Demi Kebutuhan Keluarga, Nelayan di Pasangkayu Nekat Melaut Meski Gelombang Tinggi dan Angin Kencang
January 12, 2026 01:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Cuaca buruk masih menyelimuti pesisir Dusun Desa Harapan, Kelurahan Pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu, Senin (12/1/2026). 

Langit tampak mendung sejak pagi, angin bertiup kencang dari arah laut, sementara gelombang tinggi terus memecah di sepanjang bibir pantai.

Pantauan Tribun-Sulbar.com di lokasi, puluhan perahu nelayan terlihat terparkir di pesisir.

Sebagian perahu ditarik ke daratan dan ditopang kayu, sementara lainnya diikat kuat agar tidak terseret ombak. 

Baca juga: Kronologi Truk Hino dan Hilux Adu Banteng di Jl Trans Mateng, Mobil Rusak Parah dan Korban Selamat

Baca juga: Drainase Tersumbat, 10 Rumah di Dusun Labuan Pasangkayu Terendam Banjir Selama Dua Hari

Jaring-jaring nelayan tampak digulung dan dijemur, menandakan aktivitas melaut berkurang akibat kondisi cuaca yang tidak bersahabat.

Di tengah situasi tersebut, Papa Riski memilih tetap melaut. 

Nelayan setempat itu mengaku terpaksa turun ke laut meski risiko keselamatan meningkat, karena kebutuhan ekonomi yang mendesak.

“Kalau cuaca begini sebenarnya berbahaya, tapi kalau tidak melaut tidak ada pemasukan,” ujar Papa Riski saat ditemui di pantai, Senin (12/1/2026).

Ia menjelaskan, gelombang tinggi membuat nelayan tidak bisa melaut jauh dari bibir pantai. 

Foto perahu nelayan di laut Dusun Tanjung Parappa, Kelurahan Pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu Sulawesi Barat (Sulbar)
Foto perahu nelayan di laut Dusun Tanjung Parappa, Kelurahan Pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu Sulawesi Barat (Sulbar) (Tribun Sulbar / Taufan)

Waktu mencari ikan pun menjadi sangat terbatas, sehingga hasil tangkapan menurun drastis.

“Kami hanya melaut sebentar, tidak berani jauh. Ikan juga sedikit karena ombak besar,” katanya.
Minimnya hasil tangkapan berdampak langsung pada pendapatan nelayan. 

Untuk menutup biaya operasional dan risiko melaut di tengah cuaca buruk, harga ikan terpaksa dijual lebih tinggi dibanding hari normal.

“Harga ikan kami naikkan sedikit, karena resikonya besar. Tapi penghasilan tetap turun karena ikannya tidak banyak,” ucapnya.

Sementara itu, sejumlah nelayan lain tampak memilih bertahan di darat. 

Beberapa duduk di bawah perahu sambil memperbaiki jaring dan mesin, sementara lainnya hanya memantau kondisi laut dari kejauhan. 

Mereka mengaku khawatir melaut karena gelombang dinilai terlalu tinggi untuk perahu kecil.

Kondisi di pesisir Dusun Desa Harapan pagi itu mencerminkan kehidupan nelayan yang serba dilema. 

Cuaca buruk memaksa sebagian nelayan menghentikan aktivitas, sementara sebagian lainnya tetap mengambil risiko demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Di tengah deru angin dan ombak yang terus menghantam pantai, aktivitas nelayan tampak melambat. 

Namun bagi Papa Riski, laut tetap menjadi satu-satunya harapan untuk bertahan hidup, meski harus dilalui dengan penuh kehati-hatian.(*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.