Sujak Lihat Jalanan Seperti Sungai saat Banjir Bandang di Klidang Lor Batang
January 11, 2026 10:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Pagi belum benar-benar kering ketika Sujak (56) sudah kembali memegang sapu lidi.

Lumpur tipis tampak menempel di lantai rumahnya di Dukuh Temurejo, RT 05 RW 02, Desa Klidang Lor, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang.

Ini bukan pertama kali, dan barangkali juga bukan yang terakhir. “Kalau di sini, banjir itu tahunan. Tapi yang semalam itu nggak disangka-sangka,” kata Sujak kepada Tribun Jateng, Minggu (11/1).

Menurut dia, air bah datang tiba-tiba, tanpa hujan panjang sebagai penanda. Dalam hitungan menit, jalan kampung berubah seperti sungai dengan aliran air deras.

Hal serupa dirasakan hampir seluruh warga Klidang Lor. Satu tokoh masyarakat setempat, Nur Untung Slamet menyebut, warga benar-benar kaget karena air datang mendadak dan langsung tinggi.

“Begitu keluar rumah, air sudah menggenangi jalan. Tidak seperti biasanya yang kelihatan mau banjir dulu,” ujarnya.

Menurut dia, sekitar 60 persen rumah warga Klidang Lor terendam, dengan wilayah paling terdampak berada di RW 02 dan RW 03.

Untung menuturkan, di kawasan RT 04 dan RT 05 RW 02, ketinggian air di jalan bahkan mencapai sekitar 1,2 meter, sementara di dalam rumah rata-rata setinggi 50-60 sentimeter.

Di rumah Untung, air setinggi 40 sentimeter masuk hingga ruang dalam. “Di rumah kakak saya malah sampai 70 sentimeter dan sempat harus mengungsi,” bebernya.

Dia menambahkan, air bah mulai masuk sekitar pukul 18.15, dan baru berangsur surut menjelang pukul 20.10. Menariknya, arus air sempat berbalik arah. “Awalnya dari utara ke selatan, lalu berbalik dari selatan ke utara,” tuturnya.

Bagi warga pesisir seperti Sujak, banjir bukan hanya soal air hujan dari gunung. Ada dua wajah banjir yang mereka kenal.

“Kalau dari laut, biasanya cuma 10-15 sentimeter, tapi kalau kiriman dari gunung, nggak ada batasnya,” ucap Sujak.

Tahun lalu, ia menyebut, lumpur banjir bandang di wilayah itu bahkan sempat mencapai lebih dari 1 meter.

Usai banjir bandang yang terjadi, aktivitas warga nyaris seragam, yakni bersih-bersih. Mayoritas warga Klidang Lor berprofesi sebagai nelayan.

Cuaca laut yang masih bergelombang membuat banyak dari mereka memilih bertahan di rumah, membersihkan sisa endapan lumpur yang jika dibiarkan akan meninggalkan noda membandel.

“Kalau nggak langsung dibersihkan, nanti bekasnya susah hilang. Tenaganya bisa dua kali,” tukas Untung.

Data laporan BPBD Batang mencatat, banjir juga merendam wilayah Karangasem Utara, mencakup enam RW dengan total 2.946 KK atau 11.784 jiwa, serta Klidang Lor sebanyak 600 KK atau 2.400 jiwa. Ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 120 sentimeter. 

Sebanyak 30 warga sempat mengungsi di Masjid Al Ikhlas RW 05 sebelum kembali ke rumah masing-masing pada malam hari.

Soal penyebab banjir, warga dan tokoh masyarakat memiliki analisa yang sama. Pendangkalan sungai dan deretan kapal yang parkir di alur sungai dinilai memperparah banjir.

“Sungai sudah dangkal. Debit air sama, tapi tempatnya menyempit. Ditambah kapal-kapal mangkrak dan kapal baru dari galangan yang parkir di sungai, air jadi terhambat,” papar Untung.

Ia menilai, selama tidak ada penataan serius, banjir akan terus menjadi agenda tahunan. Bahkan, ia mencatat, pada awal 2025 lalu, banjir sempat terjadi hingga 11 kali dalam kurun Januari-Februari.

Sebagai warga sekaligus anggota DPRD, Untung mendorong pemerintah daerah segera mengambil langkah tegas.

“Harus ada aturan jelas. Kapal yang sudah diturunkan ke sungai harus segera diserahkan ke pemiliknya dan dibawa keluar. Jangan ditahan di sini terus. Yang untung segelintir, tapi yang terdampak hampir 70 persen warga Klidang Lor,” paparnya.

Sementara, bagi warga seperti Sujak, harapan mereka sederhana, yakni banjir tidak lagi menjadi rutinitas.

“Kami ini sudah biasa kebanjiran. Tapi tetap saja capai. Harapannya ya sungainya dibersihkan, kapal-kapal itu ditata, supaya air bisa lancar ke laut,” harapnya.

Kabupaten Pekalongan

Adapun, cuaca ekstrem dengan hujan deras disertai angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pekalongan pada Sabtu (10/1) sore, mengakibatkan pohon tumbang, tiang listrik ambruk, serta kerusakan pada rumah warga dan sejumlah fasilitas umum . 

Berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Pekalongan, kejadian berlangsung sekitar pukul 16.00. Laporan awal diterima BPBD pada pukul 16.18, dan tim langsung diterjunkan ke lokasi terdampak untuk melakukan penanganan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan, Agus mengatakan, angin kencang disertai hujan deras menyebabkan gangguan di beberapa kecamatan, terutama akibat pohon tumbang yang menutup akses jalan dan menimpa bangunan.

"Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Kesesi, Wonopringgo, Karangdadap, Doro, Sragi, dan Bojong. Dampak paling signifikan terjadi di Kecamatan Bojong, khususnya Desa Bukur, dengan total 14 rumah warga mengalami kerusakan," tuturnya, Minggu (11/1).

Di Kecamatan Kesesi, pohon tumbang dan tiang listrik ambruk dilaporkan terjadi di Desa Karangrejo dan Desa Karyomukti.

Selain itu, atap gedung SMK NU Kesesi mengalami kerusakan, serta tempat parkir RSUD Kesesi ambruk akibat terpaan angin kencang.

Sementara di Kecamatan Wonopringgo, pohon tumbang terjadi di area Pasar Lawas Wonopringgo. Kecamatan Karangdadap juga terdampak dengan beberapa pohon tumbang di Jalan Karangdadap-Talun, Jalan Raya Karangdadap-Doro, serta di Desa Kaligawe.

"Pohon tumbang juga dilaporkan di Jalan Raya Doro-Karangdadap, Desa Bligorejo, Kecamatan Doro, serta di depan SMPN 3 Sragi, Desa Bulaksari," jelasnya. 

"Di Kecamatan Bojong, selain pohon tumbang di ruas Jalan Bojong-Wonopringgo, sebanyak 14 rumah warga di Desa Bukur mengalami kerusakan dengan tingkat bervariasi, mulai dari genting berjatuhan, atap roboh, hingga kanopi dan garasi ambruk. Korban jiwa nihil. Alhamdulillah seluruh warga dalam kondisi selamat," sambungnya.

BPBD Kabupaten Pekalongan bersama unsur terkait melakukan penanganan sejak sore hingga malam hari. Proses evakuasi dan pembersihan material selesai sekitar pukul 23.50.

"Seluruh jalur yang sempat tertutup pohon tumbang kini sudah kembali normal. Situasi secara umum aman, lancar, dan kondusif," terangnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama saat hujan lebat disertai angin kencang, serta segera melaporkan kejadian darurat kepada petugas agar dapat ditangani dengan cepat. (Tito Isna Utama/Indra Dwi Purnomo) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.