Arsitek Pemulihan Itochu dari Krisis 1990-an, Uichiro Niwa Tutup Usia
January 10, 2026 01:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Tokoh bisnis sekaligus diplomat Jepang, Uichiro Niwa, meninggal dunia pada 24 Desember 2025. 

Kabar duka tersebut baru diumumkan ke publik, Kamis (8/1/2026).

Niwa dikenal sebagai sosok yang berhasil menyelamatkan Itochu Corporation dari krisis besar akhir 1990-an serta sebagai duta besar Jepang untuk China pertama dari kalangan sipil pascaperang yang aktif meredakan ketegangan hubungan bilateral.

Bangkitkan Itochu dari Krisis

Saat menjabat Presiden Itochu pada 1998, Niwa mengambil keputusan berani dengan melepas berbagai aset bermasalah akibat anjloknya harga properti.

Langkah ini membuat Itochu mencatat rugi bersih sebesar 88,2 miliar yen pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2000.

Baca juga: Polisi di Osaka Jepang Terseret 700 Meter di Kap Mobil, Pengemudi Buron

Namun, Niwa juga mendorong investasi strategis, termasuk pada FamilyMart.

Hasilnya, pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2001, Itochu membukukan laba bersih 70,5 miliar yen, tertinggi pada masanya, dan menandai pemulihan berbentuk V yang legendaris.

Dalam masa restrukturisasi, Niwa menunjukkan keteladanan dengan memangkas kompensasi eksekutif dan berangkat kerja menggunakan kereta dari rumahnya di Prefektur Kanagawa ke kantor pusat di Tokyo.

Diplomat Sipil di Beijing

Setelah pensiun dari korporasi, Niwa diminta pemerintah Jepang menjadi Duta Besar Jepang untuk China.

Ia menerima mandat tersebut sebagai bentuk pengabdian terakhir bagi negara.

Berbekal jejaring bisnis yang kuat di China, Niwa diharapkan menjembatani kepentingan ekonomi Jepang–China.

Tantangan besar muncul pada 2012 ketika hubungan kedua negara memburuk, termasuk terkait isu Kepulauan Senkaku.

Hingga akhir masa jabatannya, Niwa aktif melakukan diplomasi untuk memperbaiki hubungan bilateral.

Upaya tersebut berlanjut saat ia menjabat Ketua Asosiasi Persahabatan Jepang–China pada 2015.

Dalam wawancara dengan Mainichi Shimbun pada 22 Oktober, Niwa menegaskan pentingnya dialog.

“Tidak ada gunanya Jepang berperang dengan China. Dialog dan interaksi harus diperbanyak,” katanya.

Ia juga menilai kemakmuran bersama akan meredam friksi dan mendorong Jepang memimpin kerja sama teknologi untuk memperkaya Asia dan China dalam 20–30 tahun ke depan.

Diskusi  beasiswa  di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.