TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- PSMS Medan resmi menunjuk Eko Purdjianto sebagai pelatih anyar untuk melanjutkan perjuangan tim di kompetisi Pegadaian Championship musim 2025/2026.
Eko ditunjuk menggantikan Kas Hartadi yang sebelumnya menukangi tim berjuluk Ayam Kinantan tersebut.
Penunjukan Eko Purdjianto sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan suporter. Sebagian pendukung berharap kursi pelatih kepala PSMS Medan diisi oleh sosok pelatih lokal asal Sumatra Utara.
Namun demikian, manajemen tetap menjatuhkan pilihan kepada Eko Purdjianto dengan sejumlah pertimbangan matang.
Presiden PSMS Medan, Fendi Jonathan, menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui proses evaluasi panjang dan bukan secara instan.
“Sebenarnya kandidat banyak, termasuk pelatih lokal. Tapi kesulitannya, selama ini mereka sudah terikat dengan klub lain. Itulah kenapa pergantian pelatih di PSMS cukup lama, bukan karena kami tidak mau berubah, tetapi mencari yang terbaik itu tidak mudah,” ujar Fendi dalam podcast Tribun Medan program Tendangan Bebas (TEBAS) yang berlangsung di Studio Redaksi Tribun Medan, Senin (12/1/2026).
Fendi mengungkapkan, sebelum akhirnya menunjuk Eko Purdjianto, manajemen telah mempertimbangkan beberapa nama.
Evaluasi dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya terhadap pemain, tetapi juga terhadap tim pelatih.
“Ketika saya menyampaikan bahwa dua laga terakhir akan menjadi evaluasi final, sebenarnya proses evaluasi itu sudah berjalan jauh sebelumnya. Bukan hanya pemain, pelatih juga kami evaluasi. Performa tim yang mulai merosot menjadi salah satu pertimbangan penting,” jelasnya.
Meski mengganti pelatih kepala, Fendi menegaskan bahwa manajemen tidak menyalahkan Kas Hartadi.
Ia menilai Kas telah bekerja dengan baik selama menukangi PSMS Medan.
“Coach Kas itu bagus. Kami tidak menyalahkan siapa pun. Tujuan kami hanya satu, ingin bekerja sama supaya PSMS bisa menjadi lebih baik,” tegasnya.
Terkait keinginan sebagian suporter agar PSMS Medan ditangani pelatih putra daerah, Fendi menilai hal tersebut tidak bisa dijadikan patokan utama.
Menurutnya, yang terpenting adalah kualitas dan kemampuan membawa tim berprestasi.
“Intinya, saya rasa tidak harus putra daerah yang bisa membawa PSMS ke arah yang lebih baik dan ke Liga 1. Saya tidak bisa berpatok pada status putra daerah. Sama seperti pemain, ada pemain lokal Sumatra Utara, tapi ada juga pemain dari luar daerah yang kualitasnya lebih baik. Itu tidak bisa dijadikan patokan,” ujarnya.
Fendi juga menilai mengistimewakan pelatih atau pemain berdasarkan daerah asal justru bisa mengganggu kondusivitas tim.
“Tidak bagus juga untuk kondisi tim kalau kita mengistimewakan karena faktor daerah,” tambahnya.
Selain itu, Fendi mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi manajemen PSMS Medan sejak awal musim.
Ia menyebut, saat mulai membangun tim, waktu yang dimiliki sangat terbatas dan proses akuisisi manajemen pun berlangsung cukup lama, sehingga para pemain yang musim lalu berseragam PSMS Medan lebih dulu direkrut tim lain.
Situasi tersebut turut memengaruhi persiapan tim secara keseluruhan.
“Untuk membangun tim musim ini, saya hanya punya waktu sekitar satu bulan sejak awal Agustus. Saat itu pemain-pemain sudah banyak yang dikontrak klub lain. Jadi kita benar-benar membangun dari nol mencari pemain,” ungkapnya.
Dengan ditunjuknya Eko Purdjianto sebagai pelatih kepala, manajemen PSMS Medan berharap dapat membawa perubahan positif dan mengangkat kembali performa tim di sisa kompetisi Pegadaian Championship musim 2025/2026.
(Cr29/tribun-medan.com)