Alasan Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Ditutup 2 Kali, Cuaca Buruk
January 09, 2026 09:04 AM

 

 

 

SURYA.co.id Surabaya - Aktivitas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang menghubungkan Jawa dan Bali sempat ditutup dua kali akibat cuaca buruk, Kamis (8/1/2026).

Penutupan pertama sekitar pukul 14.28-15.00 WIB, dengan alasan hujan deras yang mengakibatkan jarak pandang terbatas, yakni kurang dari 500 meter.

Selang sekitar sejam setelah dibuka, penyeberangan kembali ditutup sekitar pukul 16.05 WIB.

Baru sekitar sejam kemudian atau sekitar pukul 17.00 WIB, penyeberangan kembali dibuka.

Sama seperti yang pertama, penutupan kedua juga akibat hujan deras yang menyebabkan jarak pandang terbatas.

Cuaca Buruk Juga Sempat Menyebabkan Badai.

Penutupan tersebut sempat membuat kendaraan-kendaraan yang hendak menyebrang harus terhambat.

Mereka harus menunggu hingga cuaca aman di area parkir di dalam pelabuhan.

Penutupan tersebut tak sampai penyebabkan kemacetan di jalur utama Pelabuhan Ketapang.

Korsatpel BPTD Ketapang Bayu Kusumo Nugroho membenarkan adanya dua kali penutupan penyebrangan pada hari itu.

Pihaknya meminta para pengguna jasa untuk bersabar dan mematuhi instruksi petugas agar perjalanan di salah satu lintasan terpadat di Indonesia itu aman dan kembali lancar.

"Mohon bersabar demi keamanan dan kenyamanan bersama," tutur dia kepada Surya.co.id.

Peringatan Gelombang Tinggi

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Banyuwangi telah mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi wilayah perairan Banyuwangi untuk beberapa hari ke depan.

Sebagian wilayah perairan Banyuwangi berpotensi diterjang gelombang dengan ketinggian maksimal 4 meter dalam rentang 8-11 Januari 2026.

Meski tak masuk dalam risiko ombak tinggi, cuaca buruk seperti yang sempat terjadi tetap berisiko di lintasan penyebrangan Selat Bali.

Berdasarkan peringatan dini itu, potensi gelombang kategori sedang dengan ketinggian antara 1,25 meter hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di wilayah Selat Bali bagian selatan.

Sementara gelombang ketegori tinggi dengan ketinggian antara 2,5 meter hingga 4 meter berpotensi terjadi di wilayah periaran Banyuwangi bagian selatan.

Prakirawan BMKG Banyuwangi, Yustoto, mengatakan potensi gelombang tinggi terpantau tak terjadi di perairan wilayah penyebrangan Selat Bali.

Menurutnya, ketinggian gelombang di jalur penyeberangan yang menghubungkan Jawa dan Bali itu masih masuk dalam kategori aman.

"Ketinggian gelombang di Selat Bali berada di kisaran 0,2 meter hingga 0,6 meter," ujarnya.

Yustoto menyebut potensi gelombang sedang-tinggi di sebagian wilayah perairan Banyuwangi terjadi dipengaruhi oleh kondisi pola tekanan udara yang belum stabil.

"Terdapat perbedaan tekanan udara di wilayah Samudera Hindia, khususnya perairan selatan," ucap dia.

Dengan adanya peringatan dini itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan Selatan Banyuwangi untuk tetap waspada, terutama bagi para nelayan yang beraktivitas di perairan wilayah tersebut.

"Mengingat saat ini masih musim hujan, nelayan yang beraktivitas di perairan selatan diimbau untuk tetap waspada. Malam hari juga berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Selain itu, kecepatan angin maksimum mencapai sekitar 24 knot, sehingga angin terbilang cukup kencang di wilayah perairan selatan," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.