Profesor di The University of Chicago Amerika Serikat (AS) asal Indonesia, Haryadi Gunawi beberkan data terkait negara yang paling banyak luluskan mahasiswa S2-S3 dari negeri Paman Sam itu. Indonesia termasuk dalam daftar tersebut, tapi urutan keberapa?
Haryadi merujuk pada data yang disampaikan oleh National Science Foundation (NSF) AS. Menurutnya sebanyak 35-40% mahasiswa PhD bidang sains dan teknik di AS adalah mahasiswa internasional.
Pada 2018, China menjadi negara paling banyak yang luluskan mahasiswa PhD (kombo S2-S3) dengan jumlah 6.182 orang. Peringkat ini diikuti dengan India sebanyak 2.040 mahasiswa dan Korea Selatan 1.035 mahasiswa.
"Lalu Indonesia di mana sesuai dengan data NSF? Hanya 82 (mahasiswa yang lulus dari AS) waktu itu di tahun 2018. Jadi gapnya masih sangat jauh," katanya.
Ia menjelaskan, PhD di Amerika berupa program kombo studi S2 dan S3 yang berjalan dalam waktu 5-6 tahun. Jika pada 2018 ada 6 ribu mahasiswa China yang lulus dari AS, jumlahnya bisa lebih besar saat ini.
"Kita bisa mungkin melihat 37-40 ribu mahasiswa PhD China yang lagi sedang aktif dalam program S2-S3. Belum include (termasuk) program professional master, itu terpisah lagi. Ini saya hanya bicara program PhD," sambung Haryadi.
Daftar Negara yang Luluskan Mahasiswa PhD dari AS
Berdasarkan data NSF terbaru, ini jumlah negara dengan lulusan PhD terbanyak pada 2024:
- China: 6.756 mahasiswa
- India: 2.649 mahasiswa
- Korea Selatan: 1.061 mahasiswa
- Bangladesh: 593 mahasiswa
- Arab Saudi: 502 mahasiswa
- Iran: 500 mahasiswa
- Taiwan: 419 mahasiswa
- Kanada: 374 mahasiswa
- Turki: 353 mahasiswa
- Brasil: 308 mahasiswa
- Nepal: 306 mahasiswa
- Nigeria: 304 mahasiswa
- Meksiko: 235 mahasiswa
- Sri Lanka: 233 mahasiswa
- Kolombia: 225 mahasiswa
- Pakistan: 220 mahasiswa
- Italia: 185 mahasiswa
- Vietnam: 183 mahasiswa
- Jerman: 153 mahasiswa
- Mesir: 149 mahasiswa
- Ghana: 148 mahasiswa
- Inggris: 147 mahasiswa
- Jepang: 138 mahasiswa
- Spanyol: 117 mahasiswa
- Rusia: 113 mahasiswa
- Yordania: 111 mahasiswa
- Prancis: 110 mahasiswa
- Thailand: 108 mahasiswa
- Chili: 103 mahasiswa
- Indonesia: 99 mahasiswa
- Yunani: 90 mahasiswa
- Singapura: 84 mahasiswa
- Peru: 74 mahasiswa
- Kenya: 72 mahasiswa
- Lebanon: 67 mahasiswa
- Argentina: 65 mahasiswa
- Israel: 62 mahasiswa
- Filipina: 61 mahasiswa
- Ekuador: 60 mahasiswa
- Australia: 48 mahasiswa
80% Mahasiswa PhD di AS Tidak Didanai Negaranya
Haryadi membeberkan, sebanyak 80% mahasiswa internasional yang memilih PhD di AS tidak didanai oleh negaranya. Mereka biasanya mendapatkan beasiswa dari kampus Amerika langsung, kok bisa?
Beasiswa PhD dari perguruan tinggi AS bisa didapatkan dengan berbagai cara, seperti:
1. Menjadi asisten pengajar (teaching assistantship) di kelas-kelas profesor.
2. Menjadi asisten peneliti yang didanai oleh National Science Foundation, Department of Defense, Department of Energy, dan banyak departemen lainnya.
3. Fellowship dari kampus atau ekstra fellowship dari Negara Amerika Serikat.
4. Beasiswa langsung dari kampus atau negara asal.
5. Biaya pribadi.
Amerika disebut Haryadi membutuhkan banyak tenaga pengajar di bidang sains, matematika, dan teknik. Dengan begitu, ketika seseorang bekerja sebagai asisten penelitian atau asisten dosen/profesor, kebanyakan dari mereka juga mendapatkan beasiswa dari kampus tersebut.
"Jadi ini by default, 80 persen, siswa-siswa yang diterima di program kombo S2-S3 di Amerika itu bakal otomatis diberikan beasiswa, dalam artian uang kuliah gratis dan tambah gaji bulanan," tegas Haryadi.







