Hukum dan Tata Cara Membayar Utang Puasa untuk Anggota Keluarga yang Telah Meninggal
January 11, 2026 07:44 AM

TRIBUNWOW.COM - Puasa Ramadhan sudah di depan mata, jika merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia 2026, puasa akan dimulai pada 18 Februari.

Maka dari itu, wajib hukumnya bagi umat Muslim untuk mengganti seluruh utang puasa di bulan Ramadhan lalu jika memilikinya.

Utang puasa sendiri pada dasarnya wajib dibayar oleh setiap Muslim yang memilikinya, baik dengan meng-qadha puasanya maupun dengan membayar fidyah.

Hal tersebut sesuai dengan firman Allah dalam Al-Baqarah ayat 184.

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ۝١٨٤

Ayyâmam ma‘dûdât, fa mang kâna mingkum marîdlan au ‘alâ safarin fa ‘iddatum min ayyâmin ukhar, wa ‘alalladzîna yuthîqûnahû fidyatun tha‘âmu miskîn, fa man tathawwa‘a khairan fa huwa khairul lah, wa an tashûmû khairul lakum ing kuntum ta‘lamûn

(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Namun, jika ada anggota keluarga yang telah wafat dan masih memiliki utang puasa, lantas bagaimana hukumnya?

Dikutip dari situs Kemenag, maka orang yang wajib membayar utang almarhum atau almarhumah tersebut adalah anggota keluarganya.

Hal ini sebagaimana hadis berikut.

  مَنْ مَاتَ وَ عَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Artinya: "Siapa saja meninggal dunia dan mempunyai kewajiban qadha puasa, maka walinya (keluarganya) berpuasa menggantikannya." (HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah).

Mereka dapat membayar dengan cara meng-qadha sesuai jumlah hari yang ditinggalkan dengan niat puasa berikut.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ. 

Artinya, “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”

Baca juga: Kumpulan Doa-doa Taubat Pendek Diserta Tata Cara Sholat Taubat Lengkap, Muslim Wajib Cek

Tata Cara Membayar Utang Puasa atau Fidyah

Di sisi lain, utang puasa juga dapat dibayarkan lewat fidyah.

Dilansir oleh situs yatimmandiri, berikut tata cara pembayaran utang puasa dengan fidyah.

Pertama, membayar fidyah dengan beras.

Fidyah sendiri artinya tebusan atau pengganti.

Jika seseorang ingin membayar fidyah dengan beras, mereka bisa membayarnya dengan perhitungan 0,75 kg dikalikan dengan jumlah hari puasa Ramadhan yang ditinggalkan.

Misalnya ada 8 hari yang ditinggalkan, maka 0,75 kg dikalikan dengan 8, maka seseorang harus membayar sebanyak 6 kg beras atau makanan pokok setempat.

Kedua, membayar fidyah dengan uang.

Mengacu pada SK Ketua BAZNAS No.7 Tahun 2023, besaran fidyah per orang untuk per hari adalah sebesar Rp60.000.

Maka tinggal dikalikan berapa jumlah hari yang ditinggalkan dengan besaran Rp60.000.

Misalnya ada 5 hari yang ditinggalkan, maka 5 dikalikan dengan Rp60.000 sama dengan Rp300.000 yang wajib dibayarkan.

Di sisi lain, jika seseorang bingung hendak membayar fidyahnya ke mana, diperkenankan untuk membayar fidyah lewat lembaga atau badan amal yang terpercaya untuk menyalurkan fidyahnya.

Baca juga: Ingin Menemukan Teman yang Baik? Simak Tips dan Doa Agar Dipertemukan dengan Orang-orang Shaleh

Doa Agar Dipertemukan dengan Bulan Ramadhan

Sebagai umat Muslim, bulan Ramadhan menjadi momen yang ditunggu.

Berikut doa yang dapat diamalkan agar diberikan kesempatan untuk dapat merasakan kembali momen tersebut.

Dikutip dari situs MUI, ada doa yang dibaca Nabi Muhammad SAW ketika melihat hilal yang nanti dapat diterapkan.

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

Allahu akbar, Allahumma ahillahu ‘alaina bil amni wal imaani, wassalaamati wal islaami, wattaufiii limaa tuhibbu wa tardha, rabbunaa wa rabbukallahu.

Artinya: “Allah Mahabesar, Ya Allah tampakkan hilal itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta taufiq yang membimbing kami menuju apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhan kamu (wahai bulan), adalah Allah.” (HR ad-Darimi no 1729, hadits serupa dengan sedikit perbedaan redaksi juga diriwayatkan Ahmad dan at-Tirmidzi)

Ubadah bin ash-Shamith RA juga pernah berkata bahwa Rasulullah SAW mengajari para sahabat doa berikut saat Ramadhan tiba, yakni sebagai berikut.

أللهمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

Allahumma salimni min ramadhana wa sallim ramadhana li wa tasallamhu minni mutaqabbalan

Artinya: “Ya Allah, sampaikan aku (dengan selamat menuju bulan) Ramadan. Sampaikanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal ibadahku (di bulan) Ramadhan.”

Selain itu, Abdul Aziz bin Abi Rawad pernah menganjurkan doa sebagai berikut.

اللّٰهمَّ أَظَلَّ شَهْرُ رَمَضَانَ وَحَضَرَ، فَسَلِّمْهُ لِي وَسَلِّمْنِي فِيهِ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي، اللهمَّ ارْزُقْنِي صِيَامَهُ وَقِيَامَهُ صَبْرًا واحْتِسَابًا، وَارْزُقَنِي فِيْهِ الْجَدَّ وَالْإِجْتِهَادَ والقُوَّةَ والنَّشَاطَ، وَأَعِذْنِي فِيهِ مِنَ السّآمَةِ وَالفَتْرَةِ وَالكَسَلِ والنُّعَاسِ, وَوَفِّقْنِي فيه لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ وَاجْعَلهَا خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Allahumma adhalla syahru ramadhana wa hadhara, fa sallimhu li wa sallimni fihi wa tasallamhu minni. Allahummarzuqnii shiyamahu wa qiyamahu shabran wahtisaban, warzuqni fihil jadda wal ijtihada wal quwwata wan nasyatha, wa a’idzni fihi minassaamati wal fatrati wal kasali wan nu’asi, wawaffiqnii fihi li lailatil qadri waj’alha khairan min alfi syahrin.

Artinya: “Ya Allah, bulan Ramadhan sudah membayangi dan datang. Maka, sampaikanlah (bulan) Ramadhan kepadaku, dan sampaikanlah aku (dengan selamat) ke dalamnya, dan terimalah amal ibadahku (di bulan) Ramadhan. 

Ya Allah, anugerahilah aku kesabaran dan niat ikhlas mengharap pahala dan ridha-Mu atas puasaku dan shalat malamku. 

(Ya Allah), anugerahilah aku di bulan Ramadhan ini kesungguhan hati, ketekunan, kekuatan, dan semangat. 

(Ya Allah), lindungilah aku di bulan Ramadhan ini dari kebosanan, lemah lesu, kemalasan, dan banyaknya kantuk. 

(TribunWow.com/Peserta Magang dari Universitas Airlangga/Afifah Alfina)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.