TRIBUNPRIANGAN.COM - Holis Muhlisin (31), seorang pedagang telur asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, belakangan mencuri perhatian warganet.
Warga Desa Panggalih, Cisewu tersebut, diketahui mendapat panggilan langsung untuk bertemu dengan Gubuernur Jawa Barat, Dedy Mulyadi untuk mengklarifikasi beberapa video yang menjadi viral di jagad maya.
Bukan karena profesinya sebagai tukang telur, melainkan aksi herioknya menyuarakan beberapa fasilitas desa yang rusak dan tak kunjung diperbaiki.
Aksi ini sempat memanas dengan perdebatan beberapa oknum yang menuduh Holis hanya ingin terkenal dengan menyebarkan satu titik kerusakan.
Namun, alih-alih ditindas lebih jauh, Holis justru dipanggil ke Lembur Pakuan untuk diapresiasi atas keberaniannya.
Baca juga: BPD Desa Panggalih Angkat Bicara Soal Viralnya Video Jalan Rusak Berujung Intimidasi
Selain itu, dirinya pun diberi tugas dan diangkat sebagai Mandor atau pemantau kelangsungan proses pengerjaan beberpa titik jalan yang rusak dan proses penghijauan di Tiwugenteng.
Berdasarkan pantauan TribunPriangan pada akun pribadi @HolisMuhlisin, Holis juga sempat menguggah sebuah video dari kolam ikan di pekarangan rumah, yang mengibaratkan proses kerja pemerintah daerah yang seakan lamban.
"Tingali, yah, tinggali wee..., anteupkan weh, ulah di kumaha-kumaha keun, ulah dirusak (Liatin saja, diamin saja, tidak perlu dirubah-rubah)" katanya dalam video terbaru yang diunggah pada Senin (5/1/2026) lalu.
Seakan sedang memberi sinyal yang menandakan bahwa aksi protesnya terhadap pemerintah desa berhasil sampai untuk kepentingan masyarakat, Holis saat bertemu dengan orang nomor satu di Jabar terlihat sangat antusias, saat di tugaskan sebagai pengawas pembangunan jalan yang rusak.
"Siap, Gaskeun...", ungkapnya, dihadapan Dedy Mulyadi.
Baca juga: Warga Garut yang Viral Videonya karena Kritik Jalan Rusak Ternyata Juga Dilaporkan ke Polisi
Disisi lain, selain bertemu dengan Gubernur, Holis juga diketahui telah dipanggil untuk bertemu dengan Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina untuk memastikan kabar yang tengah viral tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, Wanita yang kerap disapa Teh Putri tersebut menjelaskan jika dirinya mengapresiasi aksi Holik yang tidak gentar dengan mengkritik pemerintah.
Dirinya beranggapan jika komentar tersebut bebas dilontarkan masyarakat dan tidak perlu merasa takut dengan ancaman.
"Tentunya saja obrolannya sudah pasti teman-teman tau arahnya kemana, tapi intinya saya memastikan bahwa masyarakat siapa pun bebas mengkritik dan boleh membuat konten, tidak usah takut, karena yang harusnya dewasa seharusnya adalah pemerintah", ujar Putri Karlina.
Putri mengakui adanya keterlambatan dari sisi pemerintah, dan meminta semua pihak termasuk Holis untuk sama-sama mengsuport kinerja pembagunan Garut Selatan.
Baca juga: Kronologi Warga Desa Panggalih Garut Diintimidasi Keluarga Kades, Gara-gara Posting Jalan Rusak
"Tadi juga saya udah ngobrol bahwasannya memang ada keterlambatan dari pemerintahan Garut Selatan", tambah Putri.
Sebelum, Kholis menjadi viral setelah video yang dibagikan dalam akun tiktok pribadinya ramai hingga sampai ditanggapi Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedy Mulyadi.
Video tersebut memperlihatkan kekesalannya sebagai masyarakat Kabupaten Garut yang kerap menggunakan akses jalan yang sudah lama tak kunjung diperbaiki untuk beraktifitas sehari-hari.
Kholis sendiri menjadi sangat aktif dalam berkomentar pedas terhadap pemerintah daerah mengenai dana desa khususnya untuk pembangunan jalan yang rusak.
Pasalnya, menurutnya jalan tersebut sudah tak layak digunakan dan membahayakan masyarakat setempat jika terus dibiarkan lama.
Hal ini makin memanas usai beberapa oknum diduga mengintimidasi aksinya tersebut secara baramai-ramai.
Videonya saat diintimidasi keluarga kepala desa usai memprotes jalan rusak melalui media sosial viral dan memicu gelombang dukungan publik.
Selama tiga tahun, Holis menggantungkan hidup dengan berjualan telur menggunakan sepeda motor.
Setiap hari, ia harus mengangkut 50 kg telur melewati infrastruktur jalan yang memprihatinkan di wilayah selatan Garut.
"Saya bagikan (kondisi jalan) di Facebook karena resah. Saya pernah terjatuh sampai dagangan pecah karena jalan rusak. Tak ada niat menjelekkan pribadi, saya hanya protes terhadap lembaga," ujar Holis saat ditemui di Rumah Dinas Wakil Bupati Garut, Senin (5/1/2026).
Dedi Mulyadi (KDM), mengeluarkan Surat Edaran (SE) tegas terkait keterbukaan informasi publik.
Seluruh instansi pemerintahan di Jawa Barat, mulai dari tingkat Kabupaten/Kota hingga Pemerintahan Desa, kini wajib mengumumkan anggaran belanja secara terbuka melalui media sosial.
Kebijakan ini mencuat bersamaan dengan viralnya kasus Holis Muhlisin, seorang pedagang telur di Garut yang justru diintimidasi setelah mengkritik kondisi jalan rusak di desanya.
Dalam SE terbaru per tanggal 5 Januari 2026, KDM menegaskan bahwa tidak ada lagi anggaran yang disembunyikan.
Setiap rupiah yang dikelola harus bisa dipantau rakyat melalui platform seperti YouTube, Facebook, dan Instagram.
"Uang yang kita kelola adalah uang rakyat."
"Maka, pembangunan yang berkeadilan hanya bisa terwujud jika dilakukan secara terbuka, transparan, dan akuntabel," ujar Dedi Mulyadi di Istana Kepresidenan (5/1/2026).
Selain anggaran, setiap instansi juga wajib menyampaikan laporan capaian kinerja secara rutin setiap bulan di media sosial agar publik dapat menilai hasil kerja pemerintah secara nyata.
Dedy juga meminta aparat pemerintah untuk menerima kritik dengan lapang dada sebagai bahan evaluasi pembangunan.
"Jangan pernah melakukan intimidasi atau pengancaman dalam dunia yang sudah terbuka."
"Kalau ada warga yang menceritakan jeleknya pembangunan, terima dengan lapang dada," tegas KDM melalui unggahan Instagramnya.
Gubernur juga memerintahkan Bupati Garut untuk segera melakukan rekonsiliasi dan memastikan perbaikan infrastruktur jalan di wilayah tersebut agar kejadian serupa tidak terulang kembali.(*)