Pandji Pragiwaksono Ogah Komentari Anies Baswedan, Fokus ke Prabowo, Gibran, Bahlil
January 11, 2026 05:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Jakarta - Komika Pandji Pragiwaksono mengaku hanya fokus mengomentari segelintir pejabat publik seperti Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming hingga Bahlil Lahadalia. 

Dikatakan Pandji Pragiwaksono, para pejabat tersebut saat ini sedang berkuasa dan digaji dari pajak rakyat. Jabatan tersebutlah yang membuatnya tak ragu untuk memberikan komentar. 

"Kenapa gue ngebahas Pak Prabowo, Pak Gibran,  Pak Bahlil, Fadli Zon. Kenapa semua itu dibahas? karena mereka sedang menjabat. Mereka adalah pejabat publik. Mereka bekerja dengan duit pajak. Duit pajak yang dikumpulin dari rakyat," kata Pandji dalam tayangan YouTubenya, dikutip dari Tribunnews, Minggu (11/1/2026).

Sang komika terus menjadi sorotan karena aksi panggungnya stand up comedy bertajuk Mens Rea yang tayang di Netflix sejak Desember 2025. Dalam pertunjukkan itu, ia menyinggung banyak pejabat. 

Namun, ia juga memilih untuk tidak menyinggung sejumlah tokoh lain, seperti Anies Baswedan, politikus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok); mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo; mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD; hingga mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.

Pandji menjelaskan alasan dirinya sama sekali tak menyentil Anies Baswedan dan tokoh lain di Mens Rea adalah karena mereka saat ini tidak menjabat dipemerintahan.

Dulu, saat Anies Baswedan menjabat, Pandji menjelaskan ia kerap tampil melemparkan kritik kebijakan Gubernur DKI Jakarta itu. Mulai dari polemik program hunian DP 0 Rupiah era Anies Baswedan, soal Septic Tank, hingga soal Formula E.

Namun, kini menurut keyakinan Pandji isu tersebut sudah tidak segar disampaikan. Alih-alih menyentil Anies Baswedan dan tokoh lain, Pandji justru memilih fokus untuk mengkritik orang-orang pemerintahan, terutama soal kebijakan Prabowo hingga sosok Gibran sendiri.

Sebab, menurutnya rakyat bebas bersuara memberikan kritik kepada pemerintahan, rakyat boleh memberikan penilaian terhadap cara kerja pemerintahan. Apalagi, kata Pandji, rakyat dengan nyata ikut membangun negara dengan membayar pajak.

"Nama yang (sering) dibahas Prabowo, Gibran, Ahmad Saroni, Pak Bahlil, Fadli Zon beberapa lagi. Nah, pertanyaannya apa bedanya dua kelompok nama tadi? Kenapa (Pandji tak membahas mereka)? karena mereka tidak menjabat apa-apa," ucap dia. 

Pandji menjelaskan materinya di Mens Rea ini disampaikan untuk mengingatkan kepada publik soal kebijakan pemerintah dan hak rakyat sebagai warga negara, rakyat boleh memberikan kritik demi pemerintahan yang lebih baik.

"Itulah kenapa jokes pertama atau salah satu jokes pertama adalah untuk mengingatkan orang kita punya hak dalam menentukan kita suka atau enggak suka. Hak kita. Belum tentu kita benar, tapi tetap hak kita. Kenapa? Karena kita bayar pajak dari PPH 21.

"Tapi kalaupun yang enggak bekerja atau mungkin sektor nonformal kerjanya, kita akan tetap ada pajak konsumsi, bayar bensin, pulsa segala macam, beli-beli, itu kan bayar pajak kecuali pajak rumah makan itu masuknya ke Pemda kayaknya."

"Intinya kita tuh bayar pajak, semua yang tadi kita sebut itu, selama masih dalam jabatan, kita tuh berhak untuk mengkritik," jelas Pandji.

Jadi karena Anies tak sedang menjabat dan tak mendapatkan haknya sebagai pejabat, maka menurut keyakinan Pandji, tokoh tersebut tidak perlu bahas.

"Bedanya Pak Prabowo sedang jadi Presiden kita, Pak Gibran sedang jadi Wapres. Jadi apapun yang mereka lakukan dan mereka katakan penting untuk kita bahas dong. Kalau Presiden kita bilang mau maafin koruptor, boleh dong kita bahas. Kalau Presiden kita punya masa lalu pernah mengamankan aktivis, mengamankan kata beliau, boleh dong kita bahas."

"Kalau Pak Gibran bikin sebuah kebijakan yang menurut keyakinan saya lebih banyak aspek PR-nya ketimbang aspek manfaatnya, apalagi mengingat posisi beliau sebagai seorang wapres, masa enggak boleh?

"Kan menurut keyakinan saya, boleh dong. Nah, itulah alasan kenapa Anis Basudan enggak dibahas. Kenapa Ahok enggak dibahas, kenapa Pak Gita Wirjawan enggak dibahas, Dahlan Iskan, Mahfud, MD, Ganjar Pranowo tidak dibahas," ujar Pandji.

Dituduh Punya Agenda 2029

Seperti diketahui, materi Pandji Pragiwaksono di Mens Rea tak menyentil nama Anies Baswedan turut dikomentari politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ade Armando. Ade menduga Pandji memiliki kepentingan lain, terutama menyangkut Pilpres 2029.

Dugaan ini disampaikan Ade karena ia melihat latar belakang Pandji pernah bergabung dalam tim sukses atau menjadi juru bicara kampanye Anies Baswedan saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017, ketika Anies berpasangan dengan Sandiaga Uno.

"Saya menangkap kesan Pandji memang sangat benci pada Gibran dan ingin men-share kebencian itu kepada para fansnya. Pertanyaannya mengapa? Ini yang sangat mengganggu saya. Dia bilang dia ingin agar masyarakat Indonesia tidak g****, tapi joke-joke yang dia gunakan justru menunjukkan keterbatasan pengetahuan dia. Tapi bisa jadi memang ada agenda lain di belakang Pandji."

"Kita tentu masih ingat dia adalah tim sukses Anis Baswedan di masa lalu. Jadi kalau Anies diperkirakan akan maju lagi dalam Pilpres 2029 dan saat ini popularitas Gibran semakin meningkat sehingga sangat mungkin Gibran juga akan kembali menjadi Cawapres Prabowo pada 2029," kata Ade Armando dalam tayangan Youtube Cokro Tv, yang didirikan oleh pegiat media sosial Eko Kuntadhi, Senin (5/1/2026).

Ia juga menduga Pandji sengaja membuat propaganda untuk menghabisi suara Gibran di Pilpres 2029.

"Mungkinkah ejekan Pandji ke arah Gibran ini adalah bagian dari propaganda hitam untuk menghabisi Gibran? Tentu saja pertanyaan itu belum bisa dijawab. Kita lihat saja nanti. Ayo gunakan akal sehat. Karena hanya kalau kita gunakan akal sehat, Indonesia akan selamat," ujar Ade.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.