Habib Rizieq Shihab Kecam Pandji Pragiwaksono Soal Pilih Pemimpin yang Salat di Mens Rea: Penistaan!
January 13, 2026 08:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Habib Rizieq Shihab turut menyoroti lawakan Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan stand up comedy Mens Rea.

Mantan pemimpin Front Pembela Islam (FPI) menilai lawakan Pandji Pragiwaksono, yang menyinggung salat, adalah bentuk penistaan agama. 

Habib Rizieq Shihab menekankan umat Islam harus memilih pemimpin yang rajin salat dan menghindari olok-olok soal ibadah.

Hal itu disampaikan Habib Rizieq dalam ceramah di akun YouTube Islami Brotherhood Television, Selasa (13/1/2026).

"Ternyata dalam komedinya, dalam gurauannya, dalam candaannya, Saudara, dia bercanda juga soal salat, ini yang berat. Dia katakan, 'ada kelompok kalau pilih pemimpin, pokoknya pemimpin syaratnya nggak boleh bolong salatnya', orang ketawa, Saudara," kata Habib Rizieq Shihab.

"Loh memang kenapa kalau umat Islam mensyaratkan pemimpin itu harus salat, saudara? Itu kan ajaran Islam. Nggak boleh kita memilih pemimpin yang nggak salat, haram! Sepintar apa pun dia, sehebat apapun dia, Saudara, bergelar profesor, doktor, hebat mimpinnya, kita tahu dia tidak salat, haram. Itu ajaran Islam, jangan kau hina," tambahnya.

"Jadi kalau orang Islam wajib memilik pemimpin yang salatnya nggak bolong. Bagus tidak? Bagus tidak? Perlu tidak? Kalau orang Islam diolok-olok, dihina-hina tentang pilihannya, nggak boleh, Saudara," lanjutnya.

Habib Rizieq Shihab menegaskan salat sebagai benteng dari maksiat dan menekankan firman Allah terkait hal itu.

Ia meminta pelawak tidak berfatwa soal salat dan sebaiknya bertanya kepada ulama.

"Sudah disampaikan lagi 'Ah, salat itu nggak bolong, rutin salat, ternyata apa? Masih banyak yang korupsi, masih banyak yang maksiat'. Ini penghinaan terhadap Ayat Suci Al-Qur'an. Seolah-olah yang dia mau sampaikan pesan 'bohong kalau salat itu jadi benteng maksiat'. Dengan dalil banyak yang salat tetap maksiat, ada pejabat salat tapi tetap korupsi, itu dijadikan dalil. Jadi seolah-olah dikatakan nggak betul itu salat benteng dari maksiat," ucap Habib Rizieq Shihab.

"Saudara tunggu dulu, yang mengatakan salat benteng maksiat itu adalah Allah, Al-Qur'anul karim, Allah yang mengatakan, Saudara. Inna sholata tanha anil fahsyai wal munkar, itu firman siapa? Firman siapa? Berarti itu syiar atau bukan? Syiar Allah nggak? Apa boleh dihina? Apa boleh dicanda-candain? Apa boleh diolok-olokin? Nggak boleh. Hati-hati, Saudara," paparnya.

"Nah soal protes dia, 'loh tapi ada orang salat, ada korupsi', Saudara, Anda nggak usah berfatwa, Anda bukan ulama, Anda pelawak. Anda pelawak, Anda bukan ulama, jangan langsung mengambil kesimpulan," sambungnya.

"Tapi kalau Anda mau bertanya boleh, wajib, tanyakan kepada ahlinya, tanyakan kepada ulama, kalau kau bingung, kalau kau tak tahu, kenapa ada orang salatnya rajin tapi tetap korupsi, tanya kepada ulama, jangan kau belagu sok sebagai ulama," pungkasnya.

Baca juga: Dilaporkan Terkait Mens Rea, Pandji Pragiwaksono Siap Buka Kelas Humor: Saya Terangkan Lucunya

MENS REA PANDJI - Komika Pandji Pragiwaksono membuat pertunjukan stand up comedy spesial Mens Rea.
MENS REA PANDJI - Komika Pandji Pragiwaksono membuat pertunjukan stand up comedy spesial Mens Rea. (Instagram/@pandji.pragiwaksono)

Mens Rea Pandji Pragiwaksono

Pertunjukan stand up comedy spesial komika Pandji Pragiwaksono, Mens Rea, tayang di Netflix sejak 27 Desember dan menjadi viral.

Mens Rea berhasil menduduki peringkat pertama kategori TV Shows di Netflix pada Senin (5/1/2026).

Mens Rea viral karena materi Pandji Pragiwaksono yang kocak dan berani.

Dalam pertunjukan itu, Pandji banyak mengulas isu sosial dan politik yang sedang hangat.

Ia menghadirkan sudut pandang observasional yang tajam, lugas, dan berani.

Lewat materinya, Pandji mengkritik kekacauan dinamika politik setelah Pemilu 2024.

Perilaku dan sikap pejabat publik menjadi salah satu sasaran utama pembahasannya.

Sejumlah figur berpengaruh yang biasanya dianggap sensitif turut disentuh secara terbuka, termasuk Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, hingga Presiden Prabowo Subianto.

Topik-topik yang diangkat dipandang selaras dengan realitas demokrasi di Indonesia saat ini.

Seluruh gagasan tersebut dikemas dalam bentuk komedi satire yang cerdas.

Sajian humornya tidak sekadar memancing tawa, tetapi juga merangsang penonton untuk berpikir kritis.

Sebelumnya, Mens Rea telah dipentaskan dalam rangkaian tur ke 10 kota di Indonesia sepanjang tahun 2025.

Puncak acara Mens Rea oleh Pandji Pragiwaksono digelar di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, pada 30 Agustus 2025.

Acara itu memecahkan rekor sebagai pertunjukan komedi terbesar di Asia Tenggara dengan 10.000 penonton.

Acara ini telah tersedia di Netflix dan bahkan trending. 

Dalam konferensi pers pada April 2025, Pandji menegaskan bahwa pertunjukan ini dimaksudkan sebagai sarana edukasi politik melalui komedi.

“Ini bentuk edukasi politik lewat komedi.

Penginnya membuat orang lebih mengerti bahwa kita sebagai pelaku demokrasi itu seharusnya lebih pintar dan mawas diri,” ungkap Pandji Pragiwaksono dikutip dari KOMPAS.COM, Selasa (6/1/2026).

Setelah viralnya Mens Rea, ribuan massa dari berbagai organisasi kemasyarakatan Islam menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Jakarta pada Kamis, 8 Januari 2026.

Mereka mengaku berasal dari Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (AMNU) bersama Aliansi Muda Muhammadiyah (AMM).

Tak hanya itu, merek juga melaporkan Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan penghasutan dan penistaan agama.

Laporan ini teregister dengan nomor LP/B/166/I/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA.

Namun, baik Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama telah menegaskan bahwa kelompok yang mengatasnamakan Aliansi Muda Muhammadiyah dan Angkatan Muda NU bukan merupakan bagian resmi dari organisasi masing-masing.

Polda Metro Jaya mulai mendalami laporan tersebut dengan memeriksa pelapor dan meminta keterangan ahli untuk menilai materi yang dipersoalkan.

Pemeriksaan ini bertujuan mengkaji batas kebebasan berekspresi di ruang publik, khususnya dalam konteks seni.

Analisis ahli diperlukan untuk menilai sejauh mana ekspresi seni tetap sesuai aturan pidana.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.