Harga Emas Dunia Melonjak Usai AS Ancam Pidana Ketua The Fed Jerome Powell
kumparanBISNIS January 12, 2026 09:39 PM
Harga emas dunia melonjak ke rekor tertinggi setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengancam Federal Reserve (The Fed) dengan dakwaan pidana, yang kembali memicu kekhawatiran terhadap independensi bank sentral. Di saat yang sama, eskalasi aksi protes mematikan di Iran turut menjaga ketegangan geopolitik tetap tinggi.
Mengutip Bloomberg, harga emas batangan naik hingga mendekati USD 4.600 per ons pada Senin (12/1), sementara perak berada tepat di bawah level tertinggi sepanjang masa. Kenaikan ini terjadi setelah Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan potensi dakwaan pidana tersebut harus dilihat dalam konteks yang lebih luas dari ancaman dan tekanan berkelanjutan dari pemerintah untuk memengaruhi keputusan suku bunga bank sentral.
Serangan berulang pemerintahan Trump terhadap The Fed sepanjang tahun lalu menjadi salah satu faktor utama yang menggerus kepercayaan terhadap dolar AS. Sementara itu, aksi protes mematikan di Iran meningkatkan daya tarik aset lindung nilai seperti logam mulia, seiring munculnya kemungkinan tergulingnya pemerintahan Republik Islam tersebut.
Presiden AS Donald Trump pada Minggu (11/1) mengatakan tengah mempertimbangkan berbagai opsi terkait Iran. Ia juga kembali melontarkan ancaman untuk mengambil alih Greenland serta mempertanyakan nilai aliansi NATO, hanya berselang sedikit lebih dari sepekan setelah menyita pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro.
“Ini menjadi pengingat betapa banyaknya ketidakpastian yang sedang dihadapi pasar mulai dari geopolitik, perdebatan soal pertumbuhan dan suku bunga, hingga munculnya kembali risiko institusional yang dipicu oleh headline,” ujar Chief Investment Strategist Saxo Markets dari Singapura Chanana.
Emas baru saja melewati satu tahun dengan rekor demi rekor, didorong oleh kombinasi berbagai faktor pendukung, mulai dari penurunan suku bunga, meningkatnya ketegangan geopolitik, hingga menurunnya kepercayaan terhadap dolar AS. Lebih dari 12 manajer investasi menyebut mereka memilih untuk tidak terlalu banyak merealisasikan keuntungan, karena tetap yakin pada daya tarik emas dalam jangka panjang.
Perbesar
Ketua Dewan Cadangan Federal Jerome Powell berbicara pada konferensi pers setelah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal. Foto: AFP
Harga perak melonjak 4 persen dan diperdagangkan tepat di bawah rekor tertinggi pada Senin (11/1), dengan pendorong yang serupa dengan emas. Logam putih tersebut melesat hampir 150 persen sepanjang tahun lalu akibat short squeeze bersejarah yang melanda pasar pada Oktober. Pasar spot utama di London juga masih mengalami pengetatan pasokan, seiring kekhawatiran tarif yang menghambat aliran logam dari gudang-gudang penuh di AS.
“Kami melihat defisit di pasar perak akan berlanjut sepanjang 2026, terutama didorong oleh meningkatnya permintaan investasi,” tulis unit Fitch Solutions Inc., BMI, dalam catatannya pada Senin (12/1). BMI juga menambahkan, permintaan industri turut memperketat pasar fisik pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Data ketenagakerjaan AS pekan lalu mempertahankan ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan, yang mendukung harga logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Pasar memperkirakan setidaknya dua kali penurunan suku bunga tahun ini, setelah The Fed memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut pada paruh kedua tahun lalu.
Di sisi lain, Mahkamah Agung AS dijadwalkan akan menyampaikan pendapat berikutnya terkait tarif Trump pada Rabu (14/1). Putusan yang menolak kebijakan tarif tersebut berpotensi melemahkan kebijakan ekonomi andalan Trump dan menjadi kekalahan hukum terbesarnya sejak kembali ke Gedung Putih.
Pada pukul 10.03 waktu Singapura, harga emas naik 1,3 persen menjadi USD 4.567,87 per ons. Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,2 persen. Sedangkan harga perak melonjak 3,5 persen, setelah naik hampir 10 persen pekan lalu. Sementara itu, palladium dan platinum masing-masing menguat sekitar 3 persen.