Pemandangan penuh harapan dan ceria nampak dari Kompleks Rumah Hunian Danantara di Aceh Tamiang. Warga yang selama ini tinggal di tenda darurat kini mulai menghuni rumah sementara yang dibangun pemerintah melalui BUMN.
Senyum semringah terlihat dari wajah para orang tua, sementara tawa anak-anak memecah keheningan sore di kompleks hunian yang dibangun berderet rapi tersebut. Setelah lebih dari sebulan hidup di tenda pengungsian, tempat ini terasa seperti awal kehidupan baru.
Anak-anak menjadi potret paling jujur dari kebahagiaan itu. Mereka berlarian, bermain ayunan di taman bermain yang tersedia, sesuatu yang sebelumnya tak pernah mereka rasakan selama tinggal di tenda darurat. Beberapa anak bahkan tak kuasa menahan kegembiraan, melompat-lompat di atas kasur yang sudah rapi dan bersih di dalam hunian. Pemandangan sederhana, namun sarat makna: rasa aman akhirnya kembali.
Perbesar
Warga Aceh Tamiang sudah mulai huni rumah sementara, Sabtu (10/1/2026).
Foto: Dok. Bakom RI
Selama berada di tenda pengungsian, ruang bermain anak nyaris tak ada. Kini, mereka memiliki halaman, ayunan, dan ruang terbuka yang memberi kebebasan untuk kembali menjadi anak-anak. Orang tua pun tampak lebih tenang, duduk di kursi taman yang disediakan di depan setiap unit, sambil mengawasi anak-anak mereka bermain.
Rika Jahara, salah satu warga yang kini menghuni rumah sementara tersebut, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Dengan mata berbinar, ia mengungkapkan kebahagiaannya.
“Senang sekali saya, senang. Rasanya jangan dipindah lagi. Terima kasih pemerintah sudah dikasih tempat tinggal kami. Soalnya rumah kita tidak ada lagi. Terima kasih pemerintah,” ujarnya penuh haru.
Hunian sementara ini jauh dari kesan darurat. Setiap unit dirancang fungsional dengan satu pintu dan satu jendela untuk sirkulasi udara. Di dalamnya sudah tersedia dua tempat tidur, lemari, kipas angin, hingga meja makan. Akses jalan antarblok dilapisi rumput buatan yang menambah kesan asri, lengkap dengan pot tanaman penghijauan di setiap pintu.
Tak hanya itu, setiap unit juga dilengkapi meteran listrik mandiri dan akses wifi gratis dari Telkom Indonesia, memastikan warga tetap terhubung dengan dunia luar. Infrastruktur pendukung lainnya pun tersedia, termasuk klinik kesehatan yang berada tak jauh dari hunian.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang, Dokter Mustakif memastikan layanan kesehatan berjalan optimal.
Perbesar
Warga Aceh Tamiang sudah mulai huni rumah sementara, Sabtu (10/1/2026).
Foto: Dok. Bakom RI
“Di belakang kami, ini ada klinik kesehatan. Tiap hari dan tanpa ada hari libur, baik anak kecil, bayi, sampai dengan lansia, dengan yang penyintas ataupun yang beresiko, termasuk ibu hamil nanti,” jelasnya.
Dengan konsep modular yang cepat dan berkualitas, rumah sementara ini bukan sekadar tempat berteduh, melainkan ruang pemulihan. Di sinilah harapan kembali tumbuh, diiringi tawa anak-anak dan doa agar mereka tak perlu lagi berpindah.
Rasa Syukur Warga Aceh Tamiang Tempati Huntara
Detik-detik banjir bandang pada akhir November lalu masih membekas di ingatan Siti Rahma.
Kala itu, warga Kampung Sukajadi, Kabupaten Aceh Tamiang tersebut masih tinggal di sebuah hunian yang nyaman di sisi sungai. Meluapnya air dan naik-turunnya permukaan sungai sudah lumrah ia rasakan sehari-hari.
Firasat serupa kembali ia rasakan sesaat sebelum bencana terjadi. Awalnya, ia mengira luapan air sungai yang terjadi saat itu hanya bersifat sementara, seperti kejadian-kejadian sebelumnya. Namun, air ternyata tak kunjung surut. Air sungai kian meninggi, dan pada akhirnya mengubah hidupnya 180 derajat.
“Saat malam tiba, rumah kita sudah tersapu banjir. Rumah kami sudah tidak ada lagi,” ujar Siti.
Situasi mencekam itu memaksa Siti dan keluarganya mengungsi ke Posko Pengungsian Jembatan Kuala Simpang. Selama sebulan, mereka bertahan dalam keterbatasan, dengan satu harapan sederhana: bisa kembali memiliki tempat untuk berkumpul bersama keluarga.
Untungnya, harapan Siti akhirnya terwujud. Pada Kamis (8/1), Siti dan keluarganya telah beranjak dari posko pengungsian dan berpindah menempati hunian sementara (huntara) yang jauh lebih layak.
Bagi Siti, hari itu menjadi salah satu momen paling membahagiakan sejak bencana terjadi. Ia tak henti mengucap syukur atas tempat berteduh yang kini bisa ia sebut rumah, meski bersifat sementara.
“Kami alhamdulilah, senang sekali karena dapat rumah hunian sementara dari bapak Presiden,” ungkapnya.
Siti adalah salah satu penghuni 600 hunian sementara yang telah dibangun Danantara Indonesia bersama BUMN Karya.
Kegembiraan dan rasa syukur tak hanya terucap dari mulut Siti. Yati, warga lainnya, juga ikut memanjatkan syukur karena bisa kembali berteduh di tempat yang nyaman.
“Alhamdulilah, kami senang sekali karena bisa berteduh sama keluarga,” ujar Yati. (LAN)