SURYA.co.id, SURABAYA - Polda Jatim bersama polres jajaran telah menumpas 2.473 kasus kejahatan pencurian dengan pemberatan (Curat) berbagai modus sepanjang tahun 2025.
Kasus curat tersebut tersebar di seluruh wilayah Jawa Timur, termasuk di kawasan Kota Lama Surabaya.
Baca juga: Kota Lama Surabaya Rawan Kriminalitas, 2 Mahasiswa Unitomo Diserang Pakai Parang
Berdasarkan data Hasil Analisa dan Evaluasi Kamtibas Jatim yang dilansir pada Senin (29/12/2025), kasus curat dengan salah satu modus penjambretan, menjadi satu di antara tiga kasus yang banyak diungkap oleh Polda Jatim.
Pengungkapan kasus terbanyak urutan pertama adalah kasus penipuan sejumlah 2.223 kasus, selanjutnya, kasus curanmor sejumlah 1.987 kasus, yang menduduki urutan ketiga.
Jika memasukkan 14 jenis kasus lainnya, sebenarnya Anggota Ditreskrimum Polda Jatim dan satreskrim polres jajaran berhasil mengungkap sejumlah 18.396 kasus, dari keseluruhan laporan yang dibuat masyarakat berjumlah 19.477 kasus.
Artinya sepanjang tahun 2025, Anggota Ditreskrimum Polda Jatim dan satreskrim polres jajaran berhasil mencapai keberhasilan penyelesaian kasus sekitar 94 persen.
Meninjau kejahatan jalanan bermodus penjambretan, Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Arbaridi Jumhur mengatakan, aksi kejahatan penjambretan itu merupakan salah satu modus kejahatan yang tak sembarangan bisa dilakukan oleh pelaku.
Modus ini biasanya dilakukan oleh pelaku residivis, yakni pelaku yang pernah mendekam dipenjara namun belum jera lalu kembali lagi menjalankan aksi kejahatan di kemudian hari.
Artinya, pelaku kejahatan bermodus jambret seperti mengambil kalung, ponsel, atau tas korban, cenderung dilakukan oleh para pelaku yang berpengalaman dan bernyali tinggi.
Pelaku yang memiliki spesialisasi menjambret semacam ini, cenderung telah mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai macam resiko selama beraksi, mulai dari menyiapkan keberanian untuk mendekati korbannya, lalu menjambret barang bawaan si korban pada momen yang tepat secara cepat.
Tak jarang, lanjut Jumhur, para pelaku jambret bakal membawa senjata untuk melancarkan aksi kejahatannya.
Terkadang mereka membawa senjata tajam seperti pisau, padang atau celurit.
Lalu, ada juga yang membawa senjata api seperti pistol rakitan.
Bahkan pada beberapa kasus yang berhasil diungkap, para pelaku juga membawa bahan peledak seperti bom ikan alias bondet.
"Mereka ini bernyali, bayangkan, dalam satu kali kesempatan mereka bisa ambil kalung di leher atau tas yang sedang dipakai korban. Itulah mengapa mereka juga sadis, gak peduli korbannya jatuh terseret-seret di jalan, kadang juga dibacok. Bikin korban luka, bahkan ada korban yang sampai meninggal dunia," ujarnya pada Sabtu (10/1/2026).
Guna membuat para pelaku jambret makin bernyali saat menjalankan aksinya, Jumhur mengungkapkan, pada beberapa kasus yang pernah diungkap, mereka terkadang mengonsumsi narkotika atau berpesta minuman keras terlebih dahulu.
Cara-cara tersebut dianggap oleh para pelaku dapat meningkatkan adrenalin atau keberanian dalam melakukan aksi penjambretan selama di jalanan.
Tak ayal, karena kondisi tersebut, para pelaku juga cenderung begitu sadis saat melakukan aksi kejahatan tersebut.
Mereka tak jarang bisa langsung melayangkan sabetan senjata tajam kepada korban.
"Mereka juga raja tega kalau beraksi. Kadang senjata yang dipakai mereka cuma buat menakuti korban, tapi kadang mereka bisa sabetkan ke korban. Bahkan saja dikejar oleh Polisi, mereka pakai senjata itu buat menyerang kami," katanya.
Mengantisipasi maraknya aksi kejahatan jalanan, Jumhur menambahkan, seluruh personel Jatanras Polda Jatim termasuk satreskrim polres jajaran senantiasa menggiatkan patroli kamtibmas terutama pada malam hari.
"Kami senantiasa terus menggiatkan patroli, bersama satuan lainnya dari Samapta dan Satlantas, seluruh polres tentu saja selalu patroli selama 24 jam," jelasnya.
Tak cuma itu, Jumhur menambahkan, Anggota Tim Jatanras Polda Jatim juga kerap kali melakukan pembantuan (backup) personel dalam mengejar pelaku kejahatan di seluruh wilayah Jatim.
"Kami juga backup kasus yang menonjol di daerah, biasanya pelakunya kabur ke wilayah lain, kami tetap bakal kejar meskipun kabur di pelosok Indonesia. Itu komitmen kami memberi rasa aman kepada masyarakat," ungkapnya.
Namun, terlepas dari itu, Jumhur juga mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dengan adanya kejahatan jalanan yang berpotensi mengintai setiap saat.
Salah satunya adalah tidak terlalu berlebihan dalam berpenampilan, seperti memakai aksesori perhiasan yang cenderung terlalu mencolok saat sedang bepergian atau saat berkendara.
"Warga yang berpergian atau berkendara di jalanan tidak berlebihan memakai asesoris perhiasan karena bisa mengundang pelaku kejahatan. Dan hati-hati saat main ponsel kalau di pinggir jalan, bisa jadi sasaran dijambret pelaku," pungkasnya.