TRIBUNNEWS.COM - Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan alam dan keberagaman. Namun, di balik keberlimpahan itu, negeri ini juga dihadapkan pada ancaman bencana alam yang sewaktu-waktu dapat meluluhlantakkan kehidupan.
Seperti yang terjadi pada akhir 2025, Pulau Sumatra kembali diuji oleh bencana banjir dan longsor berskala besar akibat hujan ekstrem yang berlangsung berhari-hari. Kondisi ini dipicu oleh sistem cuaca yang tidak biasa.
Dampak bencana ini begitu luas. Tak hanya merendam permukiman dan merenggut korban jiwa, banjir juga mengganggu sendi-sendi kehidupan ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan. Aktivitas ekonomi terhenti, lahan rusak, dan ketidakpastian masa depan pun membayangi.
Banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat memaksa ratusan ribu warga mengungsi, menghancurkan infrastruktur dasar, serta membuat jutaan jiwa terdampak secara langsung.
Di sejumlah wilayah, lahan pertanian dilaporkan rusak atau terendam dalam skala luas, termasuk kebun kelapa sawit yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat pedesaan dan kini membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan.
Di banyak wilayah Sumatra, kelapa sawit bukan sekadar komoditas, melainkan penopang utama ekonomi keluarga. Dari hasil penjualan tandan buah segar (TBS), petani membiayai kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, layanan kesehatan, hingga aktivitas sosial dan keagamaan.
Seiring permintaan global terhadap minyak kelapa sawit (CPO) yang terus meningkat dan harga yang relatif stabil dibandingkan komoditas lain membuat sebagian petani menjadikan sawit sebagai sumber penghidupan utama
Salah satu petani yang merasakan langsung dampak banjir adalah Mukhlis (41), petani sawit asal Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Sejak 2019, ia menekuni usaha perkebunan kelapa sawit secara mandiri dengan memanfaatkan lahan keluarga.
Periode tersebut bertepatan dengan berkembangnya program replanting serta kemudahan akses bibit unggul dan edukasi dari pemerintah, yang mendorong ekspansi perkebunan rakyat di berbagai daerah.
Selain faktor ketersediaan lahan, Mukhlis melihat sawit sebagai komoditas yang menjanjikan karena prospek ekonominya yang panjang. Permintaan minyak nabati dunia yang terus tumbuh membuat sawit tetap menjadi pilihan utama bagi banyak petani.
Dalam kondisi normal, hasil kebun tersebut menjadi tulang punggung perekonomian keluarganya, mencakup pemenuhan kebutuhan primer, pendidikan, kesehatan, hingga investasi masa depan.
“Sawit ini bukan cuma tanaman, tapi sumber hidup keluarga kami,” ujarnya dalam wawancara eksklusif bersama Tribunnews pada Kamis (8/1/2026).
Mukhlis turut menceritakan bagaimana bencana itu datang dan mengubah segalanya. Hujan deras tak kunjung berhenti sejak 23 November 2025 hingga Rabu dini hari, 26 November 2025. Sekitar pukul 03.00 WIB, angin kencang menghantam rumah-rumah dan pepohonan. Listrik padam, sementara beberapa ruas Jalan Lintas Sumatra tertutup reruntuhan pohon tumbang.
Tak lama berselang, air sungai meluap ke permukiman warga. Banjir datang bukan hanya dengan arus deras, tetapi juga membawa lumpur dan potongan kayu besar yang menghantam rumah-rumah. Kepanikan pun melanda. Warga berbondong-bondong mengungsi ke rumah kerabat, berharap air segera surut.
Namun, harapan itu pupus. Menjelang malam, air justru terus naik. Banyak warga terkejut karena sepanjang ingatan mereka, wilayah tersebut belum pernah terendam, bahkan saat banjir besar sebelumnya. Mukhlis dan keluarganya segera naik ke lantai dua rumah pamannya, hanya membawa pakaian seadanya, obat-obatan, dan sedikit makanan.
“Kami mengira air akan berhenti di lutut atau mungkin di pinggang. Tapi takdir berkata lain,” tuturnya.
Baca juga: Penyintas Banjir Aceh, Sumut, Sumbar Dapat Dukungan Kesehatan hingga Trauma Healing
Banjir meninggalkan dampak serius pada kebun sawit Mukhlis. Genangan air yang berlangsung lama menyebabkan kerusakan akar tanaman, erosi dan sedimentasi tanah, serta menurunnya tingkat kesuburan lahan. Akses jalan ke kebun juga putus total sehingga aktivitas panen dan distribusi hasil sawit nyaris mustahil dilakukan.
“Buah ada, tapi tidak bisa dipanen. Lahan berlumpur dan jalan sama sekali tidak bisa dilewati,” katanya.
Selain itu, risiko serangan hama dan penyakit meningkat, sementara biaya operasional justru membengkak. Aktivitas kerja sehari-hari terganggu, fasilitas kebun rusak, dan persoalan kesehatan serta sanitasi mulai muncul di lingkungan sekitar.
Kondisi serupa juga terjadi di daerah lain di Sumatra. Di Aceh Singkil, misalnya, banjir dilaporkan menyebabkan produksi sawit petani anjlok hingga 30 persen. Sementara di Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, lahan sawit warga rusak parah akibat banjir dan longsor, dengan banyak pohon tumbang dan tertimbun material.
Bagi Mukhlis dan petani sawit lainnya, dampak banjir bukan hanya soal kehilangan hasil panen. Ini menyangkut keberlanjutan hidup. Modal untuk pemulihan dan replanting terbatas, sementara hingga kini belum ada bantuan yang ia terima, baik dari pemerintah maupun pihak lain.
“Tantangan terbesar kami itu modal dan akses lahan. Infrastruktur rusak, biaya besar, tapi penghasilan terhenti,” ujarnya.
Di tengah keterpurukan, Mukhlis masih menyimpan harapan. Ia berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan dapat hadir lebih nyata untuk membantu petani bangkit pascabencana, mulai dari menjaga stabilitas harga sawit, mempermudah akses pupuk dan benih, menyediakan skema permodalan yang terjangkau, hingga pendampingan teknologi serta penguatan asuransi pertanian.
Lebih dari sekadar kerugian materiil, banjir di Sumatra menjadi pengingat bahwa bencana alam tidak hanya merusak bangunan dan infrastruktur, tetapi juga mengguncang fondasi ekonomi masyarakat. Di balik data kerusakan dan angka kerugian, ada kisah petani seperti Mukhlis yang berjuang mempertahankan hidup dari tanah yang sempat tenggelam.
Pemulihan pascabencana bukan semata soal memperbaiki lahan, melainkan juga mengembalikan harapan agar para petani dapat kembali menanam, memanen, dan melanjutkan kehidupan yang sempat terhenti oleh bencana.