelahan fisik tampak jelas, senyum para siswa di ujung jalan menjadi bahan bakar semangat yang tak kunjung padam.
"Jalannya masih rusak parah, kami baru tiba di sekolah sekitar pukul 10.00 WIB.
Baca juga: Kisah Pilu dari Bener Meriah, 49 Rumah di Kampung Uning Mas Lenyap dalam Semalam
Di titik paling berbahaya, sepeda motor harus didorong bersama agar rekan guru perempuan bisa lewat," ujar Kepala Sekolah (Kepsek) Sekolah Menengah Atas ( SMA) Negeri 1 Syiah Utama, Marsono kepada TribunGayo.com, Selasa (6/1/2026).
Perjuangan berat para guru tersebut sayangnya disambut suasana pilu di sekolah, karena hanya sekitar 15 persen siswa yang hadir di kelas.
Rendahnya tingkat kehadiran ini bukan tanpa alasan, trauma psikologis dan lumpuhnya ekonomi keluarga pascabencana menjadi penghalang utama bagi anak-anak Samarkilang untuk kembali ke bangku sekolah.
"Anak-anak sebenarnya rindu sekolah, namun kesulitan hidup setelah bencana sangat memengaruhi psikis mereka," ungkap Marsono.
Ia menambahkan bahwa kehadiran guru di tengah kondisi ini sangatlah krusial.
"Anak-anak sudah cukup trauma. Jika kami tidak datang, mereka akan semakin kehilangan harapan. Pendidikan adalah satu-satunya rutinitas yang membuat mereka merasa keadaan akan baik-baik saja," tambahnya
Dedikasi para guru di Samarkilang adalah bukti nyata pengabdian tanpa batas. Namun, kondisi memprihatinkan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Jika akses jalan tidak segera diperbaiki, keselamatan tenaga pendidik dan masa depan anak-anak di pelosok Bener Meriah menjadi taruhannya.
Kini, sebuah pertanyaan besar menggantung di langit Samarkilang: Sampai kapan pengabdian tulus ini harus dibayar dengan pertaruhan nyawa?
Jika akses utama masih menyerupai jalur maut, maka bukan hanya pendidikan yang terancam mati, melainkan juga keselamatan mereka yang membawa cahaya ilmu ke pelosok negeri. (*)
Baca juga: Ekses Harga Galian C Naik di Bener Meriah, Sopir Truk Lancarkan Mogok Kerja, Mahasiswa Mengecam