TRIBUNJOGJA.COM-Mendaki gunung sering dipahami sebagai aktivitas menyenangkan untuk menikmati alam dan menantang diri, akan tetapi memiliki risiko yang tidak bisa dianggap remeh. Banyak kasus pendaki tersesat berawal dari mengabaikan hal hal sederhana.
Dalam beberapa peristiwa, tersesatnya pendaki bukan hanya karena kondisi alam yang ekstreem, melainkan kurangnya perencanaan dan pengetahuan matang sebelum pelaksanaan. Oleh karena itu, persiapan sebelum mendaki menjad faktor krusial untuk memastikan keselamatan saat di gunung.
Tidak hanya mengoraganisir alat yang lengkap, akan tetapi juga kesehatan fisik dan mental, pemahaman jalur, serta kepatuhan pada prosedur. Tim Tribunhogja.com merangkum 7 hal yang perlu disiapkan sebelum mendaki gunung agar selamat hingga kembali.
Baca juga: TIPS Mendaki: Berburu Golden Sunrise Terbaik di Puncak Gunung
Mencari informasi jalur resmi, estimasi waktu tempuh naik dan turun, titik camp untuk istirahat, titik mata air, dan juga batas waktu yang ditetapkan. Selain itu juga perlu menyiapkan logistik sesuai kebutuhan untuk mengantisipasi kelaparan di tengah jalur.
Perencanaan matang dapat membantu tim untuk memperkirakan keputusan saat di lapangan, terutama pada kondisi diluar prediksi. Pendaki bisa mendapatkan informasi lengkap melalui website dan media sosial masing masing Gunung.
Sebelum mulai naik, pendaki harus mengisi daftar data diri asli dengan lengkap. Data pendaki digunakan sebagai acuan ketika terjadi keadaan darurat.
Baik hiking dilakukan sendiri maupun bersama tim wajib mengisi jumlah dan nama anggota, rute, dan meninggalkan satu kartu pengenal untuk membantu tim penyelamat dalam menentukan strategi pencarian pada saat terjadi sesuatu.
Alam merupakan susunan yang tidak bisa diprediksi kondisinya. Perubahan cuaca dan suhu tidak selalu memberikan tanda secara jelas.
Ketika pendaki menyusuri alam, perlu mempelajari ciri khas medan gunung yang akan dinaiki, sebab setiap gunung memiiki kondisi yang berbeda. Pemahaman ini membantu agar berjalan tetap berada dalam jalur dan tubuh siap menerima perubahan cuaca.
Membawa alat komunikasi dalam keadaan baterai penuh serta daya cadangan seperti powerbank agar ketika terjadi sesuatu akan lebih mudah untuk saling mengabari. Akan tetapi, gunung memiliki kontur lebih tinggi daripada permukaan bumi sehingga minim sinyal.
Oleh karena itu, diperlukan membawa peluit dan senter atau yang biasa digunakan adalah headlamp berguna untuk memberi sinyal pada saat kondisi darurat.
Semakin bertambah ketinggian meter diatas laut (MDPL) dan elevasi, juga membutuh kan kekuatan fisik dan mental yang ekstra. Kelelahan, lapar, dan stress dapat menurunkan stamina tubuh ketika melanjutkan perjalanan hingga puncak.
Letak gunung yang jauh dari pemukiman warga dan akses kesehatan, perlu menyiapkan fisik dan mental lebih matang agar kekuatan dan ketenangan tetap terjaga. Alangkah baiknya sebelum berangkat ke mulai naik, istirahat dan tidur yang cukup sekaligus mengonsumsi vitamin agar kondisi tubuh terjaga.
Jika mendaki dengan teknik tektok atau naik turun pada hari yang sama, wajib membawa makanan dan minuman sesuai kebutuhan, selimut darurat, lampu headlamp, obat pribadi, dan pakaian nyaman.
Lebih lengkap, peralatan outdoor seperti tenda, bivak, sleeping bag, kompor, tali, traking pole, dan jas hujan juga wajib dibawa ketikamemiliki rencana camping.
Selain itu menggunakan lapisan baju mulai dari base layer, mid layer, dan outer agar suhu tubuh tetap terjaga, meningkatkan kenyamanan, dan mengurangi basah keringat yang menyebabkan hipotermia. Ketika berada kondisi tak menentu stabilitas suhu tubuh juga diperlukan agar tetap bisa bertahan dalam jangka waktu lebih panjang.
Baca juga: 4 Tips Mendaki Gunung Wajib Dilakukan untuk Hindari Hipotermia bagi Pemula
Gunung memiliki kondisi medan terbuka yang minim dengan penanda dan sinyal, sehingga memerlukan kemapuan dasar menentukan arah mata angin secara manual.
Keahlian ini membantu pendaki tetap berada di jalur utama serta menghindari risiko tersesat. Ketika tidak memahami mata angin, keputusan perjalanan justru bisa membawa pendaki jauh dari rute yang seharusya.
Beberapa alat untuk mebantu menentukan arah mata angin diantaranya peta dan kompas. Setiap pembelian dan pendaftaran tiket untuk mendaki gunung, petugas akan memberikan peta untuk mengarahkan pada jalur dan medaan jalan mencapai puncak. Tak hanya itu, setiap orang perlu membawa kompas.
Jarum kompas selalu menunjukkan ke utara, sehingga pendaki bisa menyesuaikan arah perjalanan sesuai peta jalur. Namun pada kondisi darurat, bisa mengamati arah matahari dimana jika pagi hari terbit pada arah timur dan sebaliknya terbenam berarti arah barat.
Gunung menjadi salah satu benda alam yang tidak dapat diprediksi keadaannya, untuk itu manusia sulit membayangkan kondisi di lapangan. Dengan demikian, mendaki gunung bukan seperti kegiatan biasa, meskipun saat ini banyak orang melakukannya.
Mengikuti tren tanpa pemahaman yang cukup justru meningkatkan risiko dan memperbesar kemungkinan terjadinya masalah. Alam tidak menyesuaikan dengan keinginan manusia, sebaliknya manusialah yang harus menyesuaikan dichatri dengan alam. Pendakian akan bermakna ketika melakukan perencanaan yang matang.
Mendaki bukan soal mencapai puncak, akan tetapi ketika dapat kembali bertemu dengan orang orang tersayang. (MG Erlysta Nafa Azhary)
• Pendaki Asal Magelang Siswa SMAN 5 Hilang di Gunung Slamet