POSBELITUNG.CO - Khairun Nisya, perempuan berusia 23 tahun yang viral sebagai pramugari gadungan Batik Air, ternyata merupakan korban penipuan bermodus rekrutmen.
Ia nekat menyamar karena tertipu Rp30 juta oleh oknum yang menjanjikannya pekerjaan.
Rasa malu kepada orang tua setelah uangnya raib membuatnya berpura-pura telah sukses menjadi pramugari hingga akhirnya diamankan di Bandara Soekarno-Hatta.
Di balik aksi penyamarannya yang menghebohkan publik, terdapat fakta pilu mengenai motif asli Khairun Nisya (KN).
Polisi mengungkapkan bahwa Nisya sebenarnya adalah korban dari janji manis seseorang yang tidak bertanggung jawab.
Kanit IV Indag Polres Bandara Soekarno Hatta, Iptu Agung Pujianto, membeberkan bahwa Nisya dikenalkan kepada seseorang yang mengaku mampu meloloskannya sebagai pramugari.
Namun, impian tersebut harus dibayar mahal:
Nisya menyetorkan uang sebesar Rp30 juta sebagai syarat administrasi palsu.
Setelah uang diberikan, janji tersebut tidak kunjung terwujud dan pelaku menghilang tanpa jejak.
Hingga kini, oknum yang menerima uang Nisya sudah tidak dapat dihubungi.
Pilihan nekat menjadi pramugari gadungan diambil Nisya sebagai pelarian dari rasa malu yang mendalam.
Ia merasa tidak sanggup mengakui kegagalannya dan kehilangan uang puluhan juta kepada keluarganya di Palembang.
"Dia sempat memposting di media sosialnya dan berfoto-foto bareng orang tuanya dengan mengenakan pakaian pramugari lengkap agar keluarga percaya," ujar Iptu Agung, Rabu (7/1/2025).
Meskipun penampilannya sangat meyakinkan, penyamaran Nisya terbongkar saat ia melakukan penerbangan dari Palembang menuju Jakarta pada Selasa (6/1/2026).
Ketelitian awak kabin Batik Air yang asli menjadi kunci berakhirnya sandiwara ini.
Kru pesawat menyadari adanya ketidaksesuaian standar pada pakaian yang dikenakan Nisya.
Seragam yang dibeli Nisya di marketplace ternyata memiliki pola yang tidak sesuai standar maskapai.
Nisya mengaku sebenarnya ingin berganti baju biasa saat di bandara Palembang, namun karena waktu yang mepet, ia terpaksa naik ke pesawat tetap dengan seragam pramugari gadungan tersebut.
Setelah dilakukan interogasi mendalam di Polresta Bandara Soekarno-Hatta, pihak maskapai Batik Air memutuskan untuk bersikap humanis terhadap kondisi Nisya.
Mengingat status Nisya yang juga merupakan korban penipuan dan tidak bertujuan melakukan kejahatan berat, kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan.
Nisya diwajibkan membuat pernyataan tertulis untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Seluruh atribut mulai dari seragam hingga tanda pengenal palsu disita oleh pihak maskapai.
(Tribunnnews/ Bangkapos.com)