TRIBUNNEWS.COM – Buku Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti siswa kelas 10 SMA halaman 206 membahas tentang hikmah kisah inspiratif.
Kisah inspiratif yang dibahas berjudul 'Kisah Paku dan Sebatang Balok Kayu'.
Para siswa diminta mengerjakan soal pada Aktivitas 8.3 halaman 206 pada buku PAI dan Budi Pekerti Kelas 10.
Buku pelajaran PAI dan Budi Pekerti Kelas 10 Kurikulum Merdeka merupakan karangan Ahmad Taufik dan Nurwastuti Setyowati terbitan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2017.
Berikut Tribunnews sajikan kunci jawaban buku PAI dan Budi Pekerti kelas 10 halaman 206 "Aktivitas 8.3".
Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 133, Kegiatan 2: Pertunjukan Drama
Bacalah dengan cermat dan teliti kisah inspiratif berikut ini!
Lalu simpulkan dan tuliskan di buku kalian, hikmah apakah yang bisa kita petik dari kisah tersebut!
Kaitkanlah hikmah dari kisah tersebut dengan pengalaman hidup yang kalian alami!
KISAH PAKU DAN SEBATANG BALOK KAYU
Alkisah, tersebutlah seorang murid yang memiliki sifat temperamental, mudah marah dan kesulitan mengendalikan dirinya. Dia selalu mengalami kesulitan untuk mengontrol emosinya, bahkan selalu mudah marah dan berkata kasar hanya untuk kesalahan-kesalahan kecil orang lain yang membuatnya tersinggung. Hingga pada suatu hari ia dipanggil oleh gurunya. Sang guru merasa berkewajiban untuk menasehati dan menjadikan murid ini lebih baik akhlaknya, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.
Oleh sang guru, ia diminta untuk menyiapkan sebatang balok kayu, palu dan paku. Dan dengan pendekatan serta sentuhan hati yang tulus, guru itu pun meminta kepadanya, agar setiap kali ia marah, ia harus menancapkan satu buah paku ke balok kayu dengan menggunakan palu yang sudah disiapkan. Berapa kali pun marah, ia harus melakukan hal tersebut dengan paku-paku yang baru. Ia pun menerima nasihat dari gurunya dan bersedia melakukannya
Keesokan harinya, ia kembali dipanggil oleh sang guru di sekolah, dan ditanya, “dari kemarin sampai pagi ini sudah berapa buah paku yang engkau tancapkan di atas balok kayu itu?” Ia menjawab, “dua puluh, guru” jawabnya sambil menunduk malu. Dalam hati ia menyadari, ternyata hampir setiap satu jam ia marah kepada orang lain. Sang guru pun tidak berkomentar apa-apa, dan memintanya untuk kembali lagi minggu depan serta berpesan untuk terus melanjutkan kegiatan itu.
Satu minggu berlalu dan saatnya sang guru memanggilnya kembali. Dengan wajah berseri-seri, ia menghadap kepada gurunya dan berkata “terima kasih guru, karena nasihat yang guru berikan, yang tadinya satu hari saya menancapkan 20 buah paku, pelan-pelan mulai berkurang, dan dari kemarin hingga pagi ini saya sama sekali tidak menancapkan paku lagi”. Dan sang guru pun menjawab “bagus sekali nak. Kalau begitu, tugasmu selanjutnya adalah, setiap kali engkau berhasil menahan amarahmu, maka cabutlah satu paku yang engkau tancapkan sebelumnya. Setiap hari seperti itu, nanti engkau boleh kembali lagi setelah engkau berhasil mencabut semua paku di balok kayu itu”.
Hari demi hari berlalu, berganti minggu dan beberapa bulan kemudian murid itu pun kembali menghadap gurunya dengan wajah yang berseri-seri tetapi penuh dengan rasa penasaran. “Guru, saya telah mencabut semua paku seperti yang guru nasihatkan, setiap kali saya bisa mengendalikan amarah saya, dan saat ini semua paku sudah berhasil saya cabut” lapornya.
“Luar biasa sekali anakku. Tentu tidak mudah bagimu untuk melakukan apa yang aku sarankan. Dan sekarang, bolehkan aku bertamu ke rumahmu dan melihat paku-paku dan balok kayu itu?” Ia menjawab dengan cukup penasaran “baiklah guru, tapi kalau boleh tahu, untuk apa guru melihat paku-paku dan balok kayu itu?” “Nanti kamu juga akan tahu” jawab sang guru.
Kemudian guru dan murid itu pun beriringan menuju ke rumah sang murid dan kemudian melihat balok kayu yang sudah bersih dari tancapan paku, tetapi balok kayu itu terlihat buruk karena bekas-bekas lubang paku yang dicabut. Lalu sang guru berkata “anakku, engkau sudah melakukan hal yang luar biasa dengan menahan amarahmu. Tapi engkau juga harus tahu, bahwa ada akibat yang engkau timbulkan dari amarahmu selama ini. Ketika engkau marah dan meluapkan emosimu dengan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati orang lain, maka hal itu seperti kiasan paku yang menancap di balok kayu ini. Tidak ada bedanya kemarahan yang disengaja, maupun kemarahan yang spontan, semuanya sama-sama berakibat buruk bagi orang lain” kata sang guru dengan penuh bijaksana.
“Anakku, tidak cukup bagimu hanya menyesali, meminta maaf dan memohon ampunan kepada Allah Swt. atas apa yang pernah engkau perbuat. Permintaan maafmu kepada orang yang pernah engkau sakiti, ibarat engkau mencabut paku-paku itu dari balok kayu. Pakunya bisa dicabut, tetapi bekas lubang pakunya tidak bisa hilang. Demikian juga dengan sakit hati, barangkali orang lain bisa memaafkan, tetapi belum tentu ia bisa melupakan apa yang pernah kita lakukan kepadanya. Oleh karena itu, janganlah engkau meremehkan kata-kata buruk, emosi dan kemarahanmu kepada orang lain, karena luka yang disebabkan oleh kata-kata, sama sakitnya dengan luka fisik yang kita alami” pungkas sang guru. Murid itu pun menunduk dan menyadari sifat temperamental yang ia miliki selama ini, ternyata berdampak buruk bagi orang lain dan merugikan dirinya sendiri, dan ia pun berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik dengan mengendalikan amarah dan emosinya dalam kehidupan berikutnya.
Baca juga: Kunci Jawaban PKN Kelas 7 Halaman 167: Uji Kompetensi 6.3 tentang Otonomi Daerah dan NKRI
Hikmah dari Kisah “Paku dan Sebatang Balok Kayu” serta Kaitannya dengan Pengalaman Hidup
Hikmah yang dapat dipetik:
Kaitan dengan pengalaman hidup:
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengalami situasi yang memancing emosi, seperti berselisih dengan teman, keluarga, atau di lingkungan sekolah. Pernah saat emosi, kita berkata keras kepada teman dan setelahnya merasa menyesal. Meskipun sudah meminta maaf, hubungan tidak langsung kembali seperti semula. Dari pengalaman tersebut, kita belajar bahwa lebih baik menahan amarah dan berpikir sebelum berbicara, agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga lisan, mengendalikan emosi, dan bersikap sabar dalam menghadapi masalah.
Kesimpulan:
Kisah ini mengajarkan bahwa mengendalikan amarah adalah kunci terciptanya hubungan yang baik dengan sesama. Menjaga ucapan dan emosi sejak awal jauh lebih baik daripada harus menyesal di kemudian hari.
Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 131, Kegiatan 1: Pertunjukan Drama
Disclaimer:
(Tribunnews.com/Oktavia WW)