Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH – Kota Mataram kini memosisikan budaya sebagai denyut nadi utama dalam pembangunan kota.
Melalui gagasan Gerbang Sangkareang, pemerintah kota berupaya menjadikan nilai-nilai luhur sebagai identitas yang tetap hidup di tengah deru modernisasi.
Konsep ini menegaskan bahwa kemajuan sebuah kota tidak harus menghilangkan karakter khasnya, melainkan justru memperkuat narasi kolektif warganya.
Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, menekankan Gerbang Sangkareang bukan sekadar bangunan statis atau tengara fisik semata, melainkan sebuah ide kultural yang dinamis.
“Gerbang Sangkareang bukan bangunan statis, melainkan katalisator yang menginspirasi desainer, seniman, dan pengrajin kriya untuk melahirkan karya dengan motif Gerbang Sangkareang, mulai dari Batik Mentaraman, bros, hingga desain interior dan ruang publik,” ucap Wali Kota Mohan, Minggu (11/1/2026).
Gagasan ini berperan sebagai inspirasi bagi para seniman, desainer, dan pengrajin lokal untuk melahirkan berbagai karya kreatif, mulai dari motif Batik Mentaraman, kerajinan kriya, hingga desain interior ruang publik.
Menurut Mohan, simbol budaya Sasak tidak lagi berhenti pada nilai estetika, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian sekaligus penggerak ekosistem ekonomi kreatif masyarakat.
Visi ini juga membawa misi diplomasi budaya agar identitas masyarakat Sasak semakin dikenal di kancah internasional.
“Ini adalah diplomasi budaya, dari masyarakat Sasak, agar semakin dikenal oleh masyarakat internasional,” ujar Wali Kota Mataram.
Salah satu buktinya adalah kehadiran Batik Mentaraman bermotif Gerbang Sangkareang yang telah tampil di ajang fesyen bergengsi di Melbourne, Australia.
Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis untuk memperkenalkan keunikan lokal sebagai arus balik dari globalisasi yang cenderung menyeragamkan karakter kota-kota di dunia.
Keberhasilan menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya ini kemudian mendapatkan pengakuan di tingkat nasional.
Atas kontribusi nyata dalam memajukan kebudayaan daerah yang bersinergi dengan ruang dialog publik, Wali Kota Mataram ditetapkan sebagai salah satu penerima Trofi Abyakta pada Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026.
Penghargaan ini diberikan setelah melalui proses seleksi ketat oleh dewan juri yang terdiri dari tokoh-tokoh kredibel di bidang seni dan budaya, seperti Sudjiwo Tejo dan Dr. Nungki Kusumastuti.
Visi pembangunan ini membawa pesan kuat mengenai Heritage meets Modernity, yaitu upaya menjadikan Mataram sebagai kota modern yang tetap memiliki fondasi etis dan karakter yang kuat.
Di lain pihak, Kadis Kominfo Kota Mataram, Ramadhani, yang mengawal usulan penghargaan ini, menyampaikan, Anugerah Kebudayaan yang digelar PWI menekankan peran media sebagai mitra dalam membangun city branding bagi Kota Mataram, yang selama ini relatif sulit membranding identitas kotanya.
Dengan mengangkat ikon Gerbang Sangkareang, Mataram menemukan momentum untuk memperkenalkan simbol budaya sekaligus simbol masa depan kota. Itulah makna Heritage meets Modernity.
Kominfo, sebagai public relation Pemkot Mataram, memiliki peran penting dalam memperkenalkan kebaikan dan keunikan kota Mataram dalam konteks modernisasi yang cenderung menyeragamkan kota-kota lain.
“Ini menjadi arus balik dari globalisasi, menjadi kota modern tapi tetap memiliki karakter dan identitas kuat,” demikian ujar Dhani.