Tidak Cukup Sekadar Ada Sayur di Piring, Ini Kesalahan Gizi Anak yang Sering Terjadi
January 10, 2026 04:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah gencarnya kampanye gizi seimbang, tantangan pemenuhan zat gizi anak di Indonesia ternyata masih sangat mendasar.

Banyak anak dianggap sudah makan dengan baik, padahal kualitas dan kecukupan gizinya belum tentu terpenuhi.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK, menyebut persoalan ini berakar dari hal yang sering dianggap sepele, yakni kesadaran orang tua terhadap kebutuhan gizi anak yang sebenarnya.

“Tantangannya tadi seperti disampaikan, yang pertama kesadaran. Kesadaran bahwa seorang anak itu butuh beragam macam zat gizi, baik makro maupun mikronutrien,” ujar dr. Diana pada talkshow yang diselenggarakan Danone bertema Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Baca juga: BGN Tegaskan Menu MBG Saat Libur Sekolah Bebas UPF, Tetap Mengacu Gizi Seimbang

Panduan Gizi Ada, Tapi Kesadaran Masih Tertinggal

Indonesia sebenarnya memiliki berbagai panduan gizi yang mudah diakses masyarakat. 

Mulai dari konsep Isi Piringku hingga Tumpeng Gizi Seimbang yang kerap dipajang di fasilitas kesehatan, sekolah, dan ruang publik.

Namun, keberadaan panduan tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan dalam praktik sehari-hari di rumah. 

Banyak orang tua merasa anaknya sudah makan “cukup sehat” hanya karena ada sayur di piring, tanpa memperhatikan variasi jenis dan kecukupan porsinya.

Kesadaran inilah yang menjadi tantangan utama dalam pemenuhan gizi anak di Indonesia.

Makan Sayur Bukan Sekadar Ada, Tapi Harus Beragam

Menurut dr. Diana, kebutuhan zat gizi anak tidak bisa dipenuhi hanya dari satu atau dua jenis bahan makanan. 

Keragaman pangan menjadi kunci agar anak mendapatkan spektrum zat gizi yang lengkap.

“Karena zat gizi yang beragam ini bisa didapatkan dari makan makanan yang beragam. Jadi kalau makan sayur nggak boleh cuma wortel terus saja,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa pengenalan variasi makanan memang perlu dilakukan secara bertahap, agar anak dapat menerima rasa dan tekstur yang berbeda tanpa paksaan.

Proses ini penting untuk membentuk kebiasaan makan sehat jangka panjang.

Baca juga: BGN Harap SPPG Kreatif Edukasi Anak soal Gizi: Driver MBG Boleh Berkostum Power Ranger

Masalah Klasik: Jumlah yang Sering Terlupakan

Selain variasi, persoalan lain yang kerap luput dari perhatian adalah jumlah asupan. 

Tidak sedikit orang tua merasa anak sudah mengonsumsi sayur dan makanan bergizi, padahal porsinya terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan harian.

“Seringkali kan lupa. Soalnya seringkali kita merasa bahwa ah kita sudah makan sayur kok, tapi sebenarnya hanya sayur sop yang jumlah seratnya sedikit mungkin itu sih,” kata dr. Diana.

Kondisi ini membuat anak berisiko mengalami kekurangan serat dan zat gizi mikro meskipun secara kasat mata tampak sudah makan lengkap.

Dampak Jangka Panjang dari Gizi yang Tidak Optimal

Pemenuhan gizi yang kurang optimal pada masa anak-anak dapat berdampak panjang terhadap pertumbuhan fisik, daya tahan tubuh, hingga kemampuan belajar. 

Anak yang kekurangan zat gizi penting berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang, mudah sakit, dan sulit mencapai potensi maksimalnya.

Masalah ini juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada tingginya angka stunting dan masalah gizi lainnya di Indonesia.

Diana menekankan bahwa kunci perbaikan gizi anak dimulai dari rumah. 

Orangtua perlu mengubah cara pandang bahwa makan sehat bukan sekadar kenyang, melainkan terpenuhi kebutuhan zat gizi yang beragam dan cukup.

Dengan kesadaran yang lebih baik, variasi makanan yang lebih luas, serta perhatian pada jumlah porsi, kualitas gizi anak dapat ditingkatkan tanpa harus selalu bergantung pada makanan mahal atau produk khusus.

Pemenuhan gizi anak bukan soal instan, tetapi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan tangguh.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.