Oleh: Bachtiar Adnan Kusuma
Ketua Forum Perkumpulan Penerima Penghargaan NJDP Perpustakaan Nasional
TRIBUN-TIMUR.COM - BEBERAPA waktu lalu, penulis diundang Perpustakaan Nasional menjadi pembicara di Road Show Duta Baca Indonesia di Auditorium UIN Alauddin, Samata Gowa.
Penulis didaulat menjadi pembicara Epilog dan pembicara Prolog Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional Dr. Adin Bondar, M.Si. disusul Pembantu Rektor I UIN Alauddin Prof.Dr. H.Kamaluddin Abunawas, M.A., Akademisi Dr. Wahyuddin Halim dan Pustakawan Ahli Utama Abdullah, diikuti ratusan mahasiswa dan pustakawan serta pegiat literasi.
Benarkah membaca itu sehat dan menulis itu hebat? Penulis mencoba melakukan tiga pendekatan untuk membedah tagline Membaca itu sehat dan menulis itu hebat.
Pertama, mengutip pernyataan salah seorang psikolog terkemuka Amerika Serikat, James W. Pennebaker, menegaskan kalau menulis ekspresif kaitannya dengan kesehatan fisik dan mental.
Pennebaker meminta orang lain menulis tentang pengalaman traumatis atau tekanan emosional dan menunjukkan tindakan menulis dapat menghasilkan manfaat kesehatan yang signifikan.
Penulis menarik pelatuk kalau membaca dan menulis seperti dua keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Membaca semudah menulis dan menulis semudah membaca.
Kedua, mengutip salah satu penelitian yang dilakukan LSM di bidang kesehatan masyarakat di Inggris menunjukkan bahwa orang yang tidak bisa membaca dan menulis berpotensi mengindap demensia.
Penelitian yang dipimpin penulis Jennifer J Manly dari Universitas Columbia, sekolah dokter ahli bedah Vagelos dan diterbitkan Jurnal American Academy of Neurology, menegaskan kalau demensia memiliki karakteristik seperti kehilangan ingatan kronis, perubahan kepribadian atau ganggaun nalar. Demensia acapkali menyerang orang tua.
Apa yang dikemukakan Pennebaker dan Jennifer J Manly, penulis menghubungkan pengalaman faktual dengan guru bahasa Inggris penulis semasa di Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial Negeri Ujungpandang (SMPS) yaitu almarhumah Dra Hj. Is Fachrudin, istri pendiri Fakultas Pertanian Unhas dan Rektor Unhas, Prof.Dr.I.H.Fachrudin.
Di usia senja Dra Hj. Is Fachrudin (70-an sebelum wafat) masih saja tetap mengendari sendiri kendaraan roda empat tanpa menggunakan supir.
Di usia senjanya, Dra Hj. Is Fachrudin masih aktif terlibat di berbagai majelis taklim di kota Makassar.
Suatu ketika penulis bertanya kepada Dra Hj. Is Fachrudin, apa yang membuat ibu tidak menggunakan kacamata dan masih kuat mengendarai sendiri mobil?
Dra Is Fachrudin menjawabnya, tatkala di usia SMP menjelang memasuki Sekolah Guru Agama (SGA) di Cisadane Bogor. Ia rajin membaca buku-buku agama dan novel sebagai kegiatan rutinnya setiap hari.
Dan inilah yang membuat diri almarhum Hj. Is Fachrudin tetap sehat karena tidak memakai kacamata membawa mobil sendiri dan terhindar dari penyakit demensia karena efek kebiasaan membaca buku semasa remaja.
Membaca adalah sehat. Dan siapa yang tidak membaca buku dalam satu detik, maka sama halnya kembali menjadi buta aksara (buta literasi). Bacalah sebelum engkau dibacakan di dinding kuburmu!
Ketiga, menulis itu Hebat. Siapa yang menulis, maka akan dikenang dalam sejarah.
Para ulama besar kita telah menunjukkan contoh yang baik dengan menulis buku.
Misalnya saja, Imam Alghazali menulis Kitab Ihya Ulumuddin menjadi buku tuntunan umat Islam bagaimana menunaikan shalat dengan benar.
Demikian pula, Ibnu Sina menulis buku tentang kedokteran Islam berjudul “Assyifa “, Ibnu Batutah seorang pengelana dunia menulis buku “Rihla Ibnu Batutah”, Buya Hamka menulis “Tafsir Al-Azhar”, Ali Yafie menulis buku “Fiqhi Sosial” dan Bey Arifin dengan bukunya “Samudera Alfatiha”.
Tokoh-tokoh ini telah menjadi teladan mulia, kendatipun telah meninggak dunia, namun buku-bukunya masih tetap bersemayam dalam kalbu pembacanya.
Keempat, Merawat dan Menjaga tradisi literasi kita, jauh lebih sulit mempertahankan daripada memulainya.
Istilah merawat berarti menjaga, memelihara apa yang telah dilakukan dan telah menjadi kebiasaan, agaknya sulit dilupakan.
Kata kuncinya, dibutuhkan tekad yang kuat, komitmen atas apa yang telah menjadi janji diri kita untuk menjadi kegiatan berkelanjutan.
Nah, sikap mempertahakan kebiasaan yang telah menjadi tradisi adalah kerja keras seseorang untuk merawat diri sendiri, baik secara fisik maupun mental, agar tubuh dan pikiran tetap sehat.
Caranya melakukannya betapapun sulit, karena bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari.
Self care merupakan bagian dari self love atau bentuk mencintai diri sendiri. Demikian pula, siapa yang selalu dihinggapi rasa malas, maka sukses pasti selalu menjauh dari dirinya.
Selain malas mempertahankan tradisi literasi yang sehat dengan membaca rutin dan menulis setiap hari, juga bentuk perlawanan terhadap rasa malas yang diartikan sebagai sikap keengganan seseorang melakukan sesuatu yang mestinya harus dilakukan, malas juga adalah sikap tak disiplin, suka menunda waktu, tidak tekun.
Pendeknya, malas tabiat manusia yang harus dilawan dan dihilangkan.
Penulis mengutip buku 17 Jurus Gemar Membaca, Halaman 75-79 yang diterbitkan GPMB Sulsel-Yapensi, 2013 yang merupakan karya penulis bersama Ama Saing, menegaskan kalau rasa malas sesungguhnya merupakan sejenis penyakit mental dan menerima apa adanya.
Mengapa disebut budaya menerima apa adanya? Karena rasa malas bisa menimbulkan sifat buruk dan merugikan masa depan seseorang.
Karena itu, jujur harus diakui bahwa sifat malas atau suka menunda waktu salah satu penyakit yang berlawanan dengan kehidupan seorang penulis.
Seorang penulis melahirkan karya tulis yang baik kalau mereka tekun dan rajin terus menerus mengasah otaknya membaca dan menulis.
Rasa malas menggambarkan hilangnya semangat seseorang melakukan pekerjaan maupun apa sesungguhnya yang dicita-citakan.
Pertanyaannya, bagaimana cara mempertahankan tradisi membaca menulis kita agar tidak berdamai dengan rasa malas?
Membuat tujuan. Biasanya orang malas karena tidak punya tujuan hidup, akibatnya motivasi menghadapi hidup semakin kerdil.
Sementara orang yang punya garis hidup dan tujuan jelas, mereka memiliki motivasi tinggi untuk mencapai tujuan atau cita-cita hidupnya.
Caranya dengan memulai merintis komitmen apa yang ingin dicapai dan mempertahankan apa yang telah dicapai.
Mengasah kemampuan. Orang yang punya tujuan hidup, mereka pasti membuat resolusi dan janji komitmen untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Kuncinya, karena mereka punya motivasi yang tinggi untuk mencapai cita-citanya.
Bergaul dinamis dan disiplin diri. Carilah teman sebanyak-banyaknya dengan bergaul dan berdiskusi. Namun kuncinya memulai dan melakukannya dengan membaca dan menulis. Lakukan....