TRIBUNJATIM.COM - Niat hati ingin bekerja di bidang e-commerce di Thailand, pria asal Kota Medan, Sumatera Utara, inisial SP (33), mengalami kisah pahit.
Kini nasibnya terkatung-katung di tempat penampungan imigran, di Shew Kokko, Myanmar.
Ya, SP justru dipaksa menjadi pelaku scammer di Myanmar.
Baca juga: Warga Rebutan Cairan Diduga Minyak Bumi Muncul saat Pengeboran Sumur, Dipercaya Obati Penyakit
Ia sudah dua bulan di sana.
Dia pun berharap pemerintah Indonesia segera memulangkannya ke Medan.
SP mengatakan, peristiwa yang dialaminya terjadi di awal September 2025.
Mulanya dia ditawari bekerja temannya, MN, di bidang e-commerce bagian penjualan barang.
"Kami diiming-imingi gaji Rp16 juta per bulan," ujar SP kepada Kompas.com melalui telepon seluler, Jumat (9/1/2026).
"Kami pun berangkat dari Kota Medan di September 2025, ada lima orang kami yang berangkat dari Medan," imbuhnya.
Saat itu, SP dan kawan-kawannya berangkat dengan menggunakan paspor wisata.
Lalu sesampainya di Thailand, dia dijemput dan dibawa menggunakan bus ke Myanmar.
"Setibanya di Shew Kokko, Myanmar, kami dipekerjakan menjadi scammer," kata SP.
"Dan setelah dua bulan bekerja di sini, ternyata ada pemberantasan dunia scam," lanjutnya.
"Dan kami pun menyerahkan diri kepada pihak militer Myanmar dengan harapan untuk dipulangkan kembali ke Indonesia," beber SP.
SP mengatakan di penampungan tersebut ada sekitar 50 warga Medan dan 200 lainnya warga Indonesia dari berbagai wilayah.
SP menceritakan jika di penampungan situasinya tidak kondusif.
Mereka kerap diganggu warga asing yang mengalami nasib serupa dengan mereka.
Perkelahian pun beberapa kali terjadi hingga beberapa warga asal Indonesia mengalami memar di badannya.
"Kondisi kami di tempat penampungan diberi makan yang kurang layak," kata SP.
"Dan hal yang kami hadapi di sini harus berhadapan dengan WNA (Warga Negara Asing)," imbuhnya.
"Salah satu contoh Afrika dan India, yang di mana sering terjadi kericuhan dan cekcok," ungkap SP lagi.
Baca juga: Ibu Kesal Bayinya Meninggal Diduga Imbas Tak Punya BPJS & Lambat Ditangani, RSUD Akui Kekurangan Bed
Lebih lanjut, SP mengatakan, sudah dua bulan mereka berada di penampungan, namun kedutaan Indonesia untuk Myanmar tidak kunjung memulangkan mereka.
Hambatan pemulangan karena paspor ditahan perusahaan scamming yang membawa mereka.
Namun menurutnya, pihak pemerintah juga terlalu lama memproses keinginan mereka untuk pulang.
"Kami berharap untuk segera ada pemulangan sesegera mungkin kembali ke Indonesia dan percepat pemrosesan SPLP (surat perjalanan laksana paspor) kami," ujarnya.
"Pihak imigrasi Yangon juga meminta kami untuk menghubungi pihak KBRI agar kami secepatnya dapat dipulangkan," imbuh SP.
Apalagi selama ini mereka sulit untuk berkomunikasi karena tak ada sinyal dan makanan layak hingga obat-obatan.
"(Uang) kami sudah habis, banyak biaya selama di penampungan," ucapnya.
Sementara itu, kiper muda asal Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rizki Nur Fadhilah (18), dipastikan bukan korban tindak pidana perdagangan orang atau TPPO di Kamboja.
Rizki sempat menjadi sorotan publik karena mulanya ditawari main bola di Medan justru berakhir di Kamboja sebagai scammer.
Scammer adalah seseorang atau pihak yang melakukan tindakan penipuan untuk mendapatkan keuntungan.
Biasanya dalam bentuk uang, data pribadi, atau akses tertentu, dengan cara menyesatkan, memanipulasi, atau membohongi korbannya.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, menjelaskan bahwa Rizki bukan korban TPPO.
Melainkan ia sengaja berangkat ke Kamboja untuk bekerja sebagai scammer.
Saat ini, Rizki telah berada di Kedutaan Indonesia di Kamboja dalam kondisi sehat.
"Kami melakukan asesmen dan mendapatkan hasil bahwa dia bukan korban TPPO," katanya, dikutip dari Tribun Jabar pada Jumat (21/11/2025).
Informasi tersebut, kata Hendra, didapatkan dari KBRI.
Hendra juga mengatakan, Rizki berbohong ke orang tuanya akan mengikuti seleksi pemain bola ke PSMS Medan.
Namun, Rizki melakukan komunikasi dengan orang dari Kamboja dan membuat kesepakatan untuk bekerja.
"Sadar betul bahwa Rizky ini, dia menjadi scammer, nanti di sana jadi scammer," ujar Hendra.
Baca juga: Ributkan Sertifikat Tanah, Watri Bangun Pondasi di Jalan Depan Rumah Tetangga, Mediasi Buntu
Dengan kehidupan yang keras dan banyak tuntutan, Hendra menyebut, Rizki merasa tidak betah.
Sehingga ia membuat rekaman video di media sosial beberapa waktu lalu, hingga meminta untuk pulang.
"Kami sedang berkoordinasi dengan KBRI di Kamboja untuk proses pemulangan Rizki."
"Sebab, terdapat klausul dalam perjanjian kerja bahwa harus ada biaya yang dikembalikan ke perusahaan."
"Nanti, kami akan koordinasikan dengan pak kapolda dan pak gubernur untuk mendukung betul bagaimana nanti untuk pemulangan yang bersangkutan," katanya.
Apabila sudah kembali ke rumah, pihaknya akan memeriksa Rizki terkait kronologi dia hingga berada di Kamboja.