Secarik Kertas dan Pesan Terakhir Nini, Bocah 8 Tahun yang Hanyut di Siring Air Bang Curup Tengah
January 10, 2026 05:34 PM

 

Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M. Rizki Wahyudi

TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG – Di tengah hujan deras yang mengguyur Curup Tengah, secarik kertas lusuh menjadi satu-satunya jejak terakhir Nini, bocah 8 tahun yang hilang terbawa arus saluran air.

Pesan kecil itu, izin sang anak untuk pergi mengerjakan tugas sekolah, kini menjadi kenangan pahit bagi ibu dan saudara kembarnya yang tak henti menangis, menanti keajaiban di sela-sela doa dan tangis.

Tangis dan doa terus mengalir dari keluarga bocah perempuan berusia 8 tahun yang dilaporkan hanyut saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut, Jumat (9/1/2026) siang.

Korban diketahui bernama Isnati Husnaini, seorang pelajar sekolah dasar, putri dari pasangan Muhammad Iksan dan Nurmufidah.

Sejak kabar tragis itu datang, rumah keluarga Isnati seakan diselimuti suasana yang menyakitkan.

Di tengah kesedihan yang mendalam, Nurmufidah, sang ibu, hanya bisa memeluk secarik kertas lusuh.

Itu bukan kertas biasa, melainkan sebuah pesan kecil yang kini menjadi kenangan terakhir dari putri tercintanya.

Dengan suara bergetar dan mata sembab, Nurmufidah menceritakan bahwa sebelum pergi, sang anak sempat meninggalkan surat kecil berisi izin kepada dirinya.

Baca juga: Hari Kedua Pencarian, Bocah 8 Tahun Hanyut di Siring Curup Tengah Diduga Terseret hingga Danau Suro

“Dia nulis surat kecil, bilang mau kerja kelompok ke rumah temannya. Saya izinkan, tidak menyangka itu jadi pesan terakhir dari anak saya,” tutur Nurmufidah kepada TribunBengkulu.com dengan air mata yang mengalir di pipinya.

Menurut Nurmufidah, Nini pergi bersama saudara kembarnya, Nana, untuk mengerjakan tugas sekolah.

Namun di tengah perjalanan pulang, hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

Arus air di saluran siring yang berada tak jauh dari rumah mereka mendadak meluap.

Diduga, Nini terpeleset dan terseret arus air yang deras hingga akhirnya menghilang.

“Sebagai ibu, rasanya sakit sekali. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan saya. Saya hanya berharap anak saya segera ditemukan,” ucapnya sambil menunduk, suaranya nyaris tak terdengar.

Kesedihan keluarga semakin terasa ketika Nana, saudara kembar korban, terus menangis dan memanggil-manggil nama Nini.

Bocah itu terlihat terpukul, tak menyangka kebersamaan mereka hari itu berakhir dengan tragedi.

Di mata keluarga dan tetangga, Nini dikenal sebagai anak yang ceria, ramah, dan mudah bergaul.

Senyumnya kerap menghiasi lingkungan tempat tinggalnya, kini hanya tinggal kenangan.

PENCARIAN - Tim gabungan terus melakukan pencarian korban hanyut pada Jumat (9/1/2026). Hingga saat ini proses pencarian korban terus dilakukan karena belum juga ditemukan.
PENCARIAN - Tim gabungan terus melakukan pencarian korban hanyut pada Jumat (9/1/2026). Hingga saat ini proses pencarian korban terus dilakukan karena belum juga ditemukan. (M Rizki Wahyudi/Tribunbengkulu.com/M Rizki Wahyudi)

Nini Hanyut

Seorang anak perempuan berusia 8 tahun bernama Nini, warga Perumahan BTN Air Bang, Kecamatan Curup Tengah, hanyut terbawa arus saluran air atau siring pada Jumat (9/1/2026) siang.

Peristiwa tersebut terjadi saat korban pulang ke rumah bersama saudari kembarnya.

Hingga saat ini, proses pencarian korban masih terus dilakukan.

Kasi Humas Polres Rejang Lebong, AKP M. Hasan Basri, menjelaskan kejadian bermula sekitar pukul 12.30 WIB.

Saat itu, korban bersama saudari kembarnya, Nana (8), berjalan kaki pulang dari rumah temannya menuju rumah.

Dalam perjalanan, keduanya melintas di sekitar siring atau saluran air yang berada di lingkungan perumahan warga.

Kondisi siring saat itu dialiri air dengan arus yang sangat deras akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah Rejang Lebong sejak beberapa hari terakhir.

“Ketika melintas di dekat siring, korban diduga terpeleset dan terjatuh ke dalam saluran air irigasi milik warga," jelas Hasan.

Korban yang terjatuh tidak sempat menyelamatkan diri. Derasnya aliran air langsung menyeret tubuh korban menjauh dari lokasi awal kejadian.

Sementara itu, saudari kembar korban tidak dapat memberikan pertolongan karena kondisi arus yang berbahaya.

Melihat kejadian tersebut, saksi di sekitar lokasi langsung berteriak meminta pertolongan warga.

Warga bersama keluarga korban sempat melakukan pencarian awal di sekitar lokasi kejadian dengan menyusuri aliran irigasi.

Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil, sehingga kejadian itu kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian dan pihak terkait lainnya.

“Setelah menerima laporan, petugas langsung mendatangi lokasi dan melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk proses pencarian,” tambahnya.

Hingga saat ini, pencarian terhadap korban masih terus dilakukan oleh tim gabungan dengan menyusuri aliran air dan sungai yang terhubung dari lokasi awal korban hanyut.

Proses pencarian terus diperluas dengan harapan korban bisa segera ditemukan.

"Pencarian masih terus dilakukan, sampai sekarang belum ditemukan, doakan semoga segera ketemu," tutupnya.

Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.