Pertama, upaya keras petugas pemadam kebakaran bersama warga di kawasan Kampuang Pinang, Kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, akhirnya membuahkan hasil.
Kobaran api yang melalap dua unit rumah di dekat rel jembatan Tamsis tersebut dinyatakan padam pada Senin (12/1/2026) malam.
Kedua, di bawah jembatan Ujung Tanah, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, sisa-sisa amuk banjir bandang beberapa waktu lalu tak lagi menyisakan trauma pilu.
Alih-alih pemandangan lara, hamparan pasir yang dibawa arus deras kini menyulap aliran sungai menjadi destinasi wisata dadakan yang memikat hati warga.
Ketiga, upaya pemulihan akses transportasi yang menghubungkan Kelurahan Kapalo Koto dengan Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mulai menunjukkan titik terang.
Pasca-terputus akibat terjangan banjir bandang pada Jumat (2/1/2026) lalu, kini pengerjaan perbaikan infrastruktur jalan tersebut dilaporkan sudah hampir rampung sepenuhnya.
Baca selengkapnya berikut ini:
Upaya keras petugas pemadam kebakaran bersama warga di kawasan Kampuang Pinang, Kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, akhirnya membuahkan hasil.
Kobaran api yang melalap dua unit rumah di dekat rel jembatan Tamsis tersebut dinyatakan padam pada Senin (12/1/2026) malam.
Wartawan TribunPadang.com, Arif Ramanda Kurnia, menyaksikan pada pukul 20.40 WIB, api yang sebelumnya membubung tinggi sudah tidak terlihat lagi.
Meski demikian, kepulan asap tipis masih muncul dari sisa-sisa reruntuhan bangunan yang hangus terbakar.
Baca juga: Dua Rumah Hangus Terbakar di Kampung Pinang Padang, Damkar: Kondisinya Rusak Berat
Sejumlah petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang kini mulai tampak berbenah.
Para petugas terlihat menggulung selang dan merapikan peralatan setelah berjibaku melawan si jago merah sejak sekitar pukul 20.00 WIB.
Proses pemadaman ini melibatkan sedikitnya tiga unit mobil armada Damkar.
Kecepatan petugas dalam melokalisir api sangat krusial, mengingat lokasi kebakaran berada di area padat penduduk dengan jarak antar rumah yang sangat rapat.
Seorang warga setempat, Yulida, memberikan kesaksian mencekam terkait awal mula munculnya api.
Rumah Yulida sendiri terletak sangat dekat dengan titik kebakaran, sehingga ia sempat merasakan kepanikan yang luar biasa.
Menurut Yulida, musibah kebakaran tersebut diperkirakan terjadi sesaat setelah berkumandangnya azan Isya.
Baca juga: Update Kebakaran Kampung Pinang Padang, Petugas Berpacu dengan Api dan Angin
Suasana malam yang tenang tiba-tiba berubah menjadi gawat ketika ia mendengar suara keras dari arah rumah tetangganya.
"Tadi saya mendengar ada suara ledakan sampai tiga kali. Karena kaget, saya langsung lari keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi," ujar Yulida saat diwawancarai di lokasi kejadian.
Saat berada di luar, Yulida mengaku syok melihat api sudah dalam kondisi besar dan asap hitam pekat membubung tinggi ke langit.
Kobaran api tersebut dengan cepat melahap struktur bangunan rumah yang berada tepat di pinggir rel jembatan Tamsis.
Khawatir api akan merembet ke hunian miliknya, Yulida sempat berusaha menyelamatkan barang-barang berharga dari dalam rumah.
“Sempat mengamankan barang-barang juga tadi, karena takut sekali rumah ikut terbakar, apalagi posisinya sangat dekat," tambahnya.
Selama proses pemadaman berlangsung, warga sekitar juga tampak aktif membantu petugas Damkar.
Baca juga: Breaking News: Kebakaran Hebat Landa Jati Kampung Pinang Padang Timur
Mereka bahu-membahu mengarahkan petugas menuju titik air dan membantu mengatur kerumunan masyarakat yang memadati lokasi kejadian.
Pihak kepolisian yang berjaga di lokasi juga terus melakukan pengamanan guna memastikan situasi tetap terkendali.
Polisi membatasi area agar warga tidak terlalu dekat dengan bangunan yang baru saja padam demi alasan keamanan.
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih dalam tahap penyelidikan pihak berwenang.
Alam selalu punya cara misterius untuk mengobati lukanya sendiri.
Di bawah jembatan Ujung Tanah, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, sisa-sisa amuk banjir bandang beberapa waktu lalu tak lagi menyisakan trauma pilu.
Alih-alih pemandangan lara, hamparan pasir yang dibawa arus deras kini menyulap aliran sungai menjadi destinasi wisata dadakan yang memikat hati warga.
Baca juga: Kafe Estetik dan Hits di Kota Padang, Cocok untuk Nongkrong dan Foto-foto
Saat Wartawan TribunPadang.com, Arif Ramanda Kurnia, berkunjung pada Senin (12/1/2026) petang, langit di atas Lubuk Begalung mulai menyemburat jingga.
Cahaya matahari yang kian melunak memantul di atas permukaan air sungai yang jernih, menciptakan gradasi warna yang menenangkan mata.
Terdengar tawa riuh anak-anak memecah kesunyian sore yang biasanya hanya diisi bising kendaraan.
Bagi warga setempat, fenomena ini adalah berkah di balik musibah yang tak terduga.
Banjir bandang yang sebelumnya menerjang memang sempat mencemaskan, namun material sedimen pasir dalam jumlah besar yang tertinggal justru menciptakan lansekap baru.
Baca juga: 5 Rekomendasi Tempat Makan Strategis bagi Mahasiswa UNAND
Sekilas, suasana di sana menyerupai tepian pantai alami, lengkap dengan pasir yang lembut di bawah pijakan kaki.
Di sudut lain, beberapa pasang muda-mudi sibuk mengatur sudut kamera ponsel mereka untuk mengabadikan momen.
Latar belakang aliran sungai yang jernih dengan bingkai langit senja yang estetis menjadi magnet bagi mereka yang haus akan konten media sosial.
Berswafoto di "Pantai Ujung Tanah" kini seolah menjadi agenda wajib bagi warga kota yang rindu akan ruang terbuka hijau.
Kejernihan air sungai di lokasi ini memang patut diacungi jempol dan menjadi buah bibir.
Di sepanjang pinggiran sungai yang berpasir, kini berjajar pedagang kaki lima yang menjajakan aneka penganan sederhana namun menggugah selera.
Aroma bakso bakar yang gurih sesekali tertiup angin sore, menggoda selera para pengunjung yang baru selesai berenang.
Kerupuk mie dengan siraman kuah sate yang pedas dan kental menjadi primadona kuliner di tepian sungai ini.
Selain itu, aneka minuman dingin juga laris manis diburu warga yang ingin menyegarkan tenggorokan setelah beraktivitas di bawah sisa panas matahari.
Keberadaan para pedagang ini memberikan nuansa keramaian yang positif dan hidup bagi lingkungan sekitar.
Menurut Ujang, salah seorang warga lokal, kondisi ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang cenderung keruh.
Sungai yang dulunya mungkin terabaikan, kini tampak lebih sehat dan sangat mengundang siapa saja untuk sekadar membasuh diri atau berenang.
Perubahan kualitas air ini bukan terjadi tanpa alasan yang mendasar.
Baca juga: Jelajahi Keindahan Alam Kota Padang, Ini 5 Destinasi yang Bisa Dikunjungi
Ujang bercerita bahwa salah satu faktor pendukung utama adalah berhentinya aktivitas pabrik karet yang berada di sekitar lokasi.
Tanpa adanya lagi buangan limbah industri yang mencemari aliran, ekosistem sungai perlahan pulih dan air kembali bening tanpa aroma yang menyengat.
"Sekarang sungainya jauh lebih bersih, airnya terasa segar sekali di kulit. Tidak ada lagi limbah, jadi orang-orang tidak ragu lagi untuk mandi-mandi di sini setiap sore," ujar Ujang sembari memperhatikan kerumunan pengunjung yang kian ramai memadati area pinggiran sungai.
Daya tarik utama tempat ini, selain keindahannya yang alami, adalah masalah aksesibilitasnya bagi semua kalangan.
Wisatawan tidak perlu merogoh kocek untuk biaya masuk maupun retribusi parkir yang seringkali memberatkan.
Di tengah himpitan ekonomi perkotaan, hiburan gratis yang berkualitas seperti ini menjadi oase bagi masyarakat yang membutuhkan penyegaran.
Ovi, salah seorang pengunjung yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana, mengaku sangat terkesan dengan transformasi sungai ini.
Baca juga: Wisata Puncak Pato Punya Spot Foto Menarik, Bisa Berkemah dengan Pemandangan Danau Singkarak
Ia sengaja datang bersama keluarga kecilnya untuk menghabiskan waktu luang di awal pekan.
Baginya, Ujung Tanah menawarkan paket lengkap pemandangan bagus, air bersih, dan tentu saja sangat ramah di kantong.
"Tempatnya bagus sekali, anak-anak juga puas bermain air sampai tidak mau pulang. Jarang ada tempat wisata di tengah kota yang sealami ini dan benar-benar tidak dipungut biaya sedikitpun," kata Ovi dengan nada puas sembari mengawasi buah hatinya yang sedang asyik berenang.
Tak jauh dari posisi Ovi, terlihat Rian seorang mahasiswa yang mengabadikan momen.
Bagi Rian, tempat ini menjadi lokasi pelarian singkat yang efektif dari penatnya rutinitas di Kampus.
"Saya baru tahu dari media sosial kalau ada tempat senyaman ini di Lubuk Begalung. Ternyata benar, suasananya tenang sekali untuk sekadar melepas lelah," ungkap Rian.
Ia menilai, kehadiran wisata sungai ini menjadi alternatif yang sangat menyegarkan bagi warga yang mulai bosan dengan suasana mal.
Baca juga: Kunjungan Wisata Pasir Jambak dan Pantai Air Manis Menurun Saat Libur Nataru di Padang
Kehadiran para pelancong lokal ini secara otomatis menggerakkan roda ekonomi warga sekitar yang sempat lesu.
Warga lokal yang sebelumnya menggantungkan hidup pada sektor lain, kini mulai beralih menjadi pelaku UMKM dadakan demi menyambung hidup.
Menjelang pukul 18.00 WIB, arus pengunjung justru tampak belum menunjukkan tanda-tanda akan surut dari lokasi.
Justru saat matahari hampir tenggelam sepenuhnya, suasana di tepian sungai menjadi semakin syahdu dan tenang.
Baca juga: Imigrasi Padang Catat 44.433 Permohonan Paspor Sepanjang 2025, Didominasi Wisata dan Umrah
Wisata Sungai Ujung Tanah bukan sekadar tempat untuk mandi-mandi atau bermain air semata bagi warga Padang.
Ia adalah simbol daya lenting masyarakat dan bukti nyata bagaimana alam mampu memulihkan diri pasca dihantam bencana hebat.
Dari endapan pasir sisa banjir, lahir sebuah ruang publik yang mempersatukan warga dalam kebahagiaan yang sangat sederhana.
Upaya pemulihan akses transportasi yang menghubungkan Kelurahan Kapalo Koto dengan Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, mulai menunjukkan titik terang.
Pasca-terputus akibat terjangan banjir bandang pada Jumat (2/1/2026) lalu, kini pengerjaan perbaikan infrastruktur jalan tersebut dilaporkan sudah hampir rampung sepenuhnya.
Berdasarkan pantauan Wartawan TribunPadang.com, Arif Ramanda di lokasi pada Senin (12/1/2026), kondisi jalan yang sebelumnya lumpuh total kini sudah mulai bisa dijajal oleh pengguna jalan.
Baca juga: Debit Air Sungai Kapalo Koto Mulai Surut, Jalan di Pauh Masih Terputus
Sejumlah kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, terlihat mulai melintasi jalur utama tersebut meski pengerjaan akhir masih terus dilakukan.
Di lokasi proyek, terlihat sedikitnya tujuh unit alat berat dikerahkan oleh pihak terkait.
Alat-alat berat tersebut bekerja secara simultan, mulai dari menata kembali aliran sungai hingga memperkuat konstruksi badan jalan agar lebih tahan terhadap debit air yang tinggi.
Baca juga: Rumah Hanyut Tak Berbekas, Korban Banjir Batu Busuk Kini Belajar di Gedung Diklat PT Semen Padang
Meski akses utama sudah mulai terbuka, arus lalu lintas belum sepenuhnya lancar.
Keberadaan alat berat yang tengah beroperasi di tengah jalan membuat sebagian pengendara harus ekstra sabar dan bergantian untuk lewat.
Beberapa pengendara bahkan sesekali masih memilih menggunakan jalur darurat apabila pergerakan alat berat sedang menutup seluruh badan jalan utama.
Hal ini dilakukan demi menghindari kemacetan panjang di titik perbaikan.
Baca juga: Jalan Kapalo Koto–Lambung Bukit Putus, Warga dan Kelurahan Buka Akses Darurat Jalan Setapak
Nurbaida, salah seorang warga yang bermukim tepat di dekat lokasi jalan putus, mengonfirmasi bahwa progres pengerjaan berjalan sangat cepat.
Ia merasa lega melihat akses yang menjadi urat nadi warga sekitar itu kini hampir pulih kembali.
"Jalan ini sudah diperbaiki dan sekarang sudah hampir siap. Motor dan mobil bahkan sudah ada yang lewat, tapi memang harus sabar karena masih ada alat berat yang bekerja di sana," ujar Nurbaida.
Menurut Nurbaida, pulihnya jalan ini sangat dinantikan oleh masyarakat luas.
Jika akses tersebut kembali normal 100 persen, ia yakin roda perekonomian warga yang sempat tersendat akan kembali membaik karena mobilitas barang dan jasa menjadi lebih lancar.
Selain itu, kembalinya akses jalan utama ini memudahkan penyaluran bantuan bagi warga terdampak bencana.
Sebelumnya, para relawan dan pihak pemberi bantuan sempat mengalami kendala logistik akibat terputusnya jalan penghubung tersebut.
Sebelumnya selama masa perbaikan, warga setempat terpaksa berjibaku melintasi jalur darurat yang ekstrem.
Baca juga: Akses Lumpuh Akibat Jalan Kapalo Koto–Lambung Bukik Putus 15 Meter, BPBD Pastikan Tak Ada Korban
Jalur alternatif yang sempit itu dibuat secara swadaya oleh masyarakat dengan memanfaatkan halaman rumah-rumah warga sekitar agar tetap bisa beraktivitas.
Medan pada jalur darurat tersebut dikenal sangat berisiko.
Selain permukaannya yang dipenuhi bebatuan licin, lebarnya yang sangat terbatas memaksa pengendara sepeda motor untuk menerapkan sistem buka-tutup secara alami karena tidak bisa berpapasan.
Lurah Kapalo Koto, Afri Warman, menjelaskan bahwa musibah jalan putus ini merupakan dampak langsung dari cuaca ekstrem yang melanda Kota Padang sejak pergantian tahun.
Intensitas hujan yang luar biasa tinggi memicu luapan Sungai Batang Kuranji.
Baca juga: Jalan Kapalo Koto–Lambung Bukit Putus, Warga dan Kelurahan Buka Akses Darurat Jalan Setapak
Afri mencatat bahwa kenaikan debit air yang masif mulai terjadi sejak Kamis (1/1/2026) sore, hingga akhirnya mencapai puncaknya pada Jumat dini hari dan menghantam konstruksi jalan hingga terputus total.
Kini, dengan hampir selesainya perbaikan jalan utama, kekhawatiran warga akan keselamatan di jalur darurat mulai berkurang.
Warga berharap pengaspalan atau pengerasan jalan segera tuntas agar akses Kapalo Koto-Lambung Bukik dapat digunakan secara optimal kembali. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)