Antisipasi Kenakalan Remaja, Disdik dan Yayasan di Sukoharjo Perkuat Karakter Anak Usia Dini
January 11, 2026 11:44 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNNEWSMAKER.COM, SUKOHARJO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo melalui Dinas Pendidikan terus menguatkan pendidikan karakter anak sejak usia dini. 

Salah satunya dengan memberikan pembekalan kemandirian kepada siswa Sekolah Dasar (SD), yang telah diterapkan di SD Negeri 1 Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.

Program tersebut dipantau langsung oleh Dinas Pendidikan Sukoharjo pada Sabtu (10/1/2026). 

Dalam kegiatan ini, siswa tidak hanya menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun juga diajak untuk bertanggung jawab dan mandiri setelahnya.

Setelah menyantap MBG, para siswa diminta mencuci sendiri ompreng atau wadah makanan yang digunakan. 

Kegiatan sederhana ini menjadi bagian dari pembiasaan karakter mandiri dan tanggung jawab sejak dini.

Kepala Dinas Pendidikan Sukoharjo, Havid Danang Purnomo Widodo, mengatakan penguatan karakter anak merupakan bagian dari program nasional. 

Dalam pelaksanaannya, terdapat jurnal tujuh kebiasaan anak, mulai dari bangun pagi hingga disiplin belajar.

“Ke depan penguatan karakter ini adalah program nasional. Kami juga sudah mencanangkan jam wajib belajar anak, yakni pukul 19.00 WIB sampai 21.00 WIB belajar di rumah,” ujarnya.

Menurut Havid, setelah jam belajar, anak-anak diharapkan tidur lebih awal sekitar pukul 21.00 WIB agar bisa bangun pagi dan mempersiapkan diri ke sekolah. 

Pola tersebut diyakini mampu menekan potensi kenakalan remaja.

“Terutama anak-anak yang mulai menginjak usia remaja di tingkat SMP, mereka sangat perlu bimbingan. Dengan kontrol orang tua di rumah dan pengawasan guru di sekolah, anak-anak bisa terhindar dari kenakalan remaja,” jelasnya.

Selain pembiasaan tanggung jawab, penguatan karakter anak juga dibekali dengan kemandirian ekonomi. 

Salah satunya melalui pembelajaran menanam tanaman yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan Makan Bergizi Gratis, sehingga berpotensi menjadi sumber pemasukan.

Agenda ini juga mengenalkan pembuatan sabun cuci piring organik berbahan limbah belimbing wuluh, yang diajarkan oleh Yayasan Smart Madani Indonesia. 

Sabun tersebut digunakan untuk mencuci peralatan makan MBG.

Tak hanya itu, sisa bahan makanan dari MBG juga dikelola dengan baik. 

Limbah makanan dimasukkan ke kolam khusus untuk dibudidayakan ikan lele, sehingga menghasilkan pupuk organik sekaligus sumber protein tambahan dari hasil panen ikan.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Negeri 1 Pranan, Binar Kustanti, mengungkapkan pendidikan karakter sebenarnya sudah lama diterapkan di sekolahnya. 

Namun, untuk kegiatan mencuci tempat makanan MBG baru dimulai pada semester dua.

“Pencucian tempat makanan MBG ini baru kami terapkan sekitar satu minggu terakhir. Karena dimulai setelah liburan semester,” kata Binar.

Ia menambahkan, sebelum program tersebut dijalankan, pihak sekolah terlebih dahulu meminta izin dan memberikan pemahaman kepada wali murid.

“Kami antisipasi persepsi orang tua. Kami jelaskan kegiatan ini untuk pembiasaan karakter anak yang bermanfaat hingga masa depan. Alhamdulillah, orang tua sangat mendukung dan anak-anak justru senang karena diajarkan cuci piring sendiri,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Smart Madani Indonesia, Sri Kalono, mengatakan implementasi program Gizi BerKarsa diawali dengan pemasangan sarana dan prasarana tempat cuci ompreng dan pelatihan membuat pupuk organik dari sisa makanan yang dilakukan para siswa.

Saat ini, ada empat sekolah pilot project program Gizi BerKarsa di wilayah Sukoharjo. Keempat sekolah itu yakni TK Godog 1 Polokarto, SDN Godog 01 Polokarto, SDN Pranan 01 Polokarto, dan SMPN 3 Polokarto.

“Penekanan program ini adalah membangun pendidikan karakter dan nilai-nilai kedisplinan serta kemandirian bagi para siswa. Hal ini diajarkan lewat program MBG di sekolah setiap hari,” papar dia.

Dia berharap program ini menjadi model praktik pembelajaran pendidikan karakter siswa berbasis sekolah. Model praktik ini bisa diterapkan di sekolah lain di setiap daerah di Tanah Air.

“Ada beberapa sekolah di Gunungkidul, DIY dan Kota Bekasi, Jawa Barat yang ingin menerapkan program ini. Beberapa sekolah di daerah lain juga akan menyusul,” tandas dia.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.