WARTAKOTALIVECOM — Gelombang demonstrasi anti-pemerintah di Iran terus membesar dan memasuki pekan kedua dengan eskalasi kekerasan yang kian mengkhawatirkan.
Protes yang dipicu krisis ekonomi itu menjalar ke berbagai kota besar dan diwarnai aksi perusakan serta pembakaran sejumlah simbol negara dan keagamaan, termasuk masjid, bank, hingga fasilitas publik.
Salah satu peristiwa yang paling menyita perhatian publik internasional adalah beredarnya sebuah video yang dibagikan aktivis hak asasi manusia Iran, Masih Alinejad, melalui media sosial X.
Dalam rekaman tersebut, tampak sebuah masjid yang disebut-sebut sebagai masjid terbesar di Iran dilalap api, sementara para demonstran di sekitarnya meneriakkan slogan-slogan bernada perlawanan terhadap rezim penguasa.
Aksi itu mencerminkan tingkat kemarahan massa yang tak lagi terbendung terhadap pemerintah.
Wali Kota Teheran, Alireza Zakani, mengonfirmasi bahwa sedikitnya 25 masjid di ibu kota Iran telah dibakar oleh para pengunjuk rasa.
Selain tempat ibadah, kerusakan juga dilaporkan terjadi pada bangunan lain, seperti bank, pusat medis, dan infrastruktur umum.
Menurut otoritas setempat, skala kerusakan kali ini termasuk yang terluas dalam beberapa tahun terakhir.
Aksi unjuk rasa berlangsung nyaris tanpa henti meski aparat keamanan meningkatkan tekanan.
Pada Jumat malam (9/1/2026), massa kembali turun ke jalan meskipun terjadi tembakan dan pemadaman listrik secara nasional.
Langkah pemadaman tersebut diduga dilakukan untuk membatasi komunikasi dan pergerakan demonstran, namun tidak sepenuhnya berhasil meredam aksi protes.
Laporan Iran International menyebutkan, demonstrasi tidak hanya terkonsentrasi di Teheran, tetapi juga meluas ke kota-kota strategis lain seperti Isfahan, Mashhad, dan Tabriz.
Di Teheran, ribuan orang memblokir jalan-jalan utama, membakar kendaraan polisi, dan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah.
Suasana serupa terjadi di Isfahan, di mana demonstran secara terbuka menuduh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pembunuh.
Sementara itu di Mashhad, nuansa protes mengambil arah yang berbeda.
Massa dilaporkan menyuarakan dukungan terhadap rencana kembalinya Reza Pahlevi ke Iran. Reza Pahlevi merupakan putra mahkota terakhir Iran, anak dari Mohammad Reza Shah, yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979.
Seruan tersebut menjadi indikasi menguatnya nostalgia sebagian kelompok terhadap sistem monarki yang runtuh lebih dari empat dekade lalu.
Di ruang digital, gelombang perlawanan juga menggema.
Media sosial dihebohkan dengan beredarnya video seorang perempuan yang tampak menyalakan rokok menggunakan api dari foto Ali Khamenei yang dibakar.
Meski sejumlah media internasional seperti Euronews dan Times of India menyebut belum dapat memverifikasi keaslian video tersebut secara independen, rekaman itu memicu perdebatan luas.
Membakar foto pemimpin tertinggi di Iran dipandang sebagai pelanggaran berat.
Preseden serupa pernah terjadi pada September 2021, ketika Qasem Bahrami, seorang penyair Iran yang dikenal kritis, ditangkap di Mashhad setelah membakar foto Ali Khamenei.
Kasus tersebut kala itu memicu kecaman luas dari kelompok pembela kebebasan berekspresi.
Hingga kini, demonstrasi di Iran dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 51 orang.
Angka tersebut dikhawatirkan masih akan bertambah seiring bentrokan yang terus terjadi antara demonstran dan aparat keamanan.
Situasi di lapangan masih sangat dinamis, sementara perhatian dunia internasional tertuju pada bagaimana pemerintah Iran akan merespons krisis yang kian dalam ini.