Pati Siaga Satu: 14 Kecamatan Dikepung Banjir dan Longsor, BPBD Kerahkan Bantuan Lintas Kabupaten
January 11, 2026 10:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, PATI – Kabupaten Pati siaga 1 bencana setelah diterjang bencana banjir dan tanah longsor yang melanda.

Sedikitnya 14 kecamatan di Kabupaten Pati tersebut sudah dikepung banjir.

Bencana itu terjadi setelah hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Pati selama beberapa hari terakhir memicu bencana hidrometeorologi di berbagai titik. 

Baca juga: Jalur Alternatif Pati-Rembang Lumpuh Sejauh 1 Kilometer: Para Pedagang Terpaksa Tutup

Berdasarkan data terbaru dari Situation Report (Sitrep) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati per Minggu (11/1/2026), tercatat sebanyak 14 kecamatan di Kabupaten Pati terdampak banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya, menyampaikan bahwa bencana ini bermula dari cuaca ekstrem yang terjadi sejak Jumat (9/1/2026) malam. 

Menurutnya, luapan air terjadi karena Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah Pati tidak lagi mampu menampung debit air hujan yang sangat tinggi.

"Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi dan cuaca yang sangat ekstrem mengakibatkan DAS tidak mampu menampung debit air dan meluap menggenangi beberapa kecamatan," ujar Budi.

Data BPBD menunjukkan sebaran wilayah terdampak meliputi Kecamatan Pati (banjir bandang), Wedarijaksa, Margoyoso, Tayu, Dukuhsekti, Margorejo, Tambakromo, Gabus, Winong, Batangan, Juwana, dan Jakenan yang mengalami banjir.

Sementara itu, Kecamatan Tlogowungu dan Pucakwangi dilaporkan mengalami musibah tanah longsor.

Budi memaparkan di beberapa lokasi, dampak cuaca ekstrem tidak hanya berupa genangan air.

Di Kecamatan Dukuhsekti, tepatnya di Desa Dukuhsekti dan Grogolan, terdapat rumah warga yang tersambar petir. Selain itu, pohon tumbang dilaporkan menimpa rumah warga di Desa Alasdowo.

Meskipun dampak kerusakan material masih dalam proses pendataan oleh Tim Kaji Cepat, Budi memastikan hingga saat ini tidak ada korban jiwa dalam rentetan bencana tersebut. 

Ia juga menambahkan kondisi genangan banjir bandang di beberapa titik sudah mulai menyusut, namun tim di lapangan tetap waspada karena hujan masih mengguyur wilayah tersebut.

"Sampai laporan ini diterbitkan, tim masih menyisir wilayah terdampak. Banjir bandang sudah mulai menyusut tapi cuaca masih hujan," tutur Budi.

Dalam upaya penanganan, BPBD Pati mendapatkan dukungan personel BKO (Bawah Kendali Operasi) dari TRC BPBD Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora. 

Selain melakukan asesmen, petugas juga telah mendirikan dapur umum di dua lokasi, yakni di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, dan di Kantor BPBD Pati. 

Baca juga: Jembatan Desa Penghubung Pati-Rembang Ambles, Sisi Barat Patah 10 Meter

Fasilitas kesehatan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati juga telah dinyatakan dalam status Siaga 1 untuk mengantisipasi keluhan kesehatan warga terdampak.

Saat ini, kebutuhan mendesak yang diperlukan di lapangan meliputi alat evakuasi, pembersihan lokasi pascabanjir, serta dukungan alat berat untuk menangani titik-titik tanah longsor.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada mengingat prakiraan BMKG menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat masih akan terjadi di wilayah Pati.

BANJIR GENANGI JALAN - Kondisi Jalan Alternatif Pati-Rembang di sekitar Pasar Desa Glonggong, Kecamatan Jakenan, Pati, yang tergenang banjir, Minggu sore (11/1/2026).
BANJIR GENANGI JALAN - Kondisi Jalan Alternatif Pati-Rembang di sekitar Pasar Desa Glonggong, Kecamatan Jakenan, Pati, yang tergenang banjir, Minggu sore (11/1/2026). (TRIBUN JATENG/Mazka Hauzan Naufal)

Jalan Alternatif Lumpuh

Jalan alternatif Pati-Rembang, yang berada di Desa Glonggong, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, tergenang banjir sepanjang kurang-lebih satu kilometer, Minggu (11/1/2026).

Tak hanya mengganggu arus lalu-lintas, banjir yang pada titik tertentu mencapai setengah meter ini juga menjadi kendala bagi aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Mengingat, titik terparah banjir berada di pertigaan Pasar Glonggong.

Sejumlah pedagang, terutama yang toko atau kiosnya tepat berada di pinggir jalan, terpaksa menutup lapak jualannya.

Satu di antaranya adalah Rubinah, penjual mi ayam.

Dia terpaksa menutup warungnya akibat banjir.

"Saya tidak bisa jualan karena banjir. Biasanya kalau pas ramai bisa habis 2 kilogram mi. Ini terpaksa tutup jadi tidak ada pemasukan," kata dia, Minggu sore (11/1/2026).

Biasanya, Rubinah berjualan mi ayam mulai sore hingga malam hari. Namun, hari ini dia tidak bisa berjualan lantaran warungnya kebanjiran dengan ketinggian air mencapai sekira 20 sentimeter.

Rubinah mengatakan, rumahnya yang juga berada di Desa Glonggong pun tak selamat dari banjir.

Rifki, warga Desa Glonggong lainnya, mengatakan bahwa banjir mulai terjadi tengah hari tadi, sekira pukul 11.30 WIB.

Akibat banjir ini, para pedagang pasar, kios bengkel motor, hingga pertokoan, semuanya terpaksa tutup.

Baca juga: Identitas Mobil Grand Livina Hanyut dalam Banjir di Sungai Setro Kudus, Milik Syuaib Warga Gebog

"Di kampung saya, ketinggian air antara 70 cm sampai satu meter. Semua rumah kena," kata dia.

Untuk diketahui, Desa Glonggong memang merupakan salah satu wilayah yang menjadi langganan banjir setiap musim penghujan.

Saat curah hujan tinggi, debit air sungai setempat membeludak membanjiri jalan dan permukiman penduduk.(mzk)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.