TRIBUNSUMSEL.COM -- Air muncul dari fenomena alam berupa lubang misterius atau sinkhole di area persawahan warga Jorong, Nagar, Batuah, kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) dipastikan tak aman konsumsi secara langsung.
Hal tersebut berdasarkan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan dinas kesehatan Kabupaten Lima Puluh Kota, Minggu (12/1/2026).
“Air itu sudah kami ambil sampelnya pada 9 Januari 2026 dan dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi. Hasilnya sudah keluar dan menunjukkan adanya kandungan E. coli serta total coliform,” kata Kepala Puskesmas Situjuah Limo Nagari, Silvia Rosja melansir dari Tribunpadang.com.
Berdasarkan hasil uji laboratorium, air sinkhole tersebut mengandung E. coli sebesar 11 CFU/100 mL dan total coliform mencapai 234 CFU/100 mL.
Dengan kondisi tersebut, air tersebut tidak aman untuk dikonsumsi secara langsung.
Namun, air masih dapat dimanfaatkan dengan pengelolaan terlebih dahulu, seperti dimasak hingga matang atau melalui proses filtrasi dan desinfeksi.
“Standar baku mutu kualitas air minum untuk E. coli dan coliform itu adalah nol, sesuai dengan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023. Jadi air ini tidak layak dikonsumsi langsung dan perlu pengelolaan terlebih dahulu sebelum digunakan,” jelasnya.
Silvia mengingatkan, konsumsi air tanpa dimasak berisiko mengganggu kesehatan, khususnya sistem pencernaan.
“Kalau diminum tanpa dimasak, secara umum dapat mengganggu saluran pencernaan," sebutnya.
Kata dia, dampaknya tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang.
"Ada yang langsung mengalami gangguan, ada juga yang tidak. Namun jika dikonsumsi dalam jangka panjang, tentu berbahaya,” ujarnya.
Fenomena alam berupa lubang misterius atau sinkhole tersebut muncul di area persawahan milik warga bernama Adrolmios (61) di Jorong Tepi, Nagari Situjuh Batuah, Kabupaten Lima Puluh Kota.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Limapuluh Kota, Rahmadinol, mengatakan sinkhole itu muncul pada Minggu (4/1/2026).
Ia memastikan kemunculan lubang tersebut murni disebabkan oleh faktor alam dan berkaitan dengan kondisi geologi wilayah setempat.
“Kejadian ini merupakan fenomena alam. Berdasarkan hasil kajian bersama Badan Geologi, disepakati bahwa peristiwa ini berkaitan dengan kondisi geologi di kawasan Patahan Semangka. Kabupaten Limapuluh Kota memang berada di jalur patahan tersebut,” kata Rahmadinol kepada TribunPadang.com, Senin (5/1/2026).
Sebelum lubang terbentuk, warga sempat mendengar suara gemuruh dari dalam tanah.
“Di bawah tanah terdapat kekosongan. Ketika terjadi runtuhan tanah, muncul suara gemuruh tersebut,” jelasnya.
Saat ini, sinkhole tersebut memiliki kedalaman sekitar enam hingga tujuh meter dengan lebar mencapai 10 meter. Dari dalam lubang juga keluar air dengan debit yang cukup besar.
“Seharusnya lubang ini kering, namun justru mengeluarkan air. Setelah kami amati, air tersebut merupakan aliran air tanah,” ungkap Rahmadinol.
Ia menambahkan, lubang tersebut berpotensi terus membesar seiring tingginya debit air yang dapat memicu longsoran tanah di sekitarnya.
“Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan lubang ini akan terus meluas karena potensi longsoran masih ada,” katanya.
Untuk mengantisipasi risiko yang lebih besar, BPBD Limapuluh Kota bersama Badan Geologi akan melakukan kajian lanjutan.
“Terkait kejadian ini, kami akan melakukan kajian lebih lanjut agar dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutupnya.
(*)