POSBELITUNG.CO.ID--Kepergian Kopda Satria Taopan, prajurit TNI Angkatan Darat yang gugur usai ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, rekan, dan seluruh bangsa.
Insiden tragis terjadi pada Kamis (8/1/2026) di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, saat Kopda Satria tengah menjalankan tugas menjaga kedaulatan negara.
Sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanannya, TNI menganugerahi kenaikan pangkat kehormatan menjadi Kopda Anumerta Satria Taopan.
Kenaikan pangkat ini tidak hanya menjadi simbol penghargaan, tetapi juga pengingat bagi generasi muda tentang dedikasi dan pengorbanan para prajurit yang menempatkan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Kopda Satria lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan dikenal sebagai sosok gigih, disiplin, dan ramah.
Menurut ayahnya, Dominggus Taopan, Satria adalah pribadi yang mudah bergaul, selalu tersenyum, dan cepat akrab dengan siapa pun.
“Dia itu senyum terus. Duduk di mana saja pasti cepat akrab. Kalau cuti, teman-temannya datang dari mana-mana,” kenang Dominggus saat ditemui di rumah duka, Jumat (9/1/2026), seperti dilansir dari Pos-Kupang.com.
Satria Taopan dikenal pantang menyerah sejak muda. Ia tercatat mengikuti tes masuk TNI sebanyak sembilan kali sebelum akhirnya lolos dan resmi menjadi prajurit.
Dedikasinya terlihat jelas ketika ia mengemban tugas internasional sebagai anggota Pasukan Perdamaian PBB di Kongo, Afrika Tengah, selama satu tahun.
Pengalaman internasional ini menjadikannya prajurit yang tangguh, mampu bekerja dalam kondisi ekstrem, dan disiplin tinggi.
Sejak bergabung dengan TNI Angkatan Darat pada 2018, Kopda Satria menunjukkan dedikasi tinggi.
Terakhir, ia ditugaskan di Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan, khususnya di wilayah rawan di Papua Pegunungan, untuk menjaga keamanan dan kedaulatan negara.
Sebelum kepergiannya, Kopda Satria sempat menyampaikan rencana hidupnya kepada keluarga.
Dua pekan sebelum bertugas di Nduga, ia menelepon orangtuanya untuk berbagi kabar bahagia bahwa ia berniat menikah dengan kekasihnya.
“Setelah keluar gereja, bapak dan mama harus ketemu orangtua calon istri. Rencananya nikah bulan Juni 2026,” ujar Dominggus menirukan kata-kata terakhir putranya.
Sayangnya, rencana itu tidak pernah terwujud.
Kepergian Kopda Satria saat menjalankan tugas negara memupus impian keluarga dan menimbulkan duka yang mendalam, terutama bagi sang ayah yang masih mengingat jelas setiap pesan terakhir putranya.
Berdasarkan informasi yang diterima dari rekan-rekannya, kejadian penembakan berlangsung saat Kopda Satria bersama tim melakukan patroli di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok.
Lokasi ini dikenal rawan konflik akibat aktivitas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
“Temannya satu angkatan di Papua sempat telepon saya dan bilang, ‘Bapak banyak berdoa, cuaca tidak aman dan masih ada KKB di lokasi’,” ungkap Dominggus.
Proses evakuasi jenazah pun berlangsung penuh tantangan.
Jenazah Kopda Satria digotong sejauh sekitar lima kilometer menuju pos terdekat agar dapat dievakuasi dengan aman.
Setelah itu, jenazah diterbangkan menggunakan helikopter ke Timika, lalu ke Makassar, dan akhirnya tiba di Kupang pada Sabtu dini hari (10/1/2026).
Kopda Satria Taopan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Darmaloka, Kupang, dengan upacara pemakaman militer.
Prosesi ini menjadi penghormatan terakhir bagi prajurit yang telah mengabdikan hidupnya untuk bangsa dan negara.
Para rekan TNI, keluarga, serta pejabat setempat hadir untuk memberi penghormatan terakhir.
Dominggus mengenang putranya sebagai sosok pekerja keras, disiplin, dan gigih dalam meniti karier di TNI.
“Dia itu pribadi yang luar biasa, pantang menyerah, dan sangat mencintai bangsa. Kami bangga meski sangat kehilangan,” ungkapnya.
Rekan-rekan prajurit juga menyampaikan duka cita. Mereka mengenang Kopda Satria sebagai pemimpin yang tegas namun hangat, mampu memotivasi rekan setim, serta selalu mengutamakan keselamatan dalam setiap tugas.
Sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan pengorbanannya, TNI memberikan kenaikan pangkat kehormatan menjadi Kopda Anumerta.
Langkah ini menegaskan bahwa perjuangan dan dedikasi Kopda Satria Taopan tidak akan pernah dilupakan.
Kepergian Kopda Satria Taopan meninggalkan pelajaran penting tentang pengabdian dan keberanian.
Sosoknya menjadi teladan bagi generasi muda Indonesia, terutama bagi mereka yang ingin mengabdi di dunia militer atau pelayanan publik.
Keberanian, disiplin, dan dedikasinya dalam menghadapi tugas di daerah rawan konflik menunjukkan bahwa menjaga kedaulatan negara adalah panggilan hidup yang memerlukan pengorbanan besar.
Meski meninggalkan duka, nama Kopda Satria Taopan tetap abadi sebagai simbol pengorbanan, keberanian, dan dedikasi seorang prajurit TNI.
Ia akan selalu dikenang sebagai prajurit yang gagah berani, pantang menyerah, dan menginspirasi banyak orang untuk mencintai tanah air.
Keluarga dan TNI berharap bahwa pengabdian Kopda Satria bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia.
Ketekunan, kerja keras, dan keberanian untuk menghadapi risiko demi bangsa adalah nilai-nilai yang harus terus diwariskan.
“Semoga kisah Satria menjadi motivasi bagi anak-anak muda di tanah air untuk terus mengabdi dan mencintai Indonesia,” ujar Dominggus sambil menahan haru.
Kisah hidup dan pengorbanan Kopda Satria Taopan akan selalu menjadi bagian dari sejarah TNI dan menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat tentang harga tinggi dari dedikasi seorang prajurit dalam menjaga kedaulatan negara.
(TribunTrends.com/(Tribun Papua/Bangkapos.com)