Warga Terisolasi setelah Jalan Tergerus Banjir, Droping Bahan Baku Makanan Mulai Dilakukan
January 12, 2026 06:09 AM

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Sebanyak 3.522 jiwa atau 1.445 KK masih terisolasi setelah dua hari dilanda bencana tanah longsor yang memutus akses jalan menuju Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara sejak Jumat (9/1).

Pada Minggu (11/1), sebagian besar dari 18 titik material longsor sepanjang jalan dari Desa Damarwulan-Tempur, sudah berhasil dievakuasi.

Material longsor di beberapa titik lainnya belum bisa disingkirkan lantaran medan jalan cukup sulit.

Apalagi, ada satu titik di mana longsor dan banjir memutus akses jalan menyapu badan jalan.

Sementara titik lainnya dilakukan pembersihan secara manual dengan menggunakan alat seadanya, lantaran alat berat belum bisa diterjunkan menjangkau semua titik longsor.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara mencatat ada 3.522 penduduk dari 1.445 KK yang masih terisolasi di Desa Tempur.

 BPBD Kabupaten Jepara telah menerbitkan Laporan Situasi (SITREP) resmi terkait skala kerusakan bencana tanah longsor Desa Tempur, Kecamatan Keling ditujukan kepada BNPB, Gubernur Jawa Tengah, dan Bupati Jepara, yang mengakibatkan terputusnya akses jalan secara total.

Kepala BPBD Kabupaten Jepara, Arwin Noor Isdiyanto mengatakan, longsor terjadi di 18 titik dengan karakteristik rusak berat hingga kritis. D

ijelaskannya, titik longsoran terparah berada di lokasi pertigaan dekat spot foto "Selamat Datang Desa Wisata Tempur".

Akses jalan yang terputus sepanjang 60 meter, di mana badan jalan hilang tersapu banjir Sungai Gelis. Selain itu, beberapa titik longsoran kategori kritis berada di jembatan Mbah Sujak menuju Desa Tempur.

Badan jalan terkikis sedalam 6 meter dampak sungai yang berpindah aliran.

Arwin memaparkan, bencana banjir dan tanah longsor tidak hanya berdampak pada akses transportasi.

Sebanyak 6 unit rumah penduduk di Desa Tempur mengalami rusak. 

Ada yang tergenang lumpur, tertimbun tanah dan bebatuan, ada juga yang rusak dihantam material longsor.

"Jaringan listrik di Desa Tempur juga padam total akibat satu tiang listrik roboh dan satu lainnya miring. Berdampak pula pada akses internet yang terganggu sejak hari pertama bencana terjadi," terangnya, Minggu (11/01/2026).

Arwin menyebut, ekonomi turut terdampak dengan puluhan hektare area persawahan di sepanjang Sungai Gelis dilaporkan hanyut. Sementara data rinci mengenai kerugian di bidang pertanian masih dalam pendataan.

Upaya darurat sudah dilakukan tim relawan gabungan untuk mengatasi persoalan yang muncul akibat bencana.

Mulai dari assesment korban dan kerusakan, pembersihan manual dengan alat konvensional (Alkon), membuka dapur umum, dan mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsoran di atas jalan.

Namun, akses jalan utama menuju Desa Tempur masih tertutup.

"Pembersihan material longsor di jalan sudah dilakukan Sabtu malam, namun belum selesai karena kondisi cuaca tidak memungkinkan. Kendalanya cuaca ekstrem yang berpotensi memicu longsor susulan dan banyaknya material batu besar yang masih berjatuhan," ujar dia.

BPBD Jepara mendata beberapa kebutuhan mendesak untuk mencukupi penduduk yang masih terisolasi dan upaya memulihkan akses jalan.

Di antaranya tambahan alat berat (Excavator tipe PC-75) untuk menangani material besar, Alkon untuk mempercepat pembersihan dan logistik guna menjamin pasokan bagi ribuan warga terdampak.

Kata Arwin, pembersihan dan pembukaan akses dilanjutkan pada Minggu dengan tetap mempertimbangkan keselamatan tim dan kondisi cuaca.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara, Tri Mulyo Mardi Santoso menambahkan, lebih dari 70 relawan dikerahkan untuk mengatasi kedaruratan. Menurutnya, situasi di Desa Tempur harus segera ditangani dan tidak bisa berlama-lama terisolir.

Droping bahan pokok makanan berupa beras 180 kilogram dan mie instan 12 dus dilakukan hari ini oleh relawan. Tak hanya itu, kebutuhan lain seperti BBM dan genset juga dikirim untuk menjaga desa tetap ada penerangan ketika malam hari.

Kata dia, penyaluran logistik dan kebutuhan lain dilakukan dengan armada mobil sampai ke Kaliombo.

Selanjutnya diteruskan dengan sepeda motor jika kondisi jalan setapak sisa gerusan banjir bisa dilalui dengan kendaraan.

Namun sebagian logistik terpaksa harus dibawa dengan jalan kaki untuk bisa menjangkau titik akses jalan yang lebih aman menuju Desa Tempur.

"Kita semua utamakan safety. Info koordinasi dengan Pemerintah Desa Tempur, sisa logistik yang ada di dalam desa masih cukup 1-2 hari. Dan hari ini kami mulai kirim logistik untuk menyambung kebutuhan makan di sana. Sembari menunggu upaya penyambungan akses jalan yang terputus," tuturnya. (Saiful Maksum)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.