BANGKAPOS.COM--Rasa malu karena gagal mewujudkan cita-cita justru membawa Khairun Nisya (23) ke dalam pusaran masalah besar.
Perempuan asal Palembang yang akrab disapa Nisya itu nekat menyamar menjadi pramugari gadungan demi menjaga kebanggaan orang tuanya.
Aksi nekat tersebut akhirnya terbongkar, viral di media sosial, dan berujung pada permintaan maaf terbuka kepada publik serta pihak maskapai.
Kasus ini mencuri perhatian publik setelah video dan foto-foto Nisya beredar luas di media sosial.
Dalam unggahan yang viral, Nisya tampak mengenakan seragam pramugari Batik Air lengkap dengan atribut resmi, mulai dari name tag, koper kru, hingga tatanan rambut sanggul khas awak kabin.
Penampilannya nyaris tak bisa dibedakan dari pramugari asli.
Belakangan terungkap, motif di balik aksi Nisya berawal dari kegagalannya lolos seleksi pramugari Batik Air.
Alih-alih jujur kepada keluarga, Nisya justru memilih jalan pintas dengan menyamar sebagai awak kabin.
Menurut pengakuannya kepada penyidik, Nisya merasa malu karena sebelumnya telah memberi tahu keluarga bahwa dirinya mengikuti seleksi pramugari.
Tekanan batin itulah yang mendorongnya membeli seragam dan atribut pramugari melalui toko online agar orang tuanya percaya bahwa ia telah diterima bekerja di maskapai penerbangan.
Upaya tersebut berhasil.
Orang tua Nisya benar-benar percaya bahwa putri mereka telah menjadi pramugari.
Bahkan, dalam sebuah video lama yang kembali viral, Nisya terlihat dijemput keluarga di bandara dengan pelukan hangat penuh kebanggaan.
Ia juga sempat berfoto bersama keluarga sambil mengenakan seragam pramugari, memperkuat keyakinan orang tuanya.
Aksi penyamaran Nisya mencapai puncaknya saat ia melakukan penerbangan Batik Air rute Palembang–Jakarta pada 6 Januari 2026.
Ia membeli tiket sebagai penumpang umum, namun tetap mengenakan seragam pramugari lengkap saat berada di bandara hingga naik ke pesawat.
General Manager Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Ahmad Syaugi Shahab, menjelaskan bahwa Nisya tetap menjalani prosedur keberangkatan layaknya penumpang biasa.
Ia melewati pemeriksaan keamanan di Security Check Point (SCP) dengan menunjukkan boarding pass yang sah.
“Petugas Aviation Security melakukan pemeriksaan sesuai SOP, meliputi pemeriksaan boarding pass, orang, dan barang bawaan. Dari hasil pemeriksaan, yang bersangkutan tidak membawa barang terlarang dan memiliki tiket resmi,” ujar Syaugi dalam keterangan pers, Kamis (8/1/2026).
Pantauan CCTV bandara juga menunjukkan seluruh proses berjalan sesuai aturan. Tidak ada pelanggaran keamanan pada tahap awal keberangkatan.
Meski lolos pemeriksaan bandara, penyamaran Nisya akhirnya terbongkar di dalam pesawat.
Awak kabin asli Batik Air mulai mencurigai keberadaan Nisya karena gerak-geriknya dianggap tidak lazim bagi seorang pramugari.
Kecurigaan tersebut semakin kuat ketika Nisya tidak mampu menjawab pertanyaan teknis seputar tugas awak kabin, termasuk pertanyaan dalam bahasa Inggris yang menjadi kemampuan dasar seorang pramugari.
Dari situlah identitas Nisya sebagai pramugari palsu terungkap.
Informasi dari lingkungan bandara menyebutkan, selama ini Nisya kerap bepergian menggunakan pesawat dengan gaya dan penampilan layaknya kru, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
Namun pada penerbangan terakhir, ia diduga berada di bawah pengawasan kru senior Lion Group yang lebih memahami detail awak kabin.
“Kalau Lion Group biasanya ada kru senior. Mungkin di situ mulai muncul pertanyaan. Apalagi saat ditanya tidak nyambung dan tidak bisa bahasa Inggris,” ungkap seorang sumber.
Kasus ini menjadi viral setelah akun X (Twitter) @ndymanoballl mengunggah peringatan tentang adanya flight attendant palsu.
Dalam unggahan tersebut, akun tersebut menyertakan beberapa foto Nisya lengkap dengan seragam pramugari Batik Air.
“Hati-hati FA gadungan. Energinya kebanyakan nyamar jadi pramugari. Kalau mau jadi pramugari, ikut rekrutmen, belajar, jangan halu,” tulis akun tersebut.
Unggahan itu langsung menuai ribuan komentar dari warganet.
Banyak yang mengecam tindakan Nisya karena dinilai berbahaya dan berpotensi melanggar keamanan penerbangan.
Namun tidak sedikit pula yang merasa iba dan menilai tindakan Nisya lahir dari tekanan mental serta keinginan membahagiakan orang tua.
Setelah kasusnya mencuat, Nisya akhirnya muncul dalam sebuah video permintaan maaf yang kini tersebar luas di berbagai platform media sosial.
Dalam video tersebut, ia mengakui perbuatannya dan menyampaikan penyesalan mendalam.
“Saya Khairun Nisya, umur 23 tahun, asal Palembang. Saya menyatakan bahwa saya benar melakukan penerbangan Batik Air rute Palembang–Jakarta dan menggunakan atribut pramugari, padahal saya bukan pramugari Batik Air,” ujar Nisya.
Ia juga menegaskan bahwa video permintaan maaf tersebut dibuat tanpa paksaan dari pihak mana pun, serta menyampaikan permohonan maaf kepada Batik Air dan Lion Group.
Kasat Reskrim Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, mengungkapkan bahwa dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan unsur tindak pidana dalam kasus ini.
Nisya tidak memiliki niat jahat selain menipu keluarga, dan tidak melakukan tindakan yang membahayakan penerbangan.
“Yang bersangkutan melakukan ini agar keluarganya percaya bahwa dia bekerja sebagai pramugari. Atribut didapat dari online shop,” jelas Yandri.
Batik Air pun memilih menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan.
Maskapai tidak melanjutkan proses hukum, namun menyita seluruh atribut yang digunakan Nisya serta meminta yang bersangkutan menandatangani surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya.
Kasus pramugari gadungan ini menjadi pengingat bahwa tekanan sosial, ekspektasi keluarga, dan kegagalan meraih cita-cita dapat mendorong seseorang melakukan tindakan di luar nalar.
Meski tidak berujung pidana, aksi Nisya tetap menjadi pelajaran penting tentang kejujuran, kesehatan mental, dan bahaya menyamar di lingkungan dengan standar keamanan tinggi seperti penerbangan.
Kini, Nisya harus menanggung konsekuensi sosial dari perbuatannya.
Namun di sisi lain, banyak pihak berharap kasus ini menjadi titik balik bagi Nisya untuk bangkit, menerima kegagalan, dan kembali mengejar mimpinya dengan cara yang benar.
(Bangkapos.com/Kompas.com/Sripoku.com)