TRIBUNTRENDS.COM - Memoar Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings terus menyedot perhatian publik dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform.
Buku ini menarik perhatian luas karena berisi pengakuan jujur Aurelie tentang perjalanan hidupnya yang penuh luka dan trauma.
Baca juga: Roby Tremonti Sesumbar Butuh Waktu 2 Tahun Move On dari Aurelie Moeremans: Gokil Gak Sih
Dalam memoarnya, Aurelie secara terbuka mengungkap bahwa ia menjadi korban child grooming sejak usia yang sangat belia.
Ia menceritakan bagaimana dirinya terjerat dalam hubungan yang dipenuhi manipulasi, tekanan emosional, dan kekerasan psikologis, yang perlahan menghancurkan rasa aman serta kepercayaan dirinya.
Melalui kisah tersebut, Aurelie menggambarkan dampak serius dari relasi tidak sehat yang ia alami sejak remaja.
Pengalaman pahit itu disebut berkaitan dengan Roby Tremonti, mantan kekasihnya, yang diduga memaksanya menjalani pernikahan di bawah umur.
Selama hubungan dan pernikahan tersebut, Aurelie mengaku harus menghadapi berbagai perlakuan keji, baik secara mental maupun emosional, yang membekas hingga bertahun-tahun kemudian.
Isu mengenai hubungan Aurelie dan Roby kembali mencuat sejak awal 2025, seiring beredarnya kembali pernyataan terkait pernikahan mereka pada Oktober 2011.
Peristiwa ini juga mengingatkan publik pada jejak digital lama, yakni pada tahun 2010, ketika Aurelie bersama ibundanya, Sri Sumarti, mendatangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk melaporkan dugaan praktik child grooming yang dilakukan Roby, yang memiliki selisih usia 11 tahun dengannya.
Saat itu, Ketua KPAI Hadi Supeno menyatakan bahwa laporan tersebut masih dalam tahap analisis dan memerlukan keterangan dari berbagai pihak terkait.
Namun hingga kini, proses tersebut dinilai tidak pernah memberikan kejelasan hasil yang pasti.
Sebelumnya, Aurelie dan sang ibu juga sempat mengadu ke Komnas Perlindungan Anak yang dipimpin Seto Mulyadi, tetapi upaya mediasi yang dilakukan pun tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
Kontroversi semakin memuncak setelah Aurelie menyebut bahwa pernikahannya dengan Roby tidak sah secara hukum maupun moral.
Ia mengklaim Roby menyuap pihak gereja agar pernikahan tersebut dapat dilangsungkan.
Menurut penuturannya, Roby mendatangi banyak gereja karena pernikahan tidak dapat dilakukan tanpa kehadiran orang tua mempelai perempuan.
Hingga akhirnya, ditemukan sebuah gereja yang bersedia menikahkan mereka tanpa memenuhi syarat umum, tanpa kehadiran orang tua, dan tanpa pencatatan sipil.
Aurelie juga mengungkap bahwa proses tersebut melibatkan pembayaran uang dalam jumlah besar.
Ia menyebut Roby harus mengeluarkan puluhan juta rupiah demi melangsungkan pernikahan tanpa melalui prosedur pembekalan pernikahan sebagaimana mestinya.
Lewat Broken Strings, Aurelie tidak hanya membagikan kisah pribadinya, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang bahaya child grooming dan relasi tidak sehat.
Memoar ini diharapkan dapat menjadi pengingat sekaligus pembelajaran bagi masyarakat agar lebih peka terhadap tanda-tanda eksploitasi dan kekerasan psikologis, terutama yang menimpa anak dan remaja.
Aurelie mengaku sangat terbuka jika suatu hari Broken Strings diangkat ke format film atau limited series.
Menurutnya, adaptasi visual dapat memperluas jangkauan pesan emosional yang ingin disampaikannya kepada publik.
“Aku sih senang banget kalau suatu hari Broken Strings bisa diadaptasi jadi film atau limited series, biar impact-nya bisa lebih luas,” ujar Aurelie dalam siaran broadcast di Instagramnya, dikutip Senin (12/1/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa ketertarikan tersebut datang dari lebih dari satu rumah produksi.
Bahkan, ada satu pihak yang membuatnya cukup terkejut.
Meski demikian, Aurelie memilih untuk belum mengungkapkan detailnya ke publik.
“Ada beberapa PH yang tertarik. Ada satu yang aku nggak sangka-sangka, tapi belum bisa spill. Takut jinx,” katanya sambil tertawa.
Walau prosesnya masih berjalan dan belum ada kepastian resmi, Aurelie mengaku sangat antusias dan berharap rencana adaptasi ini bisa terwujud dengan baik.
Ia pun meminta dukungan dan doa agar seluruh proses ke depan berjalan lancar tanpa hambatan.
Broken Strings sendiri dikenal sebagai karya dengan muatan emosi yang kuat serta karakter yang kompleks, sehingga dinilai memiliki potensi besar untuk diterjemahkan ke dalam medium visual.
Jika benar-benar terealisasi, adaptasi ini diyakini dapat menjadi langkah baru yang penting bagi perjalanan kreatif Aurelie Moeremans di industri film dan serial Indonesia.
(TribunTrends.com/Serambinews))