Sistem Resi Gudang di Mansapa Nunukan Aktif Lagi, Petani Rumput Laut Kini Punya Posisi Tawar
January 09, 2026 11:14 AM

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan kembali mengaktifkan Sistem Resi Gudang (SRG) di Mansapa, Kecamatan Nunukan Selatan, Kalimantan Utara.

Langkah ini dilakukan untuk memperkuat perlindungan bagi petani rumput laut sekaligus menjaga stabilitas harga komoditas unggulan daerah.

Melalui SRG, hasil panen petani tidak langsung dilepas ke pasar. Produk ditampung terlebih dahulu di gudang, kemudian melalui proses standarisasi kualitas sebelum dijual ke mitra perusahaan.

Skema ini memberi kepastian mutu dan harga, sehingga petani tidak lagi berada pada posisi tawar yang lemah akibat penilaian sepihak dari pembeli.

RUMPUT LAUT - Rumput Laut yang diproduksi petani di Nunukan Kalimantan Utara. Sistem Resi Gudang (srg) di Mansapa, Nunukan aktif lagi, petani rumput laut kini punya posisi tawar, tidak tergantung tengkulang, Jumat (9/1/2026).
RUMPUT LAUT - Rumput Laut yang diproduksi petani di Nunukan Kalimantan Utara. Sistem Resi Gudang (srg) di Mansapa, Nunukan aktif lagi, petani rumput laut kini punya posisi tawar, tidak tergantung tengkulang, Jumat (9/1/2026). (ARSIP - TribunKaltara.com / Febrianus Felis)

Baca juga: Produksi Anjlok, Petani Rumput Laut Nunukan Kaltara Keluhkan Pertumbuhan tak Subur dan Harga Stagnan

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Nunukan, Mukhtar, menegaskan SRG menjadi instrumen penting untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap rumput laut Nunukan.

"Produk yang masuk gudang akan diperiksa dulu, mulai dari tingkat kekeringan sampai kebersihannya. Setelah itu baru dipasarkan. Jadi petani tidak dirugikan, dan pembeli juga mendapat kualitas sesuai standar," ujar Mukhtar kepada TribunKaltara.com, Jumat (09/01/2026).

Menurutnya, persoalan utama selama ini adalah kualitas rumput laut yang tidak seragam.

Banyak hasil panen memiliki kadar kekeringan di bawah standar pabrik pengolahan, sehingga sering ditolak atau dihargai rendah.

"Kondisi ini membuat harga mudah jatuh. Dengan SRG, setiap produk yang keluar sudah tersertifikasi dan memenuhi standar. Ini memberi kepastian, baik bagi petani maupun industri," ucapnya.

Aktivasi SRG juga dinilai mampu mendorong semangat produksi petani. Hasil panen yang dititipkan di gudang memiliki jaminan pasar dan harga yang lebih rasional, tanpa harus bergantung pada tengkulak.

Sebagai salah satu sentra rumput laut di Kalimantan Utara, Nunukan mencatat produksi sekitar 5.000 ton rumput laut kering per bulan.

Angka ini menjadikan pengelolaan kualitas dan stabilitas harga sebagai faktor krusial bagi keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.

"SRG ini bukan hanya soal menahan barang, tapi membangun reputasi rumput laut Nunukan. Kalau kualitasnya konsisten, pasar akan terbuka lebih luas," ungkap Mukhtar.

(*)

Penulis: Febrianus Felis

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.