TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Dunia internasional dikejutkan oleh kabar penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat.
Peristiwa ini segera memicu polemik global, terutama terkait legalitas tindakan tersebut dalam perspektif hukum internasional.
Banyak pihak mempertanyakan, apakah sebuah negara memiliki hak untuk menangkap kepala negara lain tanpa mandat lembaga internasional.
Amerika Serikat berdalih bahwa langkah tersebut dilakukan atas dasar pemberantasan narkoba dan terorisme.
Namun, cara yang ditempuh, tanpa invasi militer terbuka dan hanya melalui operasi singkat, dinilai sebagai preseden berbahaya bagi tatanan hukum global.
Apalagi, tindakan tersebut menyentuh langsung prinsip kedaulatan negara yang selama ini menjadi fondasi utama hubungan internasional.
Menanggapi isu besar ini, Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru, Erwin Adrian, berbincang khusus dengan Fahmi Salsabila, MSi, pengamat hukum internasional dari Universitas Muhammadiyah Riau.
Berikut petikan wawancara eksklusif yang mengulas aspek hukum, politik, dan implikasi global dari penangkapan Presiden Venezuela tersebut.
1. Tanya: Secara hukum internasional, apakah diperbolehkan seorang presiden menangkap presiden negara lain?
Jawab:
Dalam hukum internasional, tindakan tersebut pada prinsipnya tidak dibenarkan. Penangkapan kepala negara lain tanpa persetujuan atau mandat internasional jelas melanggar kedaulatan negara. Piagam PBB Pasal 2 Ayat 4 secara tegas melarang penggunaan ancaman maupun kekuatan militer terhadap negara lain dalam bentuk apa pun.
2. Tanya:
Apa substansi utama dari Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB tersebut?
Jawab:
Pasal itu menegaskan bahwa setiap negara anggota PBB wajib menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekuatan terhadap integritas wilayah dan kemerdekaan politik negara lain. Artinya, tidak ada pembenaran untuk tindakan militer sepihak, kecuali mendapat mandat resmi dari Dewan Keamanan PBB.
3. Tanya:
Apakah ada kondisi tertentu yang memungkinkan intervensi dilakukan?
Jawab:
Intervensi hanya dimungkinkan jika ada mandat PBB setelah melalui perundingan internasional. Mandat tersebut biasanya diberikan dalam situasi luar biasa seperti genosida atau ancaman kemanusiaan global, bukan berdasarkan klaim sepihak suatu negara.
4. Tanya:
Bagaimana posisi Amerika Serikat dalam kasus Venezuela ini?
Jawab:
Amerika saat ini kerap dipersepsikan sebagai “negara koboi”, karena sering bertindak sepihak tanpa persetujuan internasional. Kasus Irak, Afghanistan, hingga kini Venezuela menunjukkan pola yang relatif sama, meski metode yang digunakan berbeda.
5. Tanya:
Apa yang membedakan kasus Venezuela dengan intervensi Amerika sebelumnya?
Jawab:
Perbedaannya, kali ini Amerika tidak melakukan invasi besar-besaran. Mereka menggunakan operasi singkat dan senyap untuk menculik kepala negara, yang hanya memakan waktu sekitar 2,5 hingga 3 jam. Ini sangat jarang terjadi dalam praktik hubungan internasional modern.
6. Tanya:
Apakah operasi ini terjadi secara tiba-tiba?
Jawab:
Tidak sepenuhnya. Sejak November hingga Desember 2025, sudah ada komunikasi antara Nicolás Maduro dan Donald Trump. Maduro sebenarnya sudah mengetahui adanya potensi intervensi dari Amerika Serikat.
7. Tanya:
Apa isi komunikasi antara Trump dan Maduro saat itu?
Jawab:
Dalam komunikasi tersebut, Trump meminta Maduro untuk mundur dari jabatannya. Amerika menuduh Maduro terlibat dalam penyelundupan narkoba dan terorisme, yang kemudian dijadikan dasar pembenaran operasi ini.
8. Tanya:
Apakah Amerika sudah melakukan langkah lain sebelum penangkapan?
Jawab:
Ya, pada Desember 2025 Amerika melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal yang mereka sebut sebagai kapal penyelundup. Namun, Venezuela menyatakan kapal-kapal tersebut adalah perahu nelayan, dan sekitar 105 orang dilaporkan tewas di perairan Karibia.
9. Tanya:
Apa kepentingan utama Amerika di Venezuela menurut Anda?
Jawab:
Amerika menginginkan pemimpin Venezuela yang bisa bekerja sama dengan mereka. Dalih narkoba dan terorisme hanyalah pintu masuk. Di balik itu, pasti ada kepentingan politik dan ekonomi strategis yang lebih besar.
10. Tanya:
Mengapa dunia internasional tampak terkejut dengan peristiwa ini?
Jawab:
Karena biasanya Amerika melakukan invasi terbuka terlebih dahulu. Di Afghanistan misalnya, dilakukan penyerangan besar sebelum rezim tumbang. Sementara di Venezuela, penangkapan presiden dilakukan secara cepat dan senyap, tanpa perang terbuka.
11. Tanya:
Bagaimana reaksi di dalam negeri Amerika sendiri?
Jawab:
Trump sebenarnya sudah diingatkan agar tidak melakukan petualangan militer karena biayanya sangat besar. Ia juga mendapat tekanan, demo, dan penolakan dari sejumlah tokoh politik di dalam negeri Amerika.
12. Tanya:
Namun mengapa Trump tetap melanjutkan operasi tersebut?
Jawab:
Trump tetap berdalih bahwa narkoba dan terorisme adalah ancaman serius yang harus diatasi. Dalih ini kerap digunakan untuk membenarkan tindakan keras di luar wilayah Amerika.
13. Tanya:
Bagaimana proses teknis operasi tersebut dilakukan?
Jawab:
Amerika menggunakan embargo sistemik, bukan manual. Selain itu, mereka memanfaatkan teknologi canggih untuk melumpuhkan sistem pertahanan Venezuela, termasuk dugaan penggunaan teknik berbasis gim atau simulasi digital untuk mengacaukan radar.
14. Tanya:
Apa dampaknya terhadap sistem pertahanan Venezuela?
Jawab:
Sistem pertahanan buatan Rusia seperti S-300 dilaporkan lumpuh. Radar menjadi tidak berfungsi, sehingga pertahanan udara Venezuela praktis tidak bisa merespons serangan.
15. Tanya:
Apakah ada serangan fisik selama operasi berlangsung?
Jawab:
Ada penyerangan terhadap beberapa fasilitas negara dan militer. Meski korban jiwa minim, sejumlah bangunan dan peralatan militer dilaporkan mengalami kerusakan.
16. Tanya:
Bagaimana momen penangkapan Maduro itu sendiri?
Jawab:
Media sosial Trump bahkan menampilkan gambar Maduro diborgol dan ditutup matanya. Ini menunjukkan operasi tersebut bukan hanya tindakan militer, tetapi juga pesan politik yang sangat kuat ke dunia internasional.
17. Tanya:
Apakah mungkin ada kesepakatan dengan militer Venezuela?
Jawab:
Kemungkinan itu ada. Operasi yang begitu cepat dan minim perlawanan mengindikasikan adanya komunikasi senyap dengan petinggi militer Venezuela untuk meminimalkan konflik dan korban.
18. Tanya:
Mengapa Venezuela terkesan tidak melakukan perlawanan besar?
Jawab:
Venezuela mungkin mempertimbangkan dampak embargo yang sudah lama merugikan negara mereka. Perlawanan besar justru bisa memperburuk kondisi ekonomi dan politik nasional.
19. Tanya:
Apa implikasi hukum internasional dari peristiwa ini?
Jawab:
Ini menjadi preseden berbahaya. Jika dibiarkan, negara kuat bisa dengan mudah menangkap pemimpin negara lain tanpa proses hukum internasional yang sah, sehingga tatanan global menjadi rapuh.
20. Tanya:
Apa pelajaran penting dari kasus ini bagi dunia internasional?
Jawab:
Kasus ini menunjukkan bahwa hukum internasional bisa dilemahkan oleh kekuatan politik dan militer. Dunia internasional harus memperkuat kembali peran PBB agar prinsip kedaulatan negara tidak sekadar menjadi norma di atas kertas.
( Tribunpekanbaru.com/Alexander)