TRIBUNKALTIM.CO - Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menyampaikan apresiasi atas peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Proyek RDMP Balikpapan dinilai menjadi tonggak strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan kemandirian pengolahan minyak di dalam negeri, sejalan dengan arah pembangunan nasional dalam kerangka Asta Cita.
RDMP Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sekitar US$7,4 miliar atau setara Rp120 triliun.
Melalui proyek ini, kapasitas pengolahan Kilang Balikpapan meningkat dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari, sehingga menjadikannya kilang minyak terbesar di Indonesia.
Baca juga: Live Streaming Kunjungan Presiden Prabowo ke Balikpapan dan IKN Kaltim Hari Ini 2026 Lengkap Agenda
“Peresmian RDMP Balikpapan merupakan bukti komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan kapasitas kilang yang meningkat, ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak dapat ditekan secara bertahap,” ujar Bambang, legislator Partai Golkar dari daerah pemilihan Bangka Belitung.
Ia menilai peningkatan kapasitas dan kemampuan Kilang Balikpapan memberikan dampak langsung terhadap ketahanan pasokan energi nasional, khususnya dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak di dalam negeri.
Dengan kemampuan pengolahan yang lebih besar, pasokan energi menjadi lebih terjamin dan risiko gangguan distribusi dapat diminimalkan.
Dalam perspektif Asta Cita, Bambang menegaskan penguatan infrastruktur energi melalui modernisasi kilang merupakan bagian penting dari upaya membangun kemandirian ekonomi, memperkuat ketahanan nasional, serta memastikan pengelolaan sumber daya alam memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Selain memperkuat pasokan energi, RDMP Balikpapan juga dinilai memperkokoh struktur industri pengolahan migas nasional.
Modernisasi kilang mendorong peningkatan nilai tambah di dalam negeri serta memperkuat peran sektor energi sebagai pilar pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Bambang menegaskan proyek RDMP Balikpapan memiliki arti strategis dalam mendorong kemandirian dan kedaulatan energi nasional, terutama untuk menjaga ketahanan energi dalam jangka menengah dan panjang.
“Komisi XII DPR RI mendukung penuh langkah pemerintah dalam memodernisasi kilang nasional. RDMP Balikpapan harus menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan energi nasional yang sejalan dengan Asta Cita,” pungkas Bambang seperti dilansir Tribunnews.com..
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Senin (12/1/2026).
Rencana peresmian RDMP Balikpapan sebelumnya menjadi salah satu pembahasan dalam rapat terbatas Presiden bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, pada Minggu (11/1/2026).
“Rencana peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan pada Senin, 12 Januari 2026,” dikutip dari akun Instagram Sekretariat Kabinet @sekretariat.kabinet.
Melalui proyek modernisasi ini, kapasitas produksi Kilang Balikpapan meningkat menjadi 360.000 barel per hari dari sebelumnya 260.000 barel per hari.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa beroperasinya RDMP Balikpapan menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi solar dalam negeri, seiring rencana penerapan mandatori B50 dan peningkatan kapasitas pengolahan nasional.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa RDMP Balikpapan merupakan proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia.
Salah satu elemen utama proyek ini adalah Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex, yang menjadi tulang punggung operasional Kilang Balikpapan dalam proses modernisasi menuju standar kilang kelas dunia.
Melalui RFCC Complex dan unit tambahan lainnya, Kilang Balikpapan kini mampu memproduksi bahan bakar berkualitas setara standar Euro 5, dengan kandungan sulfur yang turun signifikan dari 2.500 ppm (Euro 2) menjadi 10 ppm (Euro 5).
Baca juga: Agenda Presiden Prabowo Subianto ke Kaltim, Resmikan RDMP hingga Tinjau Sekolah di IKN
Selain itu, Kilang Balikpapan juga mampu menambah produksi LPG hingga 336.000 ton per tahun, sehingga memperkuat pasokan energi domestik. Fasilitas ini juga memungkinkan pengolahan residu minyak menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene.
Dari sisi kinerja, kompleksitas Kilang Balikpapan meningkat signifikan, tercermin dari Nelson Complexity Index (NCI) yang naik dari 3,7 menjadi 8,0. Sementara Yield Valuable Product (YVP) meningkat dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen, menunjukkan peningkatan efisiensi dan daya saing kilang.
“RFCC Complex menjadi wujud kesiapan Pertamina dalam pengolahan kilang modern serta dukungan terhadap swasembada energi nasional sebagaimana diamanatkan dalam Asta Cita pemerintah,” pungkas Baron, seperti dilansir Kompas.com.