BANGKAPOS.COM – Suasana malam di Kota Mentok, Kabupaten Bangka Barat, belakangan ini lain dari biasanya.
Sudah lebih dari satu pekan, lampu penerangan jalan umum (PJU) di ruas Jalan Nasional, mulai dari kawasan ikonik Tugu Duren hingga persimpangan Jalan Surau dan Gang Durian, padam total.
Kondisi gelap gulita ini memicu keresahan luar biasa bagi warga setempat.
Selain mengganggu jarak pandang pengguna jalan, kegelapan ini dikhawatirkan memicu aksi kriminalitas dan kecelakaan lalu lintas.
Waluyo (52), warga sekitar Tugu Duren, mengungkapkan kekhawatirannya akan dampak pembiaran kondisi ini.
"Kami warga sekitar Tugu Duren di sini tidak tau menyampaikan kepada siapa, apalagi kita tahu bersama tugu itu sudah menjadi Ikon Mentok. Mestinya jangan sampai padam lampu penerangannya," keluhnya kepada wartawan, Minggu (11/1/2026) malam.
Ia menambahkan bahwa kegelapan di Tugu Duren justru memicu kerumunan yang tidak sehat dan potensi perusakan aset.
"Ini akibat padamnya lampu menyebabkan kerumunan orang nongkrong sampai larut malam. Kami juga merasa ketentraman kami yang tinggal di sekitar Tugu Duren terganggu," lanjutnya.
Kondisi ini juga memicu reaksi Anggota Komisi III DPRD Bangka Barat, Eddy Arif.
Ia mengaku sering menagih janji dinas terkait untuk segera melakukan perbaikan, bahkan ia sampai dijuluki "Dewan Penerangan".
Eddy mengingatkan bahwa masyarakat sudah menunaikan kewajiban mereka melalui retribusi pajak penerangan jalan setiap kali membeli token listrik.
"Padahal sebenarnya warga telah membayar retribusi dipotong pada saat membayar token PLN, dan pihak PLN telah membayarkan retribusi tersebut kepada BP2RD, dan itu tidak sedikit. Jangan sampai kota Mentok mendapat semboyan, kota hantu dari warga dan masyarakat yang datang ke kota Mentok," tegas politisi Partai Gerindra tersebut.
Hasil Sidak: Masalah Teknis "Salah Pasang" Daya Lampu
Merespons keluhan warga tersebut, Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman, langsung melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke lokasi pada Senin (12/1/2026).
Ia mengimbau masyarakat untuk menjaga aset dan tetap aktif melapor.
"Jadi kalau kita ingin sama-sama memajukan Mentok, mari sama-sama. Aset yang ada jangan dirusak, pemelihara bersama. Apabila kurang pas sampaikan ke kita. Seperti lampu jalan yang mati sampaikan ke kita," ujar Yus Derahman di sela sidaknya.
Namun, temuan mengejutkan diungkapkan oleh Staff Keselamatan Dinas Perumahan Kawasan Permukaan dan Perhubungan Bangka Barat, Abraham.
Ternyata, padamnya lampu disebabkan oleh ketidaksesuaian beban daya pada bola lampu yang baru dipasang.
"Jadi kemarin pada banyak jaringan pada rusak, ternyata lampunya diganti. Dari 50 watt diganti menjadi 110 watt satu lampu. Jadi dua kanan kiri-kanan jadi 220 watt. Nah, akibatnya daya ini tidak suport, kita tambah daya tidak suport juga," jelas Abraham.
Ia menerangkan bahwa kapasitas kWh yang ada tidak sanggup mengangkat beban lampu yang meningkat dua kali lipat lebih dari rencana awal.
"Cuman kayaknya belum kuat lagi, karena memang luar biasa lebih dari dua kali lipat. Dari 50 watt menjadi 110 watt, satu lampu. Kalau dua lampu 220 watt. Seharusnya cuman 100 watt kemarin," tambahnya.
(Bangkapos.com/Riki Pratama)