14 Orang Meninggal Dunia karena DBD, Kasus Tertinggi di Badung
Tribun January 10, 2026 09:03 AM

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali, mencatatkan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Bali sepanjang tahun 2025.

Di mana kasus tertinggi terjadi di Badung, Gianyar, Buleleng, Karangasem dan Denpasar. 

Di Badung sebanyak 2.038 kasus dan meninggal 0 kasus, Gianyar sebanyak 1.972 kasus dan meninggal 3 kasus, Klungkung 668 kasus dan meninggal 2 kasus, Bangli 396 kasus dan meninggal 0 kasus, Karangasem sebanyak 1.518 kasus dan meninggal 1 kasus, Buleleng sebanyak 1.726 kasus dan meninggal 1 kasus, Denpasar sebanyak 1.291 kasus dan meninggal 4 kasus Kabupaten Jembrana sebanyak 118 kasus dan meninggal 0 kasus, terakhir Tabanan sebanyak 664 kasus dan meninggal 3 kasus. 

Sehingga total kasus DBD tahun 2025 sebanyak 10.391 orang, meninggal 14 orang. 

Plt Kepala Bidang P2P Dinkes Provinsi Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti ketika ditemui Tribun Bali menyebutkan, kasus DBD di Bali jika dibandingkan pada tahun 2024 tidak ada peningkatan signifikan. dr. Raka juga memaparkan faktor penyebab kasus DBD tinggi di Badung, Gianyar, Buleleng, Karangasem dan Kota Denpasar. 

“Kalau faktor mungkin yang paling mempengaruhi dari kepadatan penduduk. Kalau Buleleng tidak semua wilayah biasanya perkotaan yang paling tinggi. Kemudian tentu mobilitas penduduk yang sangat berpengaruh,” jelasnya, Jumat (9/1/2026). 

Lebih lanjut ia mengatakan, justru curah hujan sedikit membuat kasus DBD jadi meningkat, sebab membuat cuaca cenderung menjadi lembab dan mendukung pertumbuhan nyamuk.

Berkaca pada sepanjang tahun lalu, curah hujan cukup deras dan membuat aliran drainase air cukup tinggi, sehingga tidak ada kesempatan air untuk menggenang.

“Lebih baik sebenarnya kalau hujannya deras dibandingkan yang sedikit-sedikit,” imbuhnya. 

Kasus DBD tahun 2025 ini lebih rendah dibandingkan pada tahun 2024, yakni sebanyak 15.570 kasus dan angka kematiannya 25 kasus.

dr. Raka pun menjabarkan angka kasus tersebut turun sebab dari awal Dinkes Bali sudah membuat surat edaran (SE) terkait kewaspadaan DBD ke Kabupaten/Kota.

Kemudian di tahun 2025 Dinkes Bali juga dibantu oleh CSR swasta untuk membantu mengerahkan Jumantik turun ke rumah memantau jentik di tiga Kabupaten/Kota dengan kasus DBD tertinggi. 

“Jika jumantik menemukan jentik kemudian minggu depan dikunjungi dievaluasi lagi karena pada kunjungan pertama itu diedukasi waspada DBD termasuk edukasi 3M plus."

"Itu ternyata salah satu yang cukup bisa menggerakan masyarakat untuk pantau jentik di rumah. Lalu kita ada satu Desa di Kabupaten Gianyar dibantu oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga terkait dengan vaksinasi DB jadi tentu dengan inovasi-inovasi itu kita harapkan bisa jadi penggerak Kabupaten/Kota,” terangnya. 

1.000 Siswa Divaksin

Vaksinasi DBD untuk pencegahan secara spesifik sama seperti Covid-19 juga telah dilakukan di Bali.

Dengan sasaran anak remaja di sekolah. Di tahun 2025, vaksinasi DBD dilangsungkan di salah satu Desa di Kabupaten Gianyar sebab jumlah kasusnya tinggi dan juga merupakan daerah pariwisata. 

“Jadi dipilih oleh salah satu LSM untuk dibantu vaksinasi. Sudah 1.000 siswa divaksin. Kita sudah upayakan dan undang Kabupaten/Kota terkait vaksin DBD, yang kita harapkan inovasi selain 3M plus ada inovasi Kabupaten/Kota tapi tergantung anggaran masing-masing. Sementara Dinkes Bali belum ada rencana melakukan vaksinasi,” beber Plt Kepala Bidang P2P Dinkes Provinsi Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti. 

Soal nyamuk wolbachia untuk cegah DBD, ia mengatakan belum ada perkembangan lebih lanjut di Provinsi Bali. Hal ini dikarenakan masih terdapat kontroversi di masyarakat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.