TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Siapa sangka, rumah yang sudah miring dan banyak retakan dinding di Bojongkoneng, Kabupaten Bogor ini masih dihuni orang.
Rumah ini dihuni oleh Jajang (49), pria yang setiap hari mencari rumput dan memberi pakan ternak kambing.
Rumah Jajang ini tepatnya berada di Kampung Curug, Desa Bojongkoneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.
Kampung yang mana tahun 2022 dan tahun 2025 lalu dilanda bencana pergeseran tanah merusak akses jalan dan rumah-rumah hingga ratusan kepala keluarga (KK) terdampak.
Jaraknya sekitar 20 Km dari pusat Kota Bogor, dengan melintasi akses jalan mulus hampir di sepanjang jalan.
Namun terpantau kondisi jalan berubah ketika memasuki akses jalan Kampung Curug tempat Jajang tinggal, karena rusak parah setelah terkoyak pergeseran tanah.
Rumah miring Jajang sendiri berada di antara sekumpulan rumah-rumah warga yang lain.
Namun rumah-rumah di sekeliling Jajang itu rusak terbengkalai ditinggal penghuni setelah ikut terdampak, bahkan di antaranya ada rumah sudah roboh hingga ada rumah yang terasnya terangkat nyaris menghadap ke langit karena tanah bagian belakangnya amblas.
Jajang tetap memilih menghuni rumah rusaknya sendirian sambil menjaga kandang kambing depan rumah, meski rumahnya itu nyaris ambruk.
Pada Rabu (7/1/2026) saat TribunnewsBogor.com mengunjungi rumah Jajang, pria kelahiran 1977 ini tengah santai main Handphone di sofa ruang tamu.
Sambil tampak bertelanjang dada selepas bekerja, Jajang menerima kedatangan TribunnewsBogor.com dengan terbuka.
Pria kelahiran setempat ini menceritakan terkait apa yang terjadi dan kondisi kampungnya.
"Yang itu rumah kakak, itu rumah anak, itu yang miring parah rumah tetangga, rumah tetangga yang deket tiang listrik udah roboh," kata Jajang sambil menunjuk satu per satu rumah yang terbengkalai di sekeliling rumahnya.
Jajang mengatakan, para penghuni rumah-rumah terbengkalai itu kini terpaksa mengontrak di tempat lain, termasuk keluarganya sendiri.
Mereka terpaksa pindah tepat setelah terjadi pergerakan tanah pada tahun 2025 kemarin.
"Sebelah sana (RW sebelah) kejadiannya tahun 2022, sebelah sini mah kemarin 2025 bulan puasa, lebih parah di sini, sampai pada ancur gini," kata Jajang.
Rumah Jajang sendiri juga cukup mengkhawatirkan, terpantau posisinya miring dan dinding temboknya banyak retakan menganga.
Saat TribunnewsBogor.com diperkenankan mencoba masuk ke dalam rumah Jajang, seketika langkah kaki terasa seperti menapaki jalan menurun.
Sebagian area lantai sudah tanpa keramik karena pecah, bahkan ada lantai yang kondisinya hancur turun ke bawah karena tanah amblas.
Selain dinding banyak retakan, bagian penutup langit-langit rumah Jajang juga berlubang setelah rusak berjatuhan.
"Udah parah ini mah, udah tinggal dorong, ambruk," canda Jajang sambil tertawa.
Ada beberapa hal yang membuat jajang tetap menghuni rumah tersebut sendirian, selain barang-barangnya masih ada di dalam rumah, dia juga punya ternak yang harus dirawat.
Selain itu, salah satu anaknya juga ada yang tinggal dekat rumah Jajang, sementara keluarganya yang lain mengontrak di tempat aman.
"Ah saya maksain aja, la hawla," kata Jajang.
Saat dulu pergerakan tanah terjadi di Kampung Curug, kata Jajang, beruntung tak ada korban.
Namun Jajang kini tetap memilih langsung mengungsi sementara saat hujan deras turun karena takut pergerakan tanah terjadi lagi.
"Alhamdulillah meski hancur begini, tidak ada korban. Kalau (tanah bergerak) sekaligus mah, gak tahu tuh. Ini mah kan pelan-pelan, tiba-tiba ada suara beletok, keramik retak," katanya.
Rencananya, Jajang bersama para warga terdampak pergerakan tanah lainnya bakal segera direlokasi ke tempat baru yang lebih aman.
"Direlokasi ke deket Gunung Pancar, udah ditetapkan ini mah, tinggal dibangun tahun 2026 ini katanya. Soalnya banyak, gak sedikit," katanya.
"Saya denger yang mau direlokasi semuanya lebih dari 500 KK, bukan cuma daerah sini doang, ada dari Cibarungsang, Kadumangu, Karangtengah, banyak katanya, lahannya enam Hektare," ungkap Jajang.