10 Puisi untuk Menemani Malam Hujan yang Sunyi dan Penuh Rindu
January 12, 2026 09:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Malam di musim hujan selalu datang dengan caranya sendiri.

Ada bunyi air yang jatuh pelan, ada lampu yang temaram, dan ada pikiran yang tiba-tiba melambat, seolah waktu memberi ruang untuk bernapas lebih lama.

Di saat seperti ini, rindu tidak selalu terasa menyakitkan.

Ia bisa hadir sebagai keheningan yang lembut, menemani pikiran tanpa menuntut apa pun.

Sepuluh puisi berikut ditulis untuk menemani malam-malam hujan yang sunyi, ketika hati ingin diam, namun tetap ingin merasa.

Di Bawah Lampu Jalan

Hujan jatuh perlahan
lampu jalan berpendar sendu
aku berdiri di antara ingatan
dan namamu yang belum berlalu

Malam tidak banyak bicara
hanya membiarkan rindu duduk
tenang, tanpa tergesa
menemani langkah yang tertunduk

Rindu yang Tidak Bertanya

Aku tidak bertanya kabarmu
biarlah hujan yang menyampaikan
rindu ini tidak ingin jawaban
cukup menjadi perasaan

Di antara detak jam dan sunyi
aku belajar merelakan
bahwa rindu bisa tinggal
tanpa harus dimiliki lagi

Malam yang Menyimpan Nama

Langit menutup dirinya
awan berbaris seperti rahasia
aku menyebut namamu pelan
agar malam saja yang mendengar

Tak ada air mata jatuh
hanya hujan yang bekerja
menyiram kenangan lama
hingga terasa lebih tenang

 
Hening yang Tak Lagi Sepi

Hujan membuat kota senyap
jalan-jalan pulang lebih cepat
aku duduk dengan pikiranku
tanpa rasa ingin beranjak

Di hening ini aku mengerti
sepi tidak selalu menyakitkan
kadang ia hanya ruang kecil
untuk merapikan perasaan

 
Surat yang Tak Pernah Dikirim

Aku menulis namamu di udara
lalu membiarkannya larut
tak semua rindu harus tiba
beberapa cukup disimpan dengan patut

Hujan menutup percakapan
malam menyelesaikan kalimat
aku belajar mencintai diam
tanpa perlu terlalu dekat

 
Musim yang Mengajarkan Ikhlas

Musim hujan datang lagi
membawa ingatan yang sama
aku tak lagi melawan rindu
hanya mengajaknya duduk bersama

Jika nanti hujan berhenti
biarlah rindu tetap tinggal
bukan untuk dimiliki
hanya agar hati tetap tenang

 
Detik yang Melambat

Jam berdetak lebih pelan
saat hujan mengetuk jendela
aku menikmati waktu yang tertunda
tanpa ingin ke mana-mana

Rindu hadir seperti tamu lama
diam, tidak banyak tanya
cukup mengingatkan perlahan
bahwa pernah ada kita

 
Kota Setelah Hujan

Jalan basah memantulkan lampu
malam memeluk segala rasa
aku berjalan tanpa tujuan
menyapa kenangan yang tersisa

Tak ada marah, tak ada sesal
hanya langkah yang lebih tenang
rindu kini belajar pulang
tanpa harus menetap terlalu panjang

Baca juga: 11 Puisi Karya Penyair Terkenal Tanah air, Cocok Untuk Membuka Tahun Baru

Aku dan Hujan

Hujan duduk di sebelahku
kami sama-sama tidak bicara
ia jatuh, aku mengingat
kita dalam versi sederhana

Malam tidak meminta apa-apa
selain kejujuran perasaan
bahwa rindu bisa terasa hangat
saat diterima dengan pelan

 
Pulang ke Diri Sendiri

Malam hujan mengajarkanku
bahwa rindu tidak selalu tentangmu
kadang ia hanya cara hati
untuk pulang ke dirinya sendiri

Di antara sunyi dan suara air
aku merasa cukup
tidak kehilangan, tidak berharap
hanya tenang, sepenuhnya hidup (MG Agit Aida Musfiroh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.